Oleh: TH Khusus Makassar | 3 Januari 2010

TEKNIK PENYAJIAN DAN PENULISAN HADIS

TEKNIK PENYAJIAN DAN PENULISAN HADIS di Indonesia

Oleh: KM. Abdul Gaffar, S.Th.I

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Penelusuran sejarah terhadap penulisan dan penyajian hadis di Indonesia belum dilakukan secara sistematis. Hal ini bisa diduga disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama: kenyataan bahwa kajian hadis tidak seintens kajian keislaman yang lain, seperti al-Qur’an, fiqh, akhlak dan sebagainya. Kedua, kajian hadis, khususnya penulisan dan penyajian bisa dikatakan berkembang sangat lambat, terutama bila dilihat dari kenyataan bahwa para ulama Nusantara telah menulis di bidang hadis sejak abad ke-17.[1] Namun pada abad berikutnya, tulisan-tulisan tersebut tidak dikembangkan lebih jauh bahkan mengalami kemandekan hampir satu setengah abad lamanya.[2]

Sebenarnya, aktifitas ulama melayu-nusantara sudah diabadikan dalam karya syekh Sulaiman al-Kurdy (w.1780 M) yang berjudul al-durrah al-bahiyyah fî jawâb al-as’ilah al-jâwiyyah. Dan dalam catatan Sulaiman tersebut, kelompok ulama melayu yang berkiprah saat itu dinamakan al-Jamâ’at al-Jâwiyyin ( kelompok ulama-ulama jawa). Walaupun nisbat untuk daerah Jawa, namun anggotanya tak hanya berasal dari Jawa, melainkan meliputi seluruh kawasan nusantara dan bahkan Malaysia. Diantara Jama’ât al-Jâwiyyin tersebut ada nama Syekh Nuruddin al-Raniri, (Aceh) Syekh Yusuf al-Makassari, (Sulawesi) Abd. Rauf al-Falambani (Sumatera), Syekh Arsyad al-Banjari (Kalimantan) dan lain-lain.[3]

Pada abad ke XX hingga sekarang, berbagai karangan, baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Indonesia mulai bermunculan dari para ulama Indonesia seperti Muhammad Mahfudz al-Tirmasi, Mahmud Yunus, Hasbi al-Shddiqy, Abd Kadir Hassan, Muhammad Syuhudi Ismail, Fatchur Rahman hingga para cendekiawan dan fakar hadis yang bermunculan saat ini.

Ulama dalam menulis karya-karyanya menggunakan berbagai metode atau sistem, baik yang terkait dengan penulisan maupun yang terkait dengan penyajian. Di samping itu, dalam menulis karya-karyanya, para ulama juga banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, seperti latar belakang pendidikan, lingkungan dan kebutuhan masyarakat.

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan-pemaparan yang telah diuraikan dalam latar belakang masalah, dapat di buat beberapa poin rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Apa dan Bagaimana pengertian teknik penulisan dan penyajian hadis?
  2. Bagaimanakah bentuk-bentuk penulisan dan penyajian hadis di Indonesia?
  3. Factor-faktor apa saja yang mendorong penulisan dan penyajian hadis di Indonesia?

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Teknik Penulisan dan Penyajian Hadis

Sebelum menjelaskan tentang penulisan dan penyajian hadis di Indonesia, akan dijelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan teknik penulisan dan penyajian. Kata teknik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai cara atau kepandaian membuat sesuatu atau melakukan sesuatu, dan bisa juga diartikan sebagai sebuah metode atau sistem untuk mengerjakan sesuatu.[4] Sedangkan yang dimaksud dengan penulisan adalah proses atau cara menulis, sementara penyajian dimaksudkan dengan proses atau cara menyampaikan pemberitaan karangan atau makalah dan sejenisnya.[5]

Dengan melihat definisi yang tertera dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, penulis sedikit kesulitan dalam membedakan penulisan dan penyajian jika sudah dituangkan dalam tulisan, mana yang masuk rana penulisan dan mana yang masuk dalam rana penyajian, akan tetapi untuk menghindari kekaburan, penulis berusaha untuk membedakan antara penulisan dan penyajian dengan menitikberatkan penulisan pada aspek internal saja seperti sistematika penulisan, sedangkan penyajian lebih kepada eksternalnya seperti bentuk bahasanya, jenis objeknya dan lain-lain yang tidak terkait langsung dengan penulisan.

Oleh karena itu, teknik penulisan dan penyajian hadis adalah metode atau sistem yang digunakan ulama hadis dalam menulis dan menyampaikan karyanya yang dituangkan dalam bentuk tulisan.

Menulis pada dasarnya adalah mengungkapkan gagasan atau pikiran ke dalam bahasa tulis. Orang hanya mungkin menulis bilamana mempunyai bahan yang cukup di dalam pikirannya. Agar mempunyai bahan yang memadai, seseorang diharuskan banyak menyerap, baik melalui cara mendengar ataupun membaca tulisan orang lain. Semakin banyak seseorang tertuntut untuk menulis, semakin banyak pula ia harus sering mendengar dan membaca. Di sinilah letak hubungan antara menulis dengan bertambahnya pengetahuan dan wawasan.

Ada beberapa metode penulisan yang digunakan dalam penulisan hadis, antara lain adalah:

  1. Penulisan dengan model reproduksi, suatu penulisan yang bertolak dari suatu karya atau buku. Penulisan reproduksi terbagi dalam tiga bentuk tulisan, yakni ringkasan, saduran, dan resensi.
    1. Ringkasan adalah karya reproduksi untuk menyajikan karangan panjang dalam bentuk singkat. Dalam ringkasan, keindahan gaya bahasa, ilustrasi serta penjelasan yang rinci dihilangkan, sedangkan inti karangan dibiarkan tanpa hiasan. Walaupun dalam bentuk ringkas, namun tulisan ini tetap mempertahankan urutan fikiran, sudut pandang, bahkan proporsi bagian-bagian yang disajikan pengarang secara asli.
    2. Adapun resensi serupa dengan saudaran, hanya saja telah ditambah dengan ulasan mengenai nilai sebuah karya atau buku. Artinya, penulisan resensi harus memberikan penilaian terhadap karya atau buku yang diresensi.
    3. Saduran adalah menyajikan karya-karya terdahulu dengan menggabungkan berbagai macam buku yang menjadi referensi. Penulis saduran dapat langsung mengemukakan inti atau pokok masalah dan pemecahannya. Untuk ilustrasi, beberapa bagian atau isi dari beberapa bagian dapat diberikan untuk menjelaskan inti atau pokok masalah, sementara bagian yang kurang penting dapat diabaikan. [6]
    4. Penulisan dengan model orisinil, yakni karya ulama yang lebih banyak menulis dari pemikirannya sendiri di banding menyadur atau meringkas dari buku-buku ulama hadis sebelumnya.[7]
    5. Bentuk-bentuk Penulisan dan Penyajian Hadis

Bentuk-bentuk penulisan dan penyajian hadis di Indonesia dapat dikategorikan dalam beberapa bentuk. Di antara bentuk penulisan hadis di Indonesia di tinjau dari segi sistematika pembahasannya adalah sebagai berikut:

  1. Penulisan analisis (runutut berdasarkan bab-bab fiqhiyah) seperti yang dilakukan oleh ulama-ulama Hadis di Timur Tengah, yakni mengumpulkan hadis-hadis yang berhubungan dengan shalat umpamanya dalam bab al-shalah, hadis-hadis yang berhubungan dengan masalah wudhu dalam bab al-wudhu, dan sebagainya. Seperti yang dilakukan Hasbi al-Shiddiqy dalam salah satu karyanya yang berjudul 2002 Mutiara Hadis dan Koleksi Hadits-hadits Hukum.[8] Cara ini terbagi dua macam:
    1. Mengkhususkan hadis-hadis yang shahih saja, atau dhaif saja.
    2. Mencampuradukkan hadis-hadis, baik yang shahih maupun yang tidak.
    3. Penulisan berdasarkan nama tokoh-tokoh hadis seperti hadis Abu Hurairah, Imam Syafi’i dan tokoh-tokoh yang lain.[9]

Penulisan hadis di Indonesia di tinjau dari segi metode penulisannya, dapat dikelompokkan dalam beberapa kelompok sebagai berikut:

  1. Penulisan dalam bentuk ijmali

Kebanyakan karya-karya ulama hadis di Indonesia ditulis dalam bentuk yang ringkas dan global. Hal itu dilakukan sebagai bentuk pembelajaran materi, baik dalam bidang hadis maupun ilmu musthalah al-hadis. Dan jarang ditemukan ulama-ulama yang membahas secara terperinci.[10]

  1. Penulisan dalam bentuk tahlili

Ulama-ulama Indonesia yang berusaha untuk menjelaskan hadis secara mendetail dan terperinci dapat ditemukan jika ulama tersebut menjelaskan atau mensyarah buku-buku sebelumnya seperti yang dilakukan Syekh Yasin al-Fadani dengan mensyrah Sunan Abi Daud atau Muhammad Mahfudz al-Tirmasi (w. 1920 M) ketika mensyarah karya Imam al-Suyuthi yang berjudul al-Manzhumah.[11]

  1. Penulisan dalam bentuk tematik

Istilah maudhu’i (tematik) baru dikenal setelah Imam al-Farmawy memperkenalkan metode tersebut meskipun dalam bidang tafsir. Penulisan secara tematik dalam hadis baru dimulai pada akhir abad XX, tepatnya pada saat Prof. Dr. Harun Nasution membuka pascasarjana pada tahun 1982 hingga saat ini, seperti yang mulai dilakukan dalam penulisan skiripsi, tesis atau desertasi.

Sedangkan bentuk penyajian hadis di Indonesia dapat dikelompokkan dalam beberapa kelompok sesuai dengan tinjauan yang digunakan. Penyajian hadis ditinjau dari segi penggunaan bahasa, dapat dibagi dalam tiga bagian, antara lain:

  1. Penyajian dalam bentuk Bahasa Arab

Penyajian dalam bentuk ini, dilakukan oleh ulama-ulama Nusantara pada abad XIIV hingga abad XX seperti yang dilakukan oleh Syekh Nuruddin al-Raniri (w.1658 M) dengan judul al-Fawaid al-bahiyyah fi al-ahadist al-nabawiyyah.dan Syekh Yasin al-Fadani juga mengarang dalam bahasa Arab ketika mensyarah kitab hadis Sunan Abi Daud dengan judul al-dhur al-mandhud fi syarh sunan abî dawûd sebanyak dua puluh jilid akan tetapi dalam bahasa Arab.

Ulama hadis yang hidup pada Akhir abad XIX hingga abad XX masih juga menulis ulum al-hadis dalam bahasa Arab. Semisal yang dilakukan oleh Muhammad Mahfudz al-Tirmasi (w. 1920 M) dengan judul Manjaj Dzaw an-Nazhar, Syarh Manzhumah ‘Ilm al-Atsar, dan Mahmud Yunus (1899-1983 M) dengan judul Ilm Musthalahah al-Hadits.[12]

  1. Penyajian dalam bentuk bahasa Melayu

Sedangkan penyajian hadis dalam bahasa Melayu juga dilakukan oleh ulama-ulama yang hidup pada saat Indonesia masih bernama Nusantara. Ulama-ulama pada masa itu, disamping menulis dalam bahasa Arab juga menulis dalam bahasa Melayu sebagaimana yang diutarakan oleh Azyumardi Azra, khususnya Syekh Nuruddin al-Raniri.[13] Begitu pun yang dilakukan oleh syekh Abd Rauf al-Sinkily (w.1693 M).[14]

  1. Penyajian dalam bentuk Bahasa Indonesia

Sementara ulama-ulama hadis yang menyajikan dalam bahasa Indonesia yaitu ulama yang hidup pada awal abad XX hingga sekarang, khususnya setelah terjadinya sumpah pemuda pada tanggal 28 oktober 1928 M. seperti Hasby al-Shiddiqy (1904-1975) yang menyusun beberapa kitab-kitab hadis seperti Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. Begitu juga yang dilakukan oleh Abd Kadir Hasan (w. 1984) dengan judul Ilmu Musthalah al-Hadits dan Muhammad Syuhudi Ismail (w. 1997) dalam beberapa judul buku seperti Metodologi Penelitian Hadis Nabi, Kaidah Kesahehan Sanad, Hadits Nabi Yang Tekstual dan Kontekstual. Cara Praktis Mencari Hadis Nabi dan lain-lain.[15]

Penyajian hadis bila ditinjau dari klasifikasi ilmu, dapat diklasifisikan dalam dua kategori ilmu, yaitu:

  1. Hadis atau Ilm al-riwayah

Ilm al-riwayah yaitu ilmu yang membahas tentang sanad dan matan-matan hadis atau kandungannya. Di antara tulisan ulama yang khusus membahas hadis antara lain; Syekh Nuruddin al-Raniri dengan karyanya al-Fawaid al-bahiyyah fi al-ahadist al-nabawiyyah, Abd Rauf al-Singkily dengan Syarh Hadis al-Arba’in, 2002 Mutiara Hadits dan Koleksi hadits-hadits Hukum karya Hasbi al-Shiddiqy,[16] dan lain-lain.     

  1. Ilmu Hadis atau Ilm- al-Dirayah

yaitu yang membahas tentang riwayat, yang meliputi syarat-syarat, jenis-jenis dan hukumnya, para perawi hadis dan semua yang terkait dengannya.[17] Seperti karya Muhammad Mahfudz al-Tirmasi dengan judul Manjaj Dzaw an-Nazhar, Syarh Manzhumah ‘Ilm al-Atsar, dan Mahmud Yunus dengan judul Ilm Musthalahah al-Hadits. Dan lain-lain.     

Jika ditinjau dari materi pembahasan, penyajian hadis dapat digategorikan dalam beberapa kategori, antara lain:

  1. Penyajian hadis dalam bentuk syarh (Penjelasan)

Syekh Nuruddin al-Raniri (w.1658 M). seorang ulama Aceh sehingga namanya diabadikan sebaga nama sebuah perguruan tinggi di Aceh menulis hadis dengan judul al-Fawaid al-bahiyyah fi al-ahadist al-nabawiyyah.[18] Namun karyanya yang paling monumental adalah Bushtan al-shalatin ( taman para raja ). Selain karyanya ini, beliau juga menulis karya dalam ilmu fiqh yang berjudul al-shirat al-mustaqim.

Penyajian dalam bentuk ini juga dilakukan oleh Abd Rauf al-Sinkily (w.1693 M) melalui salah satu karyanya di bidang hadis yaitu syarh atau penafsiran al-Sinkily terhadap kitab Hadis al-Arba’in. Hal itu dapat terjadi karena guru yang paling berpengaruh terhadap pemahaman keagamaan al-Singkily adalah Ibrahim Abdullah Ja’man, seorang muhaddits dan faqih. Di samping itu dia juga seorang pemberi fatwa yang produktif. Seperti diuraikan Dr Azyumardi Azra dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, sebagian besar waktu Singkel dihabiskan untuk mempelajari ilm al-zhahir (pengetahuan eksoteris) seperti fiqih, hadits dan subyek lain yang terkait. Sementara guru Singkel yang lain, yakni Ishaq Muhammad Ja’man, terkenal sebagai muhaddits dan faqih di Bayt al-Faqih.[19] Syekh Yasin al-Fadani telah mensyarah kitab hadis Sunan Abi Daud dengan judul al-dhur al-mandhud fi syarh sunan abî dawûd sebanyak dua puluh jilid akan tetapi dalam bahasa Arab.[20]

  1. Penyajian hadis dalam bentuk reproduksi

Penulisan dalam bentuk reproduksi, adalah penulisan yang bertolak dari suatu karya atau buku, baik ringkasan, resensi maupun saudaran. Model semacam ini dapat ditemukan dalam sebahagian besar karya-karya ulama hadis di Indonesia[21] Sedangkan karya yang bersifat orisinil, maksudnya karya tersebut tidak pernah dibahas ulama sebelumnya jarang dijumpai dalam buku-buku hadis di Indonesia.

  1. Penyajian hadis dalam bentuk terjemahan

Penyajian hadis model ini berbeda dengan reproduksi karena model murni kegiatan menterjemahkan tanpa merubah susunan atau menguranginya. Penterjemahan akhir-akhir ini marak dilakukan karena menjadi kebutuhan umat Islam, khususnya mereka yang kurang atau tidak dapat membaca dan memahami kitab-kitab dalam bahasa Arab. buku-buku yang diterjemahkan lebih banyak dalam bentuk hadis dibandingkan dengan ilm hadis.[22] Di antara kitab-kitab hadis yang telah diterjemahkan adalah: al-Muwattha’ Malik karya Imam Malik bin Anas yang telah diterjemahkan oleh Dwi Surya Atmaja.[23] al-Lu’lu’ wa al-Marjan karya Muhammad Fu’ad Abd Baqy yang di terjemahkan oleh Salim Bahreisy dengan judul yang sama. dan kitab-kitab hadis yang lain.[24] sedangkan kitab-kitab ilm hadis yang telah diterjemahkan antara lain: al-Bayan wa al-Ta’rif fi Asbab Wurud al-Hadis al-Syarif karya Ibnu Hamzah al-Hanafi al-Dimasyqy diterjemahkan oleh Suwarta Wijaya dan Zafrullah Salim dengan judul Asbabul Wurud Latar Belakang Historis Timbulnya Hadis-hadis Rasul.[25]Ushul al-Hadis karya Muhammad Ajjaj al-Khatib dan kitab-kitab lainnya.

  1. Faktor-faktor yang mendorong penulisan dan penyajian hadis

Penulisan dan penyajian hadis oleh para ulama hadis diakibatkan oleh beberapa faktor yang dapat ditemukan dalam beberapa buku referensi, antara lain:

  1. Permintaan pemerintah sebagaimana yang dilakukan oleh Nur al-Din al-Raniri ketikan Kesultanan Aceh memintanya untuk menyusun sebuah buku panduan. Begitu juga yang dilakukan oleh Abd Rauf al-Singkily.[26]
  2. Kebutuhan dakwah adalah salah satu faktor yang dominan seorang ulama menulis kitab hadis seperti yang dilakukan oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.[27]
  3. Kebutuhan pembelajaran, karya ulum al-Hadis di Indonesia cenderung hanya untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran, khususnya bagi para pelajar, sedangkan karya hadis diperuntukkan bagi kalangan masyarakat umum.[28]
  4. Kebutuhan penelitian dan pengkajian, karya-karya yang bertujuan untuk ini dilakukan oleh para fakar hadis seperti yang dilakukan Muhammad Syuhudi Ismail, kajian-kajian kontemporer, baik terkait hadis maupun metodologinya.
  5. Penyelesaian studi, dilakukan oleh para mahasiswa yang menempuh pendidikan di bidang hadis, baik itu mahasiswa strata 1 maupun pascasarjana.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Merujuk pada pembahasan dalam makalah ini, penulis berusaha membuat kesimpulan dalam beberapa poin sebagai berikut:

  1. Teknik penulisan dan penyajian hadis adalah metode atau sistem yang digunakan para ulama hadis dalam menyusun atau menguraikan karya-karya dalam sebuah tulisan.
  2. Bentuk-bentuk penulisan dan penyajian hadis dapat dikelompokkan dalam beberapa kelompok berdasarkan tinjauannya. Penulisan ditinjau dari segi sistematika pembahasan, dapat dibagi dua yaitu: berdasarkan bab-bab fiqhi dan tokoh atau ulama hadis. Jika ditinaju dari metode penulisan, maka akan mencakup penulisan secara ijmali , tahlili dan tematik. Sedangkan penyajian hadis juga dapat dibagi berdasarkan tinjauannya. Di tinjau dari segi penggunaan bahasa, penyajian hadis dapat meliputi bahasa Arab, Melayu dan Indonesia. Bila di tinjau dari klasifikasi hadis maka akan mengarah pada masalah hadis (sanad dan matan) dan ilm hadis (ilm dirayah). Sementara tinjauan pembahasan akan menjadikan penyajian itu dalam 3 kategori yaitu syarh (penjelasan) hadis dan ilm al-hadis, saduran dan terjemahan.
  3. Faktor-faktor yang mendorong penulisan dan penyajian hadis oleh para ulama antara lain: Pertama, permintaan pemerintah sebagaimana yang dilakukan oleh al-Raniri al-Singkily atas permintaan kesultanan Aceh. Kedua, kebutuhan dakwah seperti yang dilakukan oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Ketiga, kebutuhan pembelajaran, seperti karya-karya ulum al-Hadis di perguruan tinggi. Keempat, kebutuhan penelitian dan pengkajian, khususnya yang terkait dengan ilm al-Hadis dan metodologinya. Kelima, penyelesaian studi yang dilakukan oleh para mahasiswa yang menempuh pendidikan di bidang hadis, mulai dari strata 1, strata 2 hingga strata 3.
    1. Implikasi

Berdasarkan pemaparan dalam tulisan ini, bahwa tulisan tentang hadis masih sangat terbatas, khususnya pada abad-abad pertengahan hingga modern sehingga menuntut setiap orang yang berkecimpung di bidang hadis untuk menyempurnakan atau melanjutkan estapet ulama-ulama hadis sebelumnya.

Merupakan tantangan tersendiri bagi pakar hadis saat ini untuk menciptakan pemahaman dan paradigma baru, baik yang terkait dengan ilm al-hadis maupun yang terkait dengan teks hadis itu sendiri.

Apa yang telah pelopori oleh al-Raniri, al-Sinkily, Syekh Arsyad al-Banjari, Mahmud Yunus, Hasbi al-Shiddiqy, Muhammad Syuhudi Ismail yang telah menjadi ulama-ulama yang produktif dalam berkarya selayaknya menjadi acuan dan motivasi tersendiri bagi kaum intelektual yang hidup saat ini dengan fasilitas yang serba modern dan sarana yang serba mudah. Semoga!!!

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Hadidul Fahmi, Kiprah Ulama Nusantara. Dikutip dari internet yang dimuat sejak tgl Selasa 18 November 2008.

Arifuddin Ahmad. Paradigma Baru Memahami Hadis Nabi. Jakarta: Renaisan, 2005.

Artikel “Menelusuri  Jejak Sunnah Firqatun Najiyah. 26 Juli 2008.

Artikel. Jalan Trabas. Sebuah Perjalanan Pintas Menuju Ikahi, Syekh Abd Rauf al-Singkel. Dilkutip dari internet tertanggal Jum’at 24 -11-2007.

Azyumardi Azra. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Bandung: Mizan, 2004.

Hasbi al-Shiddiqy. 2002 Mutiara Hadits. Jakarta: Bulan Bintang, 1980.

Ibnu Hamzah al-Hanafi al-Dimasyqy. al-Bayan wa al-Ta’rif fi Asbab Wurud al-Hadis al-Syarif, diterjemahkan oleh Suwarta Wijaya dan Zafrullah Salim dengan judul Asbabul Wurud Latar Belakang Historis Timbulnya Hadis-hadis Rasul. Jakarta: Kalam Mulia, 2007.

Malik bin Anas. al-Muwattha’ Malik. Dialihbahasakan oleh Dwi Surya Atmaja.  Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999.

Muhammad Ajjaj al-Khatib. Ushul al-Hadis. Bairut: Dar al-Fikr, 1409 H./1989 M.

Muhammad Dede Rudliyana. Perkembangan Pemikiran Ulum al-Hadits Dari Klasik Sampai Modern. Bandung: Pustaka Setia, Cet. I, 2004.

Studi Hadis di Indonesia. Dikutip dari internet dalam jurnal online tanpa taggal penerbitan.

Tim Penyusunan Kamus Puast Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1990.

www.tafsir-hadis.com. Artikel Dosen. Teknik Penulisan Resensi. 27 Oktober 2008.


[1]Studi Hadis di Indonesia (dikutip dari internet dalam jurnal online tanpa taggal penerbitan).

[2]Kafakuman itu terjadi karena beberapa factor, antara lain adalah tekanan dan penjajahan Belanda mencapai puncaknya pada abad ke XIIIV hingga awal abad ke XIX. Ulama dilarang untuk menyampaikan agama secara terbuka karena dapat mengganggu kekuasaan Belanda di Indonesi. Bukti riil akan tekanan penjajah itu terlihat dari pendirian beberapa pesantren-pesantren di pelosok desa untuk mendidik generasi dengan tenang tanpa tekanan dan jauh dari jangkauan penguasa dan penjajah.  Sementara pada abad ke XIIV khususnya di Aceh, kerajaanlah yang mendukung dan bahkan memerintahkan ulama untuk menyusun buku yang menjadi rujukan raja dan masyarakat. Baca: Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, (Bandung: Mizan, 2004) dari hal. 197 hingga 356.

[3] Ahmad Hadidul Fahmi, Kiprah Ulama Nusantara, dikutip dari internet yang dimuat sejak tgl Selasa 18 November 2008.

[4] Tim Penyusunan Kamus Puast Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1990) hal. 915

[5] Ibid. 968 dan 768.

[6] www.tafsir-hadis.com. Artikel Dosen, Teknik Penulisan Resensi, (27 Oktober 2008)

[7] Muhammad Dede Rudliyana, Perkembangan Pemikiran Ulum al-Hadits Dari Klasik Sampai Modern, (Bandung: Pustaka Setia, Cet. I, 2004) hal. 157

[8] Hasbi al-Shiddiqy, 2002 Mutiara Hadits, (Jakarta: Bulan Bintang, 1980).

[9] Ringkasan dari artikel “Menelusuri  Jejak Sunnah Firqatun Najiyah, (26 Juli 2008)

[10] Muhammad Dede Rudliyana, Op.Cit. 150-151

[11] Menurut penulis, karya Muhammad Syuhudi Ismail dalam masalah ulum a-hadis, khususnya yang membahas tentang kaedah kesahihan hadis dapat digolongkan sebagai sebuah karya yang terperinci karena mampu mengklasifikasi kaedah dalam dua bagian yaitu kaedah mayor dan minor yang tidak dilakukan oleh ulama sebelumnya. Lihat: Arifuddin Ahmad, Paradigma Baru Memahami Hadis Nabi (Jakarta: Renaisan, 2005) hal. 117

[12] Muhammad Dede Rudliyana, Op.Cit. 136-138.

[13] Azyumardi Azra, Op.Cit. hal. 228.

[14] Kiprah Ulama Nusantara, Op.Cit. Selasa 18 November 2008.

[15] Muhammad Dede Rudliyana, Op.Cit. 139-144.

[16] Hasbi al-Shiddiqy, Op.Cit. keseluruhan buku

[17] Muhammad Ajjaj al-Khatib, Ushul al-Hadis, (Bairut: Dar al-Fikr, 1409 H./1989 M.) hal. 7-8.

[18] Ibid. Selasa 18 November 2008

[19]Al-Sinkily sebenarnya juga punya karya tentang hadis yang berjudul al-Mawa’izh al-Badi’ah, sebuah koleksi hadis qudsi akan tetapi kedua buku tersebut tidak dalam bentuk percetakan sebagaimana yang diungkapkan oleh Azyumardi Azra. Lihat: Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, (Bandung: Mizan, 2004) hal. 250. Bahkan sepanjang hidupnya, tercatat Singkel sudah mengggarap sekitar 21 karya tulis, terdiri dari 1 kitab tafsir, 2 kitab hadits, 3 kitab fiqih dan selebihnya kitab ilmu tasawuf. Bahkan tercatat kitab tafsirnya yang berjudul Turjuman al-Mustafid (Terjemah Pemberi Faedah) adalah kitab tafsir pertama yang dihasilkan di Indonesia dan berbahasa Melayu. Baca: Jakan Trabas, Sebuah Perjalanan Pintas Menuju Ikahi, Syekh Abd Rauf al-Singkel. (dilkutip dari internet) Jum’at 24 -11-2007).

[20] Kiprah Ulama Nusantara, Op.Cit. Selasa 18 November 2008

[21] Untuk lebih jelasnya, lihat bagan atau tabel yang dibuat oleh Muhammad Dede Rudliyana, dalam bukunya Perkembangan Pemikiran Ulum al-Hadits Dari Klasik Sampai Modern, Op.Cit. 152-156.

[22] Menurut penulis, alasan yang mendasari kitab-kitab hadis lebih banyak diterjemahkan karena merupakan kebutuhan yang mendesak bagi seluruh kalangan, baik pelajar maupun masyarakat umum, sementara ilm al-hadis hanya dibutuhkan oleh kalangan yang berusaha mendalami hadis, khususnya kaum pelajar.

[23] Imam Malik bin Anas, al-Muwattha’ Malik. diterjemahkan oleh Dwi Surya Atmaja (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999)

[24]Sebagaian besar kitab-kitab asal telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, seperti Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan al-Turmudzi dan Sunan-sunan yang lainnya.

[25] Ibnu Hamzah al-Hanafi al-Dimasyqy, al-Bayan wa al-Ta’rif fi Asbab Wurud al-Hadis al-Syarif, diterjemahkan oleh Suwarta Wijaya dan Zafrullah Salim dengan judul Asbabul Wurud Latar Belakang Historis Timbulnya Hadis-hadis Rasul. (Jakarta: Kalam Mulia, 2007).

[26] Lihat: Azyumardi Azra: Op.Cit. 212 dan 228.

[27] Ibid. 319

[28] Muhammad Dede Rudliyana, Op.Cit. 157


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: