Oleh: TH Khusus Makassar | 3 Januari 2010

TAFSIR AL-JAWAHIR DAN METODOLOGINYA

TAFSIR AL-JAWAHIR  DAN METODOLOGINYA

oleh: KM. Abdul Gaffar, S.Th.I & KM. Sudirman, S.Th.I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Al-Qura’n al-Karim adalah Ma’dubatullah (hidangan ilahi) yang berfungsi sebagai hudan dalam memperdalam pemahaman dan penghayatan tentang Islam dan merupakan pelita yang dapat menerangi berbagai persoalan hidup. Bahasanya yang demikian mempesona, redaksi dan mutiara pesan-pesannya yang demikian agung telah meluluhkan kalbu masyarakat yang ditemuinya berdecak kagum walaupun nalar sebagian mereka menolaknya. Namun dewasa ini, masyarakat hanya berhenti dalam pesona bacaan seakan-akan kitab suci diturunkan hanya untuk dibaca.

Adalah kewajiban para ulama untuk memperkenalkan al-Qur’an dan menyuguhkan pesan-pesan yang tersimpan dalam kedalaman mutiara untaian kalimatnya. Dan menjelaskan nilai-nilai tersebut sejalan dengan perkembangan masyarakat sehingga al-Qur’an dapat benar-benar berfungsi sebagaimana mestinya. Mufassir juga dituntut untuk menghapus kesalahpahaman terhadap al-Qur’an, kandungan ayat-ayatnya dan pesan-pesannya agar dapat diterima dan diterapkan sepenuh hati dalam kehidupan pribadi dan masyarakat.

Perbedaan latar belakang pendidikan dan keilmuan para mufassir mengantarkan mereka pada perbedaan interpretasi terhadap al-Qur’an sekaligus mempunyai peranan penting bagi maju mundurnya umat. Penafsiran-penafsiran yang muncul mencerminkan perkembangan serta corak pemikiran mereka. Para mufassir yang masuk kategori  Mutaqaddimin (hidup sebelum tahun 300 H) memberikan interpretasi terhadap al-Qur’an berdasarkan penafsiran Rasulullah, sahabat dan tabi’in atau yang lebih dikenal dengan istilah tafsir bi al-Ma’tsur. Sedangkan kelompok Mutaakhirin (hidup setelah tahun 300 H) mencoba mengembangkan interpretasi terhadap al-Qur’an dengan menggunakan  pendekatan nalar atau logika. Meskipun tidak pernah membuang 100 % tafsir pendahulunya. Pada masa mutaakhirin inilah bermunculan kitab-kitab tafsir yang masing-masing memiliki corak dan warna yang berbeda dalam mengungkap pesan-pesan al-Qur’an, baik yang bercorak bi al-ma’tsur maupun yang berorientasi al-ra’yu (logika)

Salah satu tafsir yang muncul pada masa itu adalah Tafsir al-Jawahir. Tafsir al-Jawahir  meskipun disusun pada abad ke-9 Hijriyah, tetapi model penyusunannya tetap mengikuti pola-pola yang digunakan oleh para mufassir mutaqaddimin. Hal itu dilakukan oleh penyusun tak lepas dari latar belakang pendidikan dan krakteristik yang beliau miliki. Beliau sangat terkenal akan kezuhudan, kewara’an dan kewaliannya sehingga dalam memberikan interpretasi terhadap al-Qur’an tidak berani melakukan inovasi-inovasi baru sesuai dengan masanya. Walaupun demikian, Tafsir al-Jawahir masih layak untuk dikaji sebagai tambahan hazanah keilmuan para pemerhati al-Qur’an khususnya tafsir. 

  1. Rumusan Masalah

Melihat fenomena yang tertuang dalam latar belakang masalah, penulis mencoba memberikan rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Siapakah sebenarnya Al-Tsa’alaby itu ?
  2. Sejauh mana perbedaan tafsir bi al-Ma’tsur dengan tafsir bi al-ra’iy
  3. Metode apa yang digunakan oleh al-Tsa’alaby dalam penyusunan kitabnya dan kunggulan dan kekurangan apa yang dimilikinya?

BAB II            : PEMBAHASAN

  1. Biogarfi Al-Tsa’alaby

At-Tsa’alaby bernama lengkap Abu Zaid, Abd Rahman bin Muhammad bin Makhluf ats-Tsa’alaby al-Jazairy al-Maghraby, seorang Imam yang alim, ‘amil, zuhud, wara’ dan menjadi pengikut madzhab Maliki, beliau lebih dikenal sebagai salah satu waliyullah yang kurang menghiraukan urusan dunia. Beberapa guru mereka memuji akan keilmuan, agama dan kesalehannya. Saat kembali dari timur tengah, beberapa penduduk Maroko berkata padanya “Engkau adalah tanda dalam ilmu hadis” Beliau meninggalkan kampungnya, al-Jazair untuk mencari ilmu pada akhir abad ke-8 hijriah menuju beberapa negara seperti Jayah, Tunis, Mesir kemudian kembali ke Tunis lagi. Beliau pernah bercerita tentang keberadaan dirinya di Tunis seraya berkata  “Tak seorangpun ulama yang tidak aku ambil hadisnya. Jika aku berbicara atau berfatwa   mereka semua diam dan menerima kata-kataku” sebagai penghormatan, kerendahan hati dan kepatuhan serta pengakuan akan kebenaran dan keilmuannya. Beliau telah mengarang berbagai kitab yang terkait dengan tafsir yang sangat berguna bagi umat Islam. Di antara kitabnya ialah:

  1. al-Jawahir al-Hasan fi Tafsir al-Qur’an,
  2. adz-Dzahab al-Ibriz fi gharaib al-Qur’an al-Karim
  3. Tuhfah al-Ikhwan fi I’rab Ba’dhi Ayat al-Qur’an
  4. Jami’ al-Ummahat fi ahkam al-‘Ibadat dll.

Beliau wafat pada tahun 876 H. atau pada akhir tahun 875 dalam umur 90 tahun dan dimakamkan di kota Al-Jazair. Semoga Allah mencurahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada ulama Islam yang agung ini.

  1. Perbedaan Tafsir bi al-Ma’tsur dan Tafsir bi al-Ra’iy

Al-Qur’an adalah lautan ilmu yang tak bertepi, kedalamannya tidak terbatas, sehingga dalam menafsirkannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan ulama mufassirin memiliki beberapa metode dalam mengkaji dan menyelami kedalaman al-Qur’an. Diantara metodologi tafsir tersebut ialah; tafsir tahlili, tafsir ijmali, tafsir maudhu’i dan tafsir muqaran. Akan tetapi, semua metodologi tersebut kembali kepada dua corak pemikiran lagi; ma’tsur (riwayat) dan al-ra’yu (rasio).

Riwayat, yang lebih dikenal dengan sebutan tafsir bil ma’tsur merupakan penafsiran al-Qur’an dengan menggunakan ayat yang menjadi penjelas, dengan ucapan yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW, dari sahabat dan tabi’in yang kesemuanya sebagai keterangan dan penjelasan bagi maksud dari nash-nash kitab al-Qur’an.

Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa tafsir bil ma’tsur adalah corak pemikiran yang berusaha menafsirkan al Qur’an berdasarkan keterangan atau riwayat. Dan tentu saja corak penafsiran seperti ini memiliki kualitas penafsiran yang sangat tinggi karena tafsiran-tafsirannya dapat dipertanggungjawabkan dengan adanya bukti riwayat dari para pendahulu.

Corak penafsiran kedua adalah dengan rasio, yang sering disebut dengan tafsir bil ra’yi. Dimana ayat-ayat al-Qur’an ditafsirkan berdasarkan ijtihad mufassirnya dan menjadikan akal pikiran sebagai pendekatan utamanya.

Hanya saja, perlu dipahami bahwa para ulama dalam menafsirkan al-Qur’an dengan menggunakan rasio berusaha membuka tabir rahasia yang menutupi mutiara ilmu yang terdapat di dalam lautan kalam Ilahi. Sebab al-Qur’an sendiri berisi konsep, prinsip-prinsip pokok yang belum terjabarkan, aturan-aturan yang masih bersifat universal dan sebagainya yang maih perlu diperjelas, dijabarkan dan dioperasionalkan, agar dengan mudah dapat diaplikasikan dalam kehidupan manusia.

Tafsir bi al-ra’yi sesuai dengan namanya ra’yu (rasio) memiliki berbagai macam pandangan dalam melihat al-Qur’an. Ini semua, disebabkan oleh perbedaan kecenderungan, interest dan motivasi mufassir, perbedaan misi yang diemban, perbedaan kedalaman dan ragam ilmu yang dikuasai, perbedaan masa dan lingkungan yang mengitari, perbedaan situasi dan kondisi yang dihadapi dan sebagainya.

Akan tetapi dalam tafsir bi al-ra’yi ini memerlukan ketelitian yang maximal. Bahkan para ulama telah menetapkan syarat-syarat bagi diterimanya tafsir bi al-ra’yi :

  1. Benar-benar menguasai bahasa Arab dengan segala seluk beluknya.
  2. Mengetahui asbab an Nuzul, nasikh wa al-mansukh, ilmu qira’at dan syarat-syarat keilmuan lainnya
  3. Tidak menafsirkan hal-hal yang merupakan otoritas Tuhan untuk mengetahuinya
  4. Tidak menafsirkan ayat-ayat berdasarkan hawa nafsu dan interest pribadi
  5. Tidak menafsirkan ayat berdasarkan aliran atau paham yang jelas batil dengan maksud justifikasi terhadap paham tersebut.

Dari kedua arti corak penafsiran di atas dapat dilihat bahwa keduanya memiliki perbedaan mendasar, diantaranya:

  1. Tafsir bi al-ma’tsur merupakan penafsirann yang mendahulukan riwayat atau keterangan yang sudah ada. Sedangkan tafsir bi al-ra’yi merupakan penafsiran yang lebih mendahulukan hasil karya atau interpretasi seseorang terhadap al-Qur’an yang didasari atas kualitas ilmu dan wawasan sang penafsir
  2. Tafsir bil ma’tsur karena berdasarkan periwayatan sehingga lebih mudah diketahui kebenaran dan kekurangannya. Sedangkan tafsir bil ra’yi agak sulit mengetahui kebenaran tafsiran tersebut
  3. Tafsir bil ma’tsur meiliki bentuk penafsiran yang sama dan jarang mengalami perubahan. Sedangkan tafsir bil ra’yu memilki bentuk penafsiran yang terkadang terjadi karena perbedaan interpretasi, latar belakang, situasi dan kondisi pada saat penafsiran
  4. Manhaj Tafsir al-Jawahir

Kitab al-Jawahir sebenarnya bukanlah kitab yang berdiri sendiri dalam artian pengarang melakukan pembaharuan-pembaharuan akan tetapi lebih tepatnya, kitab al-Jawahir hanyalah kitab resume dari kitab Ibnu ‘Athiyyah yang berjudul al-Muharra al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-‘Aziz. Kitab Ibnu ‘Athiyyah berisi beberapa disiplin ilmu seperti fiqhi khususnya madzhab maliki, ilmu hadis, nahwu dan tentunya tafsir. Kitab al-Jawahir terdiri dari empat jilid, jauh lebih kecil dan ringkas dari kitab asalnya, tafsir Ibnu ‘Athiyyah, manuskripnya masih dapat ditemukan di Dar al-Kutub al-Mishriyyah dan perpustakaan al-Azhar Mesir dan diakhir kitab al-Jawahir dicantumkan Mu’jam lafal-lafal yang dianggap asing.

Untuk melacak metode yang digunakan oleh Imam al-Tsa’alaby dalam menyusun kitabnya sangatlah sulit karna kitab ini tidak termasuk kitab induk dan tidak mendapat perhatian seperti halnya kitab tafsir karangan at-Thabary, tafsir Ibnu Katsir, tafsir mafatihul ghaib karangan al-Razy dan al-Kasysyaf karangan al-Zamakhsyary. Hal itu dapat dimaklumi bahwa kitab al-Jawahir ini hanyalah rangkuman dari ratusan kitab sebelumnya. Metode yang digunakan Imam al-Tsa’alaby hanya dapat diketahui dari mukaddimah kitab itu sendiri, dimana pengarangnya memberikan komentar yang panjang mengenai kitab al-Jawahir tersebut.

Setelah membaca dengan seksama muqaddimah kitab al-Jawahir dan membandingkan dengan ibarat yang terdapat dalam kitab tafsir wa al-Mufassirun, Kitab Ibnu ‘Athiyyah dan yang lain. Penulis dapat mengatakan bahwa metode yang digunakan oleh Imam al-Tsa’alaby dalam menyusun kitab al-Jawahir sebagai berikut:

  1. Kebanyakan kandungan tafsir al-Jawahir diambil dan dirangkum dari kitab al-Muharra al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-‘Aziz karangan Ibnu ‘Athiyyah.
  2. Melakukan penambahan-penambahan dari + 100 kitab masyhur sebelumnya sesuai dengan ilmu yang beliau tangkap dan riwayatkan dari ulama sebelumnya
  3. Setiap menukil pendapat para mufassir terdahulu, penyusun menukil lafal dan ibaratnya tanpa berani menukil secara makna atau pemahaman dengan alasan khawatir terjadi salah interpretasi.
  4. Setiap pendapat ulama dalam kitab ini memiliki kode masing-masing, misalnya setiap pembahasan yang berakhir dengan kata إنتهى   maka pendapat itu bukan dari Ibnu ‘Athiyyah, kode ت ” “ berarti pendapat pribadi penyusun, kode العين ” “ untuk pendapat Ibnu ‘Athiyyah, untuk kode الصاد”” dikhususkan kepada as-Shaqisy, sedangkan penukilan dari Abi Hayyan menggunakan kode “م”. Dan masih banyak lagi kode-kode dalam kitab al-jawahir ini.
  5. Pembahasan kitab al-Jawahir meliputi tafsir, hadis, nahwu, ilmu Qira’at sastra arab dan kisah-kisah Israiliyyat.
  6. Pengarang juga menyebutkan sumber-sumber pengambilan beberapa disiplin ilmu yang tertera dalam kitab ini, seperti ilmu I’rab dinukil dari Ibnu ‘Athiyyah dan al-Shafaqisy. Hadis shahih dan hasan diriwayatkan dari al-Bukhari, Muslim, Abi Daud dan Turmudzi sedangkan hadis yang bukan dari kitab mereka dalam bab al-Adzkar wa al-Da’awat dinukil dari kitab an-Nawawi dan Silah al-Mu’min, mayoritas hadis dalam bab al-Targhib wa al-Tarhib wa ahwal al-Akhirah dipindah dari kitab al-Tadzkirah karangan al-Qurthuby dan kitab al-‘Aqibah susunan Abdul Haq.
  7. Dalam muqaddimah kitab al-Jawahir, penyusun menyebutkan beberapa fasal yang sangat erat kaitannya dengan tafsir seperti bab keutamaan al-Qur’an, keutamaan tafsir al-Qur’an, tingkatan para mufassir dan lain-lain yang kesemuanya diambil dari muqaddimah kitab tafsir Ibnu ‘Athiyyah.

Kesimpulannya bahwa kitab al-Jawahir adalah rangkuman dan gabungan dari berbagai kitab yang masyhur sebelumnya, khususnya kitab karangan Ibnu ‘Athiyyah yang menjadi rujukan utamanya dengan meniadakan pengulangan. Jadi dapat dikatakan bahwa Imam al-Tsa’alaby tidak banyak melakukan terobosan-terobsan baru dalam penyusunan kitab al-Jawahir kecuali hanya mengumpulkan dan merangkum ilmu-ilmu yang dianggap penting dalam karangannya.

Untuk lebih mengenal lebih jauh tentang tafsir al-Jawahir, penulis akan mencoba memberikan satu contoh penafsiran al-Tsa’alaby terhadap surah al-Ikhlash sebagai sampel penafsiran al-Tsa’alaby dalam kitabnya al-Jawahir ini sebagai berikut :

تفسير سورة الاخلاص قيل مكية وقال ابن عباس مدنية   بسم الله الرحمن الرحيم  روي ان اليهود دخلوا على النبي صلى الله عليه وسلم فقالوا له يا محمد صف لنا ربك وانسبه فانه وصف نفسه في التوارة ونسبها فارتعد النبي صلى الله عليه وسلم من قولهم حتى خر مغشيا عليه ونزل جبريل بهذه السورة     واحد معناه واحد فرد من جميع جهات الوحدانية ليس كمثله شيء وهو ابتداء والله ابتداء ثان واحد خبره والجملة خبر الاول وقيل هو ابتداء والله خبره واحد بدل منه وقرأ عمر بن الخطاب وغيره قل هو الله الواحد الصمد والصمد في كلام العرب السيد الذي يصمد اليه في الامور ويستقل بها وانشدوا لقد بكر الناعى بخير بنى اسد بعمرو بن مسعود وبالسيد الصمد وبهذا تتفسر هذه الآية لان الله تعالى جلت قدرته هو موجد الموجودات واليه تصمد وبه قوامها سبحانه وتعالى وقوله تعالى لم يلد ولم يولد رد على اشارة الكفار في النسب الذي سألوه وقال ابن عباس تفكروا في كل شيء ولا تتفكروا في ذات الله قال ع لان الافهام تقف دون ذلك حسيرة وقوله سبحانه ولم يكن له كفؤا احد معناه ليس له ضد ولا ند ولا شبيه ليس كمثله شيء وهو السميع البصير والكفؤ النظير وكفؤا خبر كان واسمها احد قال ص وحسن تاخير اسمها لوقوعه فاصلة وله متعلق بكفؤا اي لم يكن احد كفؤا له وقدم اهتماما به لاشتماله على ضمير الباري سبحانه انتهى وفي الحديث الصحيح عنه  صلى الله عليه وسلم  ان قل هو الله احد تعدل ثلث القرءان قال ع لما فيها من التوحيد وروى ابو محمد الدارمى في مسنده قال حدثنا عبدالله بن مزيد حدثنا حيوة قال اخبرنا ابو عقيل انه سمع سعيد بن المسيب يقول ان النبي  صلى الله عليه وسلم  قال من قرأ قل هو الله احدى عشرة مرة بني له قصر في الجنة ومن قرأها عشرين مرة بني له قصران في الجنة ومن قرأها ثلاثين مرة بنى له ثلاثة قصور في الجنة فقال عمر بن الخطاب اذن تكثر قصورنا يا رسول الله فقال رسول الله  صلى الله عليه وسلم اوسع من ذلك اي فضل الله اوسع من ذلك قال الدارمى ابو عقيل هو زهرة بن معبد وزعموا انه من الابدال انتهى من التذكرة

  1. Keistimewaan dan Kekurangan Tafsir al-Jawahir

Setelah membaca dan memahami metode yang digunakan al-Tsa’alaby dalam menyusun kitabnya, dapat disimpulkan bahwa kitab al-Jawahir ini memiliki beberapa keunggulan, namun sebagai karangan menusia maka sudah pasti tidak luput dari kekurangan, khususnya yang terkait dengan metodologi penafsiran. Untuk lebih jelasnya, pemateri akan memaparkan beberapa keistimewaan dan kekurangan kitab al-Jawahir ini. Diantara keistimewaan kitab adalah:

  1. Ruang lingkupnya yang cukup luas karena telah merangkum ratusan kitab
  2. Sudah melalui penyaringan yang super ketat dengan berusaha menukil kata-kata mufassir sebelumnya tanpa berani merubah redaksinya
  3. Melalui klasifikasi yang jitu dengan mengambil hal-hal yang bermanfaat saja dari kitab-kitab masyhur yang lain.

sedangkan kekurangan yang terungkap dalam kitab al-Jawahir ini, dapat diketahui sebagai berikut:

  1. Kurang kompoten dan komplit dalam penafsiran karna hanya membahas luarnya saja (kulit-kulitnya)
  2. Kurang memperhatikan dan tidak mempertimbangkan situasi dan kondisi masa beliau hidup dengan hanya menukil pendapat terdahulu.
  3. Masih menggunakan metode lama dalam penafsirannya.
  4. Tidak mengungkapkan penafsiran para mufassir yang menggunakan metode pendekatan rasio untuk membanidingkan dengan tafsi ala ma’tsur.

III      : PENUTUP

  1. Kesimpulan

Setelah membaca secara seksama penjelasan di atas, penulis dapat mengambil intisari penjelasannya sebagai berikut :

  1. At-Tsa’alaby seorang ulama maroko yang sangat terkenal keilmuan dan kesalehan
  2. Corak penafsiran al-Qur’an terbagi ada yaitu tafsir bi al-Ma’tsur dan tafsir bi al-Ra’iy
  3. Metode al-Tsa’alaby dalam kitab al-Jawahir adalah meresume kitab al-Muharra al-Wajiz karangan Ibnu ‘Athiyyah dengan menambah sedikit dari kitab-kitab yang lain.
  4. Kitab al-Jawahir memiliki beberapa keunggulan dan kemanfaatan khususnya bagi pemula dan tentunya tidak lepas dari kekurangan-kekurangan.
    1. Saran-saran

Banyak membaca literatur para ulama akan sangat membantu dalam memahami metode para mufassir dalam menyusun kitabnya. Dan tidak perlu membeda-bedakan tafsir mana yang paling terbaik karena semua kitab memiliki keunggulan dan kekurangan.

Bagi dosen pembimbing, sebaiknya memberikan nama-nama kitab atau buku yang menjadi literatur dalam pembuatan makalah agar waktu tidak terbuang hanya untuk mencari referensi.

R E F E R E N S I

  • Al-Tsa’alaby, Tafsir al-Tsa’alaby al-Mausum bijawahir al-Hasan.
  • Al-Dzahaby, Dr. Muhammad Husain,  Al-Tafsir wa al-Mufassirun,
  • Dr. Abdullah Ali Ja’far, Musaid Muslim, Atsar al-Tathawwur al-Fikry fi al-Tafsir, Muassah al-Rasilah, Bairut
  • Al-Qatthan, Manna’ Khalil, Mabahis fi ‘Ulum al-Qur’an, Muassah al-Rasilah, Bairut
  • Shihab, M. Quraish, Tafsir al-Mishbah, Lentera Hati, Jakarta, 2005

Al-Munawwar, Said Agil Husin, Al-Qur’an, Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, Ciputat Press, Ciputat, 2005


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: