Oleh: TH Khusus Makassar | 3 Januari 2010

REPRODUKSI dalam Tinjauan Hadis Nabi Saw.

REPRODUKSI dalam Tinjauan Hadis Nabi Saw.

Oleh: Nyai. Fauziah Ahmad, S.Th.I

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Al-Quran dan al-hadis adalah dua sumber pokok ajaran Islam. Al-Quran merupakan kalam Allah yang  diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pegangan umat Islam dalam kehidupannya sehari-hari, sedangkan hadis adalah ucapan, perbuatan dan taqrir Nabi SAW. Hadis dalam risalah Islam merupakan teladan yang wajib diikuti dan memiliki otoritas tersendiri yang wajib ditaati umat Islam seperti halnya al-Quran. Dalam memahami al-Qur’an para ahli/ulama memunculkan beberapa metode agar ia senantiasa dipelajari dan dipahami, dan salah satu yang ditawarkan oleh para ulama adalah metode maudhu’i. metode ini muncul oleh adanya inisiatif para ulama dengan melihat kondisi dan fenomena yang dialami masyarakat. Namun metode ini tidak hanya digunakan pada al-Qur’an akan tetapi para ahli hadispun mulai menggunakan metode ini.

Metode maudhu’i pada hadis juga dianggap perlu karena melihat bahwa hadis membutuhkan penelitian dan kajian lebih luas agar mudah diterima bagi umat Islam dan menampakkan keotentikannya sebagai sumber ajaran Islam yag valid. Hadis sendiri merupakan penjelas daripada al-Quran, didalamnya terkandung berbagai aspek dan ragam masalah. Para ulama dari masa ke masa mencoba mengkaji hadis Nabi dari berbagai sudut pandang, hal ini disebabkan karena semakin kompleksnya kehidupan manusia.

Berbagai kajian hadis menambah daftar keluasan sumber kedua ajaran Islam ini. Salah satu kajian tematik dari hadis yang dianggap perlu adalah kajian mengenai reproduksi. Allah menciptakan manusia dengan jenis kelamin yang berbeda: laki-laki dan perempuan. Anatomi biologis antara keduanya jelas berbeda. Berbeda dengan kaum laki-laki (kaum Adam), kaum perempuan dianugerahi Allah suatu hak istimewa, yaitu hak reproduksi. Hak istimewa ini seharusnya dihormati dan dihargai oleh setiap orang. Reproduksi adalah sebuah proses yang dimiliki oleh kaum perempuan untuk menjaga keberlangsungan spesies manusia di muka bumi ini.

Dalil-dalil yang menunjukkan reproduksi telah banyak disebutkan dalam al-Quran. Terdapat beberapa ayat yang menjelaskan tentang proses perkembangan janin atau evolusi embrio di dalam rahim dan masalah eksternal yang terkait dengannya. Sebutan basyar di dalam al-Quran mengindikasikan bahwa manusia adalah makhluk biologis yang proses kejadiannya melalui beberapa tahapan. Firman Allah:

ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä ÷br& Nä3s)n=s{ `ÏiB 5>#tè? ¢OèO !#sŒÎ) OçFRr& ֍t±o0 šcrçŽÅ³tFZs? ÇËÉÈ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan kamu dari tanah, Kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang bertebaran.

Menurut Quraish Shihab, bertebaran pada ayat diatas dapat diartikan dengan berkembang biak akibat adanya hubungan seksual atau bertebaran mencari rezeki.[1] Selain mengkaji ayat-ayat al-Quran, kajian hadispun diperlukan untuk membahas masalah ini, sehingga dapat saling mendukung. Namun, fenomena yang terjadi adalah hadis-hadis yang terkait sangat terbatas sehingga perlu perpaduan antara ayat dan hadis serta penjelasan sains/ilmiah.

  1. B. Rumusan Masalah
    1. Apa pengertian dan hakekat reproduksi?
    2. Bagaimana hadis nabi tentang reproduksi?

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. Pengertian Reproduksi

Reproduksi adalah suatu proses biologis di mana individu organisme baru diproduksi. Reproduksi adalah cara dasar mempertahankan diri yang dilakukan oleh semua bentuk kehidupan; setiap individu organisme ada sebagai hasil dari suatu proses reproduksi oleh pendahulunya. Cara reproduksi secara umum dibagi menjadi dua jenis: seksual dan aseksual.[2] Reproduksi seksual adalah reproduksi dengan penggabungan sel kelamin jantan dan betina.[3] Reproduksi manusia normal adalah contoh umum reproduksi seksual. Secara umum, organisme yang lebih kompleks melakukan reproduksi secara seksual Pembahasan reproduksi dalam ilmu kedokteran cukup luas, pembahasan tersebut antara lain mencakup anatomi fisiologi, proses pembuahan dan perkembangan janin, hormon-hormon yang berkaitan dan lain-lain.

Proses reproduksi manusia erat kaitannya dengan proses kejadian manusia itu sendiri sebagai keturunan atau generasi selanjutnya. Dalam al-Quran dan hadis telah disebutkan hal-hal yang berhubungan dengan reproduksi. Pada dasarnya manusia adalah makhluk biologis sehingga kecenderungan untuk bereproduksi tidak dapat dipungkiri karena hal tersebut telah diberikan Allah kepada manusia. Berbicara mengenai reproduksi tentu tidak dapat dihindari adanya keterlibatan antara dua jenis kelamin yang berbeda atau antara suami dan istri. Dalam hal reproduksi masing-masing orang harus mengetahui cara dan ketentuannya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh syariat, karena jika seseorang mengabaikan hal tersebut maka akan mendatangkan mudharat bagi dirinya sendiri.

  1. B. Takhrij Hadis

Setelah menelusuri beberapa kitab hadis antara lain Mu’jam Mufahras li Alfadz al-Hadis, dan pencarian secara tematik melalui kitab Miftah Kunuz al-Sunnah[4] dan program hadis Kutub al-Tis’ah dan Maktabah Syamilah, penulis belum mendapatkan istilah yang tepat untuk kata reproduksi. Namun, jika dilihat dari segi proses reproduksi itu sendiri maka kata-kata yang berhubungan dengan reproduksi antara lain adalah kata خلق,  العزل, dan ولدت . Hadis-hadis yang dikemukakan hanya terbatas pada kutub al-Tis’ah dan mengacu pada hadis-hadis yang shahih saja. Adapun hadis-hadis yang dimaksud adalah sebagai berikut:

ü  Kata خلق dalam hadis

(Shahih Muslim kitab al-Qadr bab Kaifa Khuliqa Adam….: 4781 Juz 13.):

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا أبو معاوية ووكيع ح و حدثنا محمد بن عبد الله بن نمير الهمداني واللفظ له حدثنا أبي وأبو معاوية ووكيع قالوا حدثنا الأعمش عن زيد بن وهب عن عبد الله قال حدثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو الصادق المصدوق إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما ثم يكون في ذلك علقة مثل ذلك ثم يكون في ذلك مضغة مثل ذلك ثم يرسل الملك فينفخ فيه الروح ويؤمر بأربع كلمات بكتب رزقه وأجله وعمله وشقي أو سعيد فوالذي لا إله غيره إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار فيدخلها وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل الجنة فيدخلها حدثنا عثمان بن أبي شيبة وإسحق بن إبراهيم كلاهما عن جرير بن عبد الحميد ح و حدثنا إسحق بن إبراهيم أخبرنا عيسى بن يونس ح و حدثني أبو سعيد الأشج حدثنا وكيع ح و حدثناه عبيد الله بن معاذ حدثنا أبي حدثنا شعبة بن الحجاج كلهم عن الأعمش بهذا الإسناد قال في حديث وكيع إن خلق أحدكم يجمع في بطن أمه أربعين ليلة و قال في حديث معاذ عن شعبة أربعين ليلة أربعين يوما وأما في حديث جرير وعيسى أربعين يوما

(Shahih Bukhari kitab Bid’ul Wahyi bab Zikr al-Malaikah: 2969)

(Sunan al-Turmudzi kitab al-Qadr ‘an Rasulillah bab ma ja’a an a’mal bi al-khawatim: 2063)

ü  Kata العزل yang terkait dengan hukum al-Azl:

Shahih Bukhari, Kitab al-It’q bab من ملك من العرب رقيقا…: 2356:

حدثنا عبد الله بن يوسف أخبرنا مالك عن ربيعة بن أبي عبد الرحمن عن محمد بن يحيى بن حبان عن ابن محيريز قال رأيت أبا سعيد رضي الله عنه فسألته فقال خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في غزوة بني المصطلق فأصبنا سبيا من سبي العرب فاشتهينا النساء فاشتدت علينا العزبة وأحببنا العزل فسألنا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال ما عليكم أن لا تفعلوا ما من نسمة كائنة إلى يوم القيامة إلا وهي كائنة

Shahih Muslim, kitab nikah bab hukm al-azl: 2601

Sunan al-Turmudzi, kitab nikah bab ma ja’a fi karahiyyah al-azl: 1057

Sunan Abu Daud, kitab nikah bab ma ja’a fi al-azl: 1855.

ü  Kata ولدت:

Shahih Bukhari, kitab al-itq bab من ملك من العرب رقيقا…, bab ma ja’a fi al-Ta’ridhi: 6341

حدثنا إسحاق حدثنا عفان حدثنا وهيب حدثنا موسى هو ابن عقبة حدثني محمد بن يحيى بن حبان عن ابن محيريز عن أبي سعيد الخدري في غزوة بني المصطلق أنهم أصابوا سبايا فأرادوا أن يستمتعوا بهن ولا يحملن فسألوا النبي صلى الله عليه وسلم عن العزل فقال ما عليكم أن لا تفعلوا فإن الله قد كتب من هو خالق إلى يوم القيامة وقال مجاهد عن قزعة سمعت أبا سعيد فقال قال النبي صلى الله عليه وسلم ليست نفس مخلوقة إلا الله خالقها

Shahih Muslim, kitab li’an: 2756

Sunan al-Nasai, kitan thalaq bab إذاعرض بإمرأته…. : 3424

  1. C. Proses Kehamilan

Manusia-selain Adam, Hawa dan Isa a.s.- secara ilmiah semuanya tercipta melalui pertemuan sperma dan indung telur. Proses reproduksi manusia berlangsung dalam suatu rangkaian yang dimulai dengan pembuahan di dalam tabung Falopia (pembuluh lembut yang menghubungkan rahim dengan daerah indung telur). Suatu sel telur yang telah memisahkan dirinya dari indungnya di tengah perjalanan (melalui siklus menstrual), dibuahi oleh suatu sel yang berasal dari pria, yaitu spermatozoa. Dari berpuluh-puluh juta spermatozoa yang terkandung dalam satu sentimeter kubik sperma, hanya dibutuhkan satu spermatozoa saja untuk menjamin terjadinya pembuahan. Cairan yang terpancar dari pria mengandung sekitar tiga ratus juta benih manusia.[5] Hanya 15-50 sperma yang mencapai sel telur dalam perjalanannya menuju tabung Fallovi. Para ilmuan mengatakan, manusia pada awalnya berasal dari sel satu, begitu juga makhluk hidup lain yang tak terhitung jumlahnya. Semua makhluk bersel satu ini berkembang biak dengan membelah diri dan membentuk salinan yang sama seperti diri mereka sendiri ketika pembelahan ini terjadi. Sel yang sama membentuk organ yang berbeda. Sperma dan sel telur bertemu, dan kemudian bersatu membentuk sel tunggal yang disebut zigot. Satu sel tunggal ini merupakan cikal-bakal manusia. Sel tunggal ini kemudian membelah dan memperbanyak diri. Beberapa minggu setelah penyatuan sperma dan telur ini, sel-sel yang terbentuk mulai tumbuh berbeda satu sama lain dengan mengikuti perintah rahasia yang diberikan kepada mereka.

Sel-sel otak mulai terbentuk pada dua celah kecil di salah satu ujung embrio. Sel-sel otak akan berkembang biak dengan cepat di sini. Sebagai hasilnya, bayi akan memiliki sekitar sepuluh milyar sel otak. Ketika pembentukan sel-sel otak tengah berlangsung, seratus ribu sel baru ditambahkan pada kumpulan sel ini setiap menitnya.

Masing-masing sel baru yang terbentuk berperilaku seolah-olah tahu di mana ia harus menempatkan diri, dan dengan sel mana saja ia harus membuat sambungan. Setiap sel menemukan tempatnya masing-masing. Dari jumlah kemungkinan sambungan yang tak terbatas, ia mampu menyambungkan diri dengan sel yang tepat. Terdapat seratus trilyun sambungan dalam otak manusia. Agar sel-sel otak dapat membuat trilyunan sambungan ini dengan tepat, mereka harus menunjukkan kecerdasan yang jauh melebihi tingkat kecerdasan manusia. Padahal sel tidak memiliki kecerdasan sama sekali.

Bahkan tidak hanya sel otak, setiap sel yang membelah dan memperbanyak diri pada embrio pergi dari tempat pertama kali ia terbentuk, dan langsung menuju ke titik yang harus ia tempati. Setiap sel menemukan tempat yang telah ditetapkan untuknya, dan dengan sel manapun mereka harus membentuk sambungan, mereka akan mengerjakannya.

Reproduksi manusia terjadi melalui proses kehamilan dan kelahiran. Pada tahap kehamilan terjadi beberapa fase yang harus dilalui oleh calon janin. Di dalam al-Qur’an, proses kejadian manusia secara biologis dijelaskan secara terperinci melalui firman-Nya :

ô‰s)s9ur $oYø)n=yz z`»|¡SM}$# `ÏB 7’s#»n=ߙ `ÏiB &ûüÏÛ ÇÊËÈ §NèO çm»oYù=yèy_ ZpxÿôÜçR ’Îû 9‘#ts% &ûüÅ3¨B ÇÊÌÈ ¢OèO $uZø)n=yz spxÿôܑZ9$# Zps)n=tæ $uZø)n=y‚sù sps)n=yèø9$# ZptóôÒãB $uZø)n=y‚sù sptóôÒßJø9$# $VJ»sàÏã $tRöq|¡s3sù zO»sàÏèø9$# $VJøtm: ¢OèO çm»tRù’t±Sr& $¸)ù=yz tyz#uä 4 x8u‘$t7tFsù ª!$# ß`|¡ômr& tûüÉ)Î=»sƒø:$# ÇÊÍÈ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia itu dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kamudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah , Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al-Mu’minun (23) : 12-14).

Ayat diatas memberikan gambaran mengenai proses pembentukan manusia yang secara substansif dan menjadi dasar kehidupan manusia adalah protein, sari-sari makanan yang kita makan yang semua berasal dan hidup dari tanah. Yang kemudian melalui proses metabolisme yang ada di dalam tubuh diantaranya menghasilkan hormon (sperma), kemudian hasil dari pernikahan (hubungan seksual), maka terjadilah pembauran antara sperma (lelaki) dan ovum (sel telur wanita) di dalam rahim. Kemudian berproses hingga mewujudkan bentuk manusia yang sempurna

Selain ayat diatas, proses reproduksi manusia juga dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW sebagai berikut :

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا أبو معاوية ووكيع ح و حدثنا محمد بن عبد الله بن نمير الهمداني واللفظ له حدثنا أبي وأبو معاوية ووكيع قالوا حدثنا الأعمش عن زيد بن وهب عن عبد الله قال حدثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو الصادق المصدوق إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما ثم يكون في ذلك علقة مثل ذلك ثم يكون في ذلك مضغة مثل ذلك ثم يرسل الملك فينفخ فيه الروح ويؤمر بأربع كلمات بكتب رزقه وأجله وعمله وشقي أو سعيد[6]

Hadis diatas menggambarkan proses reproduksi manusia yang melalui beberapa fase perubahan. Sebelum ilmu pengetahuan mengembangkan proses tersebut, al-Quran dan hadis telah menyebutnya lebih dulu. Manusia dikumpulkan pencitaannya di dalam rahim  selama 40 hari. Al-Qurthubi mengomentari bahwa maksud daripada manusia diciptakan dalam rahim adalah bahwasanya sperma itu berada dalam rahim. Setelah terpancarnya sperma dalam rahim wanita maka mulailah proses pembuahan. Setelah embrio tersebut berumur 40 hari pertama, maka terbentuklah  segumpal darah  (‘alaqah) dan setelah berlangsung 40 hari kedua maka akan berubah menjadi segumpal daging (Mudghah).[7] ‘Alaqah adalah darah yang beku yang tergantung di dinding rahim,[8] yang dalam istilah biologi disebut zigot. Zigot ini merupakan sebuah gumpalan yang terdiri atas sel-sel yang mirip.

Dalam penelitian ilmu genetika (janin) dikatakan bahwa selama embrio berada di dalam kandungan ada tiga selubung yang menutupinya yaitu dinding abdomen (perut) ibu, dinding uterus (rahim), dan lapisan tipis amichirionic atau istilah lain (kegelapan di dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup/membungkus anak dalam rahim). Hal ini sesuai dengan firman Allah:

öNä3à)è=øƒs† ’Îû ÈbqäÜç öNà6ÏG»yg¨Bé& $Z)ù=yz .`ÏiB ω÷èt 9,ù=yz ’Îû ;M»yJè=àß ;]»n=rO 4

“…Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan (kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim)…” (QS. Az Zumar (39) : 6).

Manusia sebagai makhluk hidup bersel satu mengalami perkembang biakan dengan membelah diri dan membentuk salinan yang sama seperti diri mereka sendiri ketika pembelahan terjadi. Hal ini terus menerus terjadi hingga perkembangan yang lebih kompleks lagi. Setiap janin merupakan perpaduan unsur-unsur genetik orang tuanya. Unsur genetik ini sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan fisik sang anak seperti warna kulit, warna rambut bentuk wajah, tubuh dan sebagainya. Disamping itu kondisi psikis seperti kecerdasan, pola piker dan tingkah laku juga sangat mempengaruhi. Maka tidak heran ketika seorang anak lahir kondisi fisik atau psikisnya ada yang lebih cenderung pada keturunan ayah atau ibunya. Selain Faktor tersebut, faktor lingkungan juga sangat berpengaruh. Faktor-faktor yang terkait akan menentukan kondisi sang anak. Hal seperti pernah terjadi di zaman nabi ketika seorang Badui Arab mendatangi nabi dan menanyakan perihal keadaan anaknya yang berbeda dengan orang tuanya, sebagaimana dikatakan dalam hadis:

حدثنا إسماعيل حدثني مالك عن ابن شهاب عن سعيد بن المسيب عن أبي هريرة رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم جاءه أعرابي فقال يا رسول الله إن امرأتي ولدت غلاما أسود فقال هل لك من إبل قال نعم قال ما ألوانها قال حمر قال هل فيها من أورق قال نعم قال فأنى كان ذلك قال أراه عرق نزعه قال فلعل ابنك هذا نزعه عرق[9]

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa faktor-faktor genetis tidak hanya terbatas pada satu aspek saja, namun perlu juga dilihat faktor eksternalnya.

  1. D. Persalinan

Setelah terjadinya proses panjang dalam rahim sang ibu maka tahap selanjutnya adalah persalinan atau kelahiran. Persalinan dan kelahiran adalah merupakan kejadian fisiologi yang normal, merupakan pula peristiwa sosial yang dinantikan ibu dan keluarga selama 9 bulan. Adapun beberapa defenisi persalinan diantaranya adalah:[10]

–       Proses membuka dan menipisnya serviks, dan janin turun ke jalan lahir.

–       Proses dimana janin dan ketuban didorong keluar melalui jalan lahir.

Adapun sebab-sebab yang mempengaruhi terjadinya persalinan yaitu penurunan hormon progesterone, rangsangan oksitosin, pergerakan otot-otot uterus, tekanan pada fleksus franken hauser yang terletak dibelakang serviks bila tertekan maka kontraksi uterus dapat dibangkitkan.[11] Perubahan biokimia dan biofisika telah banyak mengungkapkan bagaimana dimulainya suatu persalinan karena menurunnya kadar hormone estrogen dan progesterone 1 – 2 minggu sebelum persalinan. Estrogen   dan   progesterone   menurun  disebabkan  oleh “ tuanya plasenta “, yang menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan pada villi corriales. Iskemia uterus, karena terjadinya peregangan pada uterus yang membesar, hal ini mengganggu sirkulasi uteroplasenter sehingga plasenta mengalami degenerasi. Hipocrates pertama kali mengungkapkan bahwa nutrisi yang kurang ke janin, akan menyebabkan kehamilan segera berakhir. Penekanan Fleksus Frankenhouser pada ganglion servikal, yang terdapat pada bagian posterior dari serviks, dapat menyebabkan meningkatnya kontraksi uterus.

Dalam menghadapi persalinan seorang ibu hendaknya dituntut untuk memperhatikan diri dan kesehatannya, demikian pula halnya dengan yang membantu persalinan seperti dokter atau perawat. Disarankan agar mereka memberikan pelayanan yang maksimal, karena hal tersebut sangat mendukung kelancaran persalinan dan meminimalisir kesalahan atau resiko yang terjadi selama proses persalinan. Adapun kebutuhan wanita dalam persalinan yaitu:

  1. Asuhan fisik dan psikologis
  2. Kehadiran seorang pendamping secara terus-menerus
  3. Pengurangan rasa sakit
  4. Penerimaan atas sikap dan perilakunya
  5. Informasi dan kepastian tentang hasil persalinan yang aman.

Wanita yang memperoleh dukungan emosional selama persalinan akan mengalami waktu persalinan yang lebih pendek dan intervensi medis yang lebih sedikit. Oleh karena itu, dukungan dari keluarga dan pihak kesehatan sangat besar pengaruhnya dan hal tersebut tidak boleh dianggap sepele.[12]

E. Kesehatan Reproduksi

Disamping berbicara mengenai proses reproduksi, juga perlu diperhatikan hal-hal yang terkait dengannya, salah satunya adalah mengenai aspek kesehatan reproduksi. Pada masa nabi hal seperti itu telah disebutkan. Adapun salah satu hadis yang mengungkapkan tentang kesehatan reproduksi yaitu yang terkait dengan ‘azl[13] :

ü حدثني عبد الله بن محمد بن أسماء الضبعي حدثنا جويرية عن مالك عن الزهري عن ابن محيريز عن أبي سعيد الخدري أنه أخبره قال أصبنا سبايا فكنا نعزل ثم سألنا رسول الله صلى الله عليه وسلم عن ذلك فقال لنا وإنكم لتفعلون وإنكم لتفعلون وإنكم لتفعلون ما من نسمة كائنة إلى يوم القيامة إلا هي كائنة [14]

ü  حدثنا إسحاق حدثنا عفان حدثنا وهيب حدثنا موسى هو ابن عقبة حدثني محمد بن يحيى بن حبان عن ابن محيريز عن أبي سعيد الخدري في غزوة بني المصطلق أنهم أصابوا سبايا فأرادوا أن يستمتعوا بهن ولا يحملن فسألوا النبي صلى الله عليه وسلم عن العزل فقال ما عليكم أن لا تفعلوا فإن الله قد كتب من هو خالق إلى يوم القيامة وقال مجاهد عن قزعة سمعت أبا سعيد فقال قال النبي صلى الله عليه وسلم ليست نفس مخلوقة إلا الله خالقها  [15]

Inti dari tujuan al-‘azl adalah mencegah/membatasi keturunan. Pada masa sekarang, istilah ‘azl dapat disamakan dengan penggunaan kontrasepsi atau penggunaan pencegah kehamilan seperti mengkonsumsi pil-pil atau dengan suntikan KB. Hal ini bertujuan untuk membatasi keturunan. Terkait dengan hadis diatas, hal ini mengindikasikan bahwa pada dasarnya nabi tidak melarang untuk melakukan azl. Akan tetapi sebaiknya hal tersebut tidak dilakukan karena hanya Allahlah yang menentukan segala penciptaan. Oleh karena itu pencegahan kehamilan dengan obat-obatan bisa saja dilakukan dengan syarat:

  • Adanya keperluan seperti; wanita tersebut memiliki penyakit yang menghalanginya untuk hamil setiap tahun, atau adanya penghalang-penghalang lain yang membahayakannya jika dia hamil tiap tahun.
  • Adanya ijin dari suami. Karena suami memiliki hak atas istri dalam masalah anak dan keturunan. Disamping itu juga harus bermusyawarah dengan dokter terpercaya di dalam masalah mengkonsumsi pil-pil ini, apakah pemakaiannya membahayakan atau tidak.[16]

Adapun jika seorang suami hendak melakukan ‘azl maka hal tersebut sebaiknya dikomunikasikan terlebih dahulu dengan istri  karena sang istri juga memiliki hak dalam masalah keturunan. Dan jika penggunaannya dengan maksud berkonsentrasi dalam berkarier atau supaya hidup senang atau hal-hal lain yang serupa dengan itu, sebagaimana yang dilakukan kebanyakan wanita zaman sekarang, maka hal itu tidak boleh.


BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Setelah menelusuri dan membahas hadis-hadis yang terkait dengan reproduksi, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Reproduksi secara etimologi merupakan cara atau proses biologis yang dilakukan oleh makhluk hidup untuk melanjutkan generasinya. Adapun reproduksi pada manusia terjadi melalui pertemuan sel sperma dan ovum kemudian mengalami beberapa proses dan tahapan hingga sempurna. Proses reproduksi ini dimulai dengan adanya kehamilan kemudian terjadi kelahiran/persalinan.
  2. Secara umum, hadis-hadis yang terkait dengan reproduksi diantaranya berbicara mengenai proses pembentukan janin, fakor yang mempengaruhi kondisi fisik seorang anak dan menyangkut kesehatan reproduksi yaitu al-‘azl. Hanya terdapat beberapa hadis yang membahas masalah reproduksi, dan hal tersebut telah banyak diungkap dalam ayat-ayat al-Quran. Namun, berdasarkan ayat al-Quran dan hadis nabi tidak ditemukan defenisi yang baik untuk mengungkapkan makna reproduksi  itu sendiri.

Implikasi

Setelah menguraikan pembahasan mengenai reproduksi maka diharapkan kajian ini bisa memberikan informasi atau masukan bagi para pengkaji hadis untuk menelitinya lebih lanjut. Dan diharapkan agar pembaca dapat memahami hal-hal yang terkait dengan reproduksi dan merujuk kembali referensi yang ada, karena hal tersebut sangat penting untuk diperhatikan dan sangat besar pengaruhnya bagi setiap orang dalam membentuk generasi yang baik.

Makalah ini tentunya sangat jauh dari kesempurnaan dan penulis sebagai manusia biasa tentu banyak memiliki kesalahan dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu, diharapkan saran dan kritiknya agar makalah ini bisa lebih baik. Wallahu A’lam bi al-shawab.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran al-Karim

Al Asqalani, Ahmad Ibn Ali Ibn Hajar, Fath al Bari Syarh Sahih al Bukhari,  (Riyadh: Dar al Salam. 2000)

Al Bukhari, Abu Abdullah Muhammad bin Ismail, Shahih al Bukhari, Beirut: Dar al Kutub al Ilmiah, 1992

Al Mubarakfuri, Abu ‘Ula Muhammad Abdurrahman Ibn Abdurrahim, Tuhfat al- Ahwadzi Bi Syarh Jami’ al Turmudzi, (Beirut: Dar al Fikr. 1995)

Hanbal, Ahmad bin Muhammad bin. al Musnad. Riyadh: Maktabah al Turats al Islami. 1994.

Al Naisaburi, Abu Husain Muslim bin al Hajjaj al Qusyairi, Shahih Muslim.  Riyadh: Dar Alam al Kutub. 1996

Saurah, Abu Isa Muhammad bin Isa bin. Sunan al Turmudzi. Beirut: Dar al Fikr. 1994.

Al Nasa’i, Abu Abdurrahman Ahmad bin Syuaib. Sunan al Nasa’I. Beirut: Dar al Kutub al ‘Ilmiah. 1991.

Al-Dimsyaqi, Ibn Hamzah Al-Husaini Al-Hanafi, Asbabul Wurud, (Edisi Indonesia: Diterjemahkan oleh H. M. Suwarta Wijaya dan Drs. Zafrullah Salim, cet. IX; Kalam Mulia: Jakarta, 2006)

Damopoli Subari, dkk, Buku Daras Persalinan (Askeb II), UIN Alauddin Makassar, 2007

Hand Out Askeb Ibu II, STIKES Graha Edukasi Makassar, 2007

Kamus Saku Kedokteran Dorland, (Cet.I; EGC: Jakarta: 1998), h. 939.

Shihab Quraish, Dia ada dimana-mana, (Cet. IV; Jakarta : Lentera Hati, 2006).

____________, Wawasan al-Quran, (Cet. XVI; Mizan Pustaka: Bandung, 2005).

http://www.wikipedia.com

http://www.loi-repro.com

http://www.368.multiply.com


[1] Quraish Shihab, Wawasan al-Quran, (Cet. XVI; Mizan Pustaka: Bandung, 2005), h. 279.

[2] Dikutip dari artikel internet http://www.wikipedia.com, 04 Maret 2008.

[3] Kamus Saku Kedokteran Dorland, (Cet.I; EGC: Jakarta: 1998), h. 939.

[4] Dr. A.J. Wensick, Miftah Kunuz al-Sunnah, (diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Muhammad Fuad Abdul Baqi’, Suhail Academy Lahor: Pakistan, tt), h. 114 dan 534.

[5] Quraish Shihab, Dia ada dimana-mana, (Cet. IV; Jakarta : Lentera Hati, 2006),  h. 112

[6]Diriwatkan oleh Imam Muslim dalam kitab al-Qadr bab Kaifa Khuliqa Adam….: 4781 dengan sanad yang shahih dan hadis tersebut adalah marfu’, Shahih Bukhari kitab Bid’ul Wahyi bab Zikr al-Malaikah: 2969, Sunan al-Turmudzi kitab al-Qadr ‘an Rasulillah bab ma ja’a an a’mal bi al-khawatim: 2063. Abu Husain Muslim bin al Hajjaj al Qusyairi Al Naisaburi, Shahih Muslim.  Riyadh: Dar Alam al Kutub. 1996, juz XIII, h. 100.

[7]Ahmad Ibn Ali Ibn Hajar Al Asqalani, Fath al Bari Syarh Sahih al Bukhari, (Riyadh: Dar al Salam. 2000), Juz XVIII h. 437.

[8] Abu ‘Ula Muhammad Abdurrahman Ibn Abdurrahim Al Mubarakfuri, Tuhfat al Ahwadzi Bi Syarh Jami’ al Turmudzi, (Beirut: Dar al Fikr. 1995), Juz VI h. 286.

[9] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dengan status shahih pada kitab hudud bab ma ja’a fi al-Ta’rid: 6341. Abu Abdullah Muhammad bin Ismail Al Bukhari, Shahih al Bukhari Beirut: Dar al Kutub al Ilmiah, 1992,  Juz h. 130.

[10] Dr. H. Subari Damopoli, dkk, Buku Daras Persalinan (Askeb II), UIN Alauddin Makassar, 2007, h. 5.

[11] Hand Out Askeb Ibu II, STIKES Graha Edukasi Makassar, 2007, h. 2.

[12] Dr. H. Subari Damopoli, dkk, Buku Daras Persalinan, Op. cit, h. 32.

[13] Yang dimaksud dengan al-‘azl adalah: النزع بعد الإيلاج لينزل خارج الفرج  (Memutuskan senggama dengan cara mengeluarkan sperma diluar farj). Fath al Bari Syarh Sahih al Bukhari, Op. Cit, Juz XV, h. 6.

[14] Shahih Muslim, Op. Cit, kitab nikah bab hukm al-azl: 2600, Juz VII h. 309.

[15] Shahih Bukhari, Op. Cit, Kitab al-It’q bab من ملك من العرب رقيقا… , Juz VII h. 473, hadis yang semakna diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan lafadz

حدثنا عمر بن عبيد عن أبي إسحاق عن أبي الوداك عن أبي سعيد الخدري قال: سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن العزل فقال ليس من كل الماء يكون الولد إذا أراد الله أن يخلق شيئا لم يمنعه شيء

Hadis diatas muncul ketika terjadi peperangan dan umat Islam mengalami kemuliaan  dari peperangan tersebut. Kemudian mereka hendak bersenang-senang dan hal tersebut ditanyakan kepada nabi, lalu nabipun menjawab dengan menyebutkan hadis diatas. Lihat Ibn Hamzah Al-Husaini Al-Hanafi al-Dimsyaqi, Asbabul Wurud, (Edisi Indonesia: Diterjemahkan oleh H. M. Suwarta Wijaya dan Drs. Zafrullah Salim, cet. IX; Kalam Mulia: Jakarta, 2006), Jilid I, h. 217.

[16] http://www.368.multiply.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: