Oleh: TH Khusus Makassar | 3 Januari 2010

HUKUM POLIGAMI DALAM ISLAM

HUKUM POLIGAMI DALAM ISLAM

Oleh: KM. Muhammad, S.Th.I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Akhir tahun 2006 ditutup dangan beberapa kejadian-kejadian besar, mulai dengan musibah gempa bumi, tsunami hingga bencana Lumpur gas Lapindo. Di dunia entertainment, kawin cerai selebritis, narkoba yang memakan korban selebritis hingga permasalahan perselingkuhan pejabat Negara. Yang juga tidak kalah menarik adalah berita tentang Poligami tokoh atau lebih tepat ulama terkenal yang begitu disanjung dan diagung-agungkan masyarakat, yaitu KH. Abdullah Gymnastiar.

Hal ini bukanlah sesuatu yang baru, jauh sebelum Aa Gym, di negeri ini banyak sudah sederet pengusaha, kiai, ulama, politisi, artis maupun tokoh masyarakat yang melakukan praktek Poligami dengan berbagai alasan.

Ekonomi yang mapan terkadang menjadi salah satu alasan seseorang melakukan poligami. Atas nama kenikmatan (bukan untuk perempuan tertentu) laki-laki terobsesi untuk melakukan poligami. Oleh karna itu, banyak laki-laki yang secara diam-diam menyimpan niat untuk berpoligami, tapi karna kondisi ekonomi tidak memungkinkan, maka poligami sekedar mimpi belaka. Alasan-alasan lain pun muncul, mulai dari teks-teks kitab suci, praktek poligami Nabi SAW. yang terkadang dijadikan legitimasi untuk membolehkan poligami, hingga alasan-alasan yang remeh-remeh, seperti demi menghindari lubang perzinahan dan perselingkuhan. Tapi ujungnya yang terjadi hampir selalu merupakan suatu penundukan laki-laki (egoisme suami) atas perempuan (istri).

Secara konseptual al-Qur’an telah memberikan satu kata kunci yang mengikat praktek poligami yang sebelumnya menjadi tradisi masyarakat Arab yaitu kedilan. Kedilan merupakan konsep dasar di dalam ajaran Islam. Keadilan menjadi ruang yang mempertemukan dan sekaligus mempersatukan antara eksistensi laki-laki dan perempuan, baik secara seksual, sosial maupun politik. Al-Qur’an tidak pernah berbicara masalah poligami dalam konteksnya yang khusus. Poligami dibicarakan justru sebagai asal mula dari tradisi masyarakat Arab yang melakukan ketidakadilan terhadap anak yatim yang perwaliannya berada ditangan kerabat laki-lakinya. Suatu kekeliruan jika menganggap Islam—dalam kasus ini—melegalisasi tradisi Arab menjadi ajaran agama. Islam justru melakukan kaunter budaya terhadap praktek-praktek yang tidak manusiawi dan melecehkan martabat manusia.

Memahami teks-teks kitab suci al-Qur’an, tentu selayaknya diletakkan pada konsep dasarnya. Dan memahami praktek Poligami, dengan demikian tidak cukup dikembalikan secara tekstual pada firman Tuhan, tetapi juga meletakkannya dalam ruang sosio-kultural pada saat firman suci itu mewujud ke dalam bahasa manusia yang ditangkap oleh Nabi Muhammad SAW.

Tentang  kebolehan poligami, sebagian besar ulama menerima dengan syarat mampu berlaku adil dan yang diharamkan adalah menikahi lebih dari empat karna ada juga yang berpandangan bahwa jumlah maksimal perempuan yang boleh dinikahi oleh orang ynag mampu berlaku adil, bukan empat orang tapi sembilan. Tapi, sebagian ulama yang lain tidak menerima poligami dan lebih memilih monogami karna sikap adil dalam poligami menurutnya tidaklah mungkin dan menganggap poligami hanyalah sebagai pintu darurat.

  1. Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas, kami akan melanjutkan dengan merinci pembahasan berangkat dari sebuah rumusan masalah sebagai berikut :

  1. Apa yang dimaksud dengan Poligami ?
  2. Benarkah Islam mensyariatkan Poligami ?

PEMBAHASAN

  1. A. Pengertian

Secara kebahasaan kata “poligami” berasal dari bahasa Yunani (poly, apolus=banyak;gamein atau gamous=kawin atau perkawinan). Jadi, poligami berarti “perkawinan yang banyak” atau “perkawinan dengan lebih darisatu orang”, baik pria maupun wanita. Poligami bisa dibagi atas poligini (seorang laki-laki dengan lebih dari seorang perempuan) dan poliandri (seorang perempuan  dengan lebih dari seorang laki-laki).[1]

Islam, sebagaimana terrepresentasikan dalam tradisi fikih, menyebut praktek poligami dengan istilah ta’addud al-zaujat. Namun demikian, istilah ini  dalam sejarah pemikiran Islam secara umum digunakan untuk menunjuk pada praktek poligami.

Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan istilah poligami tapi yang dimaksud adalah poligini karna istilah poligami (menurut penulis) sudah diidentikkan dengan perkawinan seorang laki-laki dengan lebih dari seorang perempuan dan poliandri sendiri sudah jelas ketidakbolehannya, karna bertentangan dengan fitrah manusia dan mengaburkan nasab anak yang dilahirkan.[2]

  1. B. Poligami dalam Islam

Berbicara masalah poligami berarti berbicara tentang surah an-Nisa’ [4] ayat 3 Allah SWT. berfirman :

وإن خفتم أن لا تقسطوا في اليتامى فانكحوا ما طاب لكم من النساء مثنى وثلاث ورباع وإن خفتم أن لا تعدلوا فواحدة أو ماملكت أيمانكم ذلك أدنى أن لا تعولوا

“Dan jika kamu takut tidak dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil, maka kawinilah seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki yang demikian itu adalah lebih dekatkepada tidak berbuat aniaya.”[3]

Ayat inilah yang sering dipakai untuk menjelaskan tentang boleh atau tidaknya poligami. Dan tema poligami muncul ketika para ulama memasuki pengertian teks yang berbunyi: ”matsna wa tsulatsa wa ruba’ fa’in khiftum anla ta’dilu fawahidah”. Terkait dengan pemahaman para ulama tentang maksud ayat tersebut, berikut kami mencoba untuk mengklasifikasikan ulama-ulama yang pro-poligami dan yang kontra-poligami.

  1. Ulama Pro Poligami.
  1. Al-Jashshas (w.980)

Al-Jashshas, berkaitan dengan ayat ini, mengatakan bahwa praktek poligami boleh dilakukan dengan syarat, sebagai berikut: laki-laki mempunyai kemampuan berlaku adil untuk para istri. Pengertian dan ukuran keadilan disini menurut dia adalah kedilan material (tempat tinggal, nafkah, pekerjaan dan sejenisnya) dan keadilan non material (seperti rasa kasih sayang, kecenderingan hati, dan seterusnya). Dan dia mengakui bahwa kemampuan berbuat adil di bidang non material ini sangat berat, sebagaimana ditegaskan sendiri oleh Allah SWT. dalam surah al-Nisa’ [3] : 129[4]

  1. Al-Zamakhsyari (w.538)

Al-Zamakhsyari juga membolehkan praktek poligami. Bahkan, ketika mengulas kata matsna wa tsulatsa wa ruba’, dia berpandangan bahwa jumlah maksimal perempuan yang boleh dinikahi oleh laki-laki yang mampu berlaku adil, bukan empat orang, tetapi sembilan. Alasannya, karena kata sandang athaf wawu didalam kalimat ini berfungsi sebagai penjumlah (li al-Jami’). Namun terkait dengan jumlah maksimal ini ditolak oleh al-Qurthubi (w.1272). alasannya, karna ada kasus pada zaman Rasulullah, ketika Harits bin Qais masuk Islam dan ketika itu ia mempunyai istri delapan orang, Nabi SAW. Menyuruh dia untuk memilih empat diantaranya dan menceraikan sisanya. Meskipun demikian, al-Qurthubi sama-sama menganggap bahwa poligami boleh dilakukan dengan syarat laki-laki harus mampu bersikap adil dalam perihal kasih sayang, hubungan biologis, pergaulan dan pembagian nafkah.[5]

  1. Al-Syawkani (w. 1832)

Al-Syawkani, di dalam Fath al-Qadir juga memahami ayat ini terkait dengan kebolehan poligami, namun sama dengan al-Qurthubi, dia berpendapat bahwa haram hukumnya menikahi lebih dari empat wanita dalam satu waktu. Alasannya, karena bertentangan dengan sunnah Nabi yang hanya memperbolehkan sahabatnya beristri maksimal empat orang perempuan.[6]

  1. Sayyid Quthb

Sayyid Quthb berpendapat bahwa poligami merupakan rukhsah (keringanan). Oleh karena itu, ia hanya bisa dilakukan dalam keadaan darurat dan benar-benar mendesak. Dan kebolehan itu, menurutnya, masih disyaratkan si laki-laki mampu berbuat adil terhadap istri-istrinya. Keadilan yang dimaksud di sini adalah dalam hal nafkah, muamalah, pergaulan dan pembagian malam. Bagi laki-laki (suami) yang tidak mampu adil, menurut dia diharuskan cukup satu saja. Dan bagi yang mampu berbuat adil terhadap istri-istrinya, diperbolehkan meakukan poligami dengan jumlah istri dalam satu waktu maksimal empat orang.[7]

  1. Al-Maraghi

Al-Maraghi dalam kasus ini mengatakan bahwa kebolehan berpoligami merupakan kebolehan yang dipersulit dan diperketat. Orang melakukan poligami hanya dalam kondisi darurat dan benar-benar membutuhkannya. Beberapa alasan yang membolehkan poligami menurutnya adalah : istri mandul, sementara itu keduanya stau salah satunya mengharapkan keturunan, si suami mempunyai kemampuan seks yang tinggi sementara istri tidak mampu melayani sesuai dengan kebutuhannya, sisuami mempunyai harta yang banyak untuk membiayai segala kepentingan keluarga, mulai dari kepentingan istri hingga kepentingan anak, jumlah perempuan melebihi dari jumlah pria (yang ini bisa terjadi karna adanya perang), banyaknya janda dan anak yatim yang perlu dilindungi, jumlah penduduk yang ternyata memang faktanya perempuan jauh lebih banyak ketimbang laki-laki.[8]

  1. Ulama Kontra Poligami
  1. Muhammad ’Abduh

Menurut Muhammad ’Abduh, semangat pernikahan dalam al-Qur’an adalah monogami. Memiliki lebihdari seorang istri diperkenankan hanya dengan satu syarat: si suami mampu berlaku adil (kepada istri-istrinya), dan kalau tidak, ia ditolak. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa sebenarnya dalam Islam tidak ada dorongan atau anjuran untuk berpoligami, yang ada justru kecaman terhadapnya.

  1. Fazlur Rahman

Ketika mengomentari hal ini, Fazlur Rahman mengemukakan bahwa dalam hukum ada aspek legal dan cita moral al-Qur’an. Melalui distingsi ini kaum muslim tidak hanya dapat memahami orientasi al-Qur’an yang sejati, namun juga dapat memecahkan problem-problem kompleks tertentu yang berkaitan dengan pembaruan perempuan. Yang benar tampaknya bahwa diizinkannya piligami aalah pada tahap legal, sementara sanksi-sankai yang diberikan kepadanya pada hakikatnya adalah sebuah cita-cita moral yang mana masyarakat diharapkan bergerak kearahnya , karena tidaklah mungkin untuk menghapuskan poligami secara sekaligus.

  1. Mahmud Syaltut

Menurut Syaltut, poligami bukanlah sesuatu yang dianjurkan oleh syari’at. Ia boleh dilakukan dengan satu syarat: si suami mampu bersikap adil (terhadap istri-istrinya), sebagaimana dalam surah an-Nisa’[4]:3. namun keadilan dalm konteks ini, sesuatu yang tidak mungkin, sebagaimana yang ditegaskan dalam surah an-Nisa[4]:129. Maka, kesimpulannya poligami tidak boleh.

  1. Nashr Hamid Abu Zayd

Praktek poligami pada masa pra Islam, tidak terbatas. Islam datang kemudian membatasinya dengan maksimal empat istri dan satu syarat: suami mampu brlaku adil (kepada istri-istrinya). Sikap adil dalam poligami tidaklah mungkin, maka monogami lebih ditekankan. Tujuan akhir legalisasi Islam adalah monogami.

  1. Qasim Amin

Qasim Amin berpendapat bahwa  pada QS. An-Nisa’[4]:3, sekilas tampak bahwa Islam membolehkan praktek poligami, padahal sebenarnya Islam mengecamnya.

Sebelum lebih jauh membahas poligami, perlu diketahui bahwasanya Islam datang untuk membatasi poligami yang dalam tradisi arab sebelum datangnya Islam tidak ada batasan jumlahnya, bukan datang dengan seruan berpoligami. Sebagaimana yang terjadi pada kasus Gailan bin salamah ats-Tsaqafi yang masuk Islam, dan dia mempunyai sepuluh istri. Maka Rasulullah SAW. menyuruhnya untuk memilih empat orang dari mereka dan menceraikan enam yang lainnya.[9]

Dari paparan diatas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa pada dasarnya semua  cendekiawan yang kontra terhadap polgami diatas mengakui adanya poligami, selain Qasim Amin, hanya saja mereka kelihatannya  lebih mengutamakan monogami bila dibandingkan dengan poligami. Dan yang menjadi alasan utama mereka dalam mendahulukan monogami atas poligami adalah masalah keadilan terhadap istri-istri. Karena menurut mereka, sekarang ini, sangat sulit bahkan tidak ada orang yang dapat berlaku adil kepada istri-istri mereka.

Lalu keadilan yang bagaimanakah yang di maksud dalam ayat ke-129 dalam  surah an-Nisa’ ?

Jika ayat tersebut dikaji secara tekstual  (berdasarkan  makna yang ada), hukum poligami bisa ditoleransi selama suami dapat berbuat adil. Mayoritas ulama berpendapat bahwa adil hanya dalam kebutuhan materi. Sementra dalam masalah immateri, perlakuan tidak adil tersebut bisa ditolerir. Pendapat ini didasarkan pada hadits Nabi SAW yakni ketika beliau merasa berdosa tidak mampu berbuat adil kepada para isti beliau.[10] Ayat 129 ini merupakan penjelas ayat QS.an-Nisa’:3 . dengan begitu kebolehan beristri lebih dari satu harus dikaitkan dengan syarat adil tidaknya suami. Tidak lain, karena ayat 3 sebelumnya mengaitkan syarat adil harus bersesuaian dengan masyruth (kebolehan kawin lebih dari seorang). Namun hal itu hanya ada dalam tataran teori. Pada tataran praktis, syarat itu sangat sulit terwujud. Perlakuan tidak adil tersebut pasti terjadi diantara istri-istri. Maka, seolah-olah agama sengaja memasang ayarat yang sangat suliut untuk dipenuhi, agar manusia tidak sembarangan  melakukan poligami.[11]

Namun demikian, pintu poligami tidak bisa dikatakan sudah terkunci rapat-rapat. Sebab tidak tertutup kemungkinan ada masalah yang besar di balik poligami. Bisa jadi masalah yang ditimbulkan lebih besar dari kekhawatiran adanya mafsadah. Islam tidak mungkin akan mengabaikan masalah tersebut hanya demi menjaga perasaan istri kedua. Ketika sang istri positif mandul, sedangkan suami sangat menginginkan seorang keturunan, apakah suami tetap dilarang poligami? Tentu tidak!. Dalam hal seperti ini poligami dapat dibenarkan sebabada mashlahah yang lebih besar.

Sedangkan keadilan menurut  Qurash Shihab, sebagaimana yang disebutkan dalam tafsir al-Misbah, mengatakan bahwa pada ayat ketiga surah an-Nisa’, sang suami diperintahkan untuk berlaju adil diantara istri-istrinya, dan pada ayat ke-129 ini Allah menegaskan bahwa keadilan yang dimaksud  bukanlah keadilan dalam hal cinta. Karena cinta atau suka pun dapat dibagi. Suka yang lahir atas dorongan perasaan dan suka  yang atas dorongan akal. Obat yang pahit, tidak dsukai oleh siapapun,  ini berdasrkan perasaan setiap orang. Tetapi obat yang sama akan di sukai dicari dan diminum karena akal si akit mendorongnya menyukai obat itu walau ia pahit. Demikian suka atau cinta dapat berbeda. Yang tidak mungkin dapat diwujudkan disini adalah keadilan dalam cinta atau suka berdasarkan perasaan, sedang suka yang berdasarkan akal, dapat diusahakan manusia, yakni memperlakukan istri dengan baik, membiasakan diri debgan kekurangan-kekurangannya, memandang semua aspek yang ada padanya, bukan hanya aspek keburukannya. Inilah yang dimaksud dengan ”Janganlah kamu terlalu cenderung( kepada orang yang kamu cintai), danjangan juga terlalu cenderung mengabaikan yang kamu kurang cintai.[12]

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Dari pemaparan diatas, kita bisa mengambil beberapa kesimpulan tentang poligami, diantaranya:

  • Al-Qur’an tidak menjelaskan hukum poligami (QS.an-Nisa’[4]:3).
  • Kebolehan poligami hanyalah merupakan solusi ketika tujuan perkawinan sudah tidak terpenuhi.
  • Keadilan dalam poligami, bukanlah keadilan dalam hal cinta.
  • Monogami adalah jalan yang terbaik.
  • Pintu poligami tertutup, tapi tidak dikunci.
  1. B. Harapan

Semoga penulis dan pembaca makalah ini mendapat limpahan rahmat dan hidayah Allah sehingga menjadi pembela Islam ditengah-tengah masyarakat yang carut-marut dan semoga Allah senantiasa memberikan ampunan dan ridha-Nya. Amin.

REFERENSI

& Ash-Shiddiqi, T.M. Hasbi, prof, Dkk, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Madinah Munawwarah: Kerajaan Saudi Arabiyah: Majamma’ al Malik Fahd Lithiba’at al Mushaf asy Syarif, 1418 H.

& Azyumardi  Azra, dkk, Esiklopedi Islam, Jakarta, 2005.

& Irawan, Chandra Sabtia, Monogamy Atau Poligami, Yogyakarta: An-Naba’, 2007.

& ‘Ali Jum’ah, al-Bayan, Mesir: al-Muqtham lin-Nasyri wa at-Tauzi’, 2005.

Islah gusmian, Mengapa Nabi Muhammad Berpoligami?,Yogyakarta: Pustaka Marwa, 2007.


[1] Azyumardi  Azra, dkk, Esiklopedi Islam, Jakarta, 2005, jilid:5, h.306.

[2] Candra Sabtia Irawan, Monogamy Atau Poligami, Yogyakarta: An-Naba’, 2007, h.21.

[3] QS : an-Nisa’ [4], 3.

[4] Islah gusmian, Mengapa Nabi Muhammad Berpoligami?,Yogyakarta: Pustaka Marwa, 2007, h.166-167.

[5] Ibid, h. 167.

[6] Ibid, h. 167-168

[7] Ibid, h.168

[8] Ibid.

[9] ‘Ali Jum’ah, al-Bayan, Mesir: al-Muqtham lin-Nasyri wa at-Tauzi’, 2005, h.45.

[10] Lihat Syihab al-Din Abi al-Abbas Ahmad bin Muhammad al-Syafi’I al-Qasthalani, Irsyad al-Sari syarh Shaih al-Bukhari, Juz XI(Beirut:Dar al-Kutub al-Ilmiyah 1996M/ 1416 H), h. 502

[11] Lihat Fiqhi Realitas, Respon Ma’had Aly terhadap hukum Islam kontemporer, Pustaka pelajar, cet.I, 2005.

[12] Lihat Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, ( Jakarta: Lentera Hati,2002), vol.2, h. 607


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: