Oleh: TH Khusus Makassar | 3 Januari 2010

DISORIENTASI dalam TASAWWUF

DISORIENTASI dalam TASAWWUF

oleh: KM. Sudirman, S.Th.I

BAB 1

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Sebagaimana kita kenal bahwa kaum sufi lebih banyak mendekatkan dirinya kepada Allah melalui pendekatan-pendekatan zikir, dan banyak pulah dari mereka yang melakukan uzlah tuk penyucian dirinya, itu tidak lain agar mereka tidak larut kepada kehidupan dunia  yang hedonis yang jauh dari nilai-nilai Ilahiyyah. Lain halnya kalau melihat bahwa Barat akhir-akhir ini telah bangkit perhatiannnya terhadap tasawuf atau penyucian jiwa; dan telah lahir perhatian terhadapnya dikalanngan kaum terpelajar moderen di dunia islam sendiri. hal ini nampaknya karena ia merasa  cemas menghadapi masa depan lantaran kurang dipahaminya  pesan-pesan agama-agama terdahulu yang dianut Barat  khususnya agama keristen, yang kandungan ajaranya semakin tak terhayati; kerinduan menyaksikan pengalaman kerohanian.

Kini perhatian mereka beralih kepada  tasawuf, yang nampaknya hampir saja tak terselematkan dan terkebiri sesuai dengan mentelitas  mereka yang tak terkendali.

  1. B. Rumusan msalah

Dari paparan yang ,kami angkat diatas , kami mencoba mengambil seatu rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Apa yang dimaksud dengan disorentasi manusia moderen,beserta penyebabnya?
  2. Dan  apa solusisinya ?

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Disorentasi Manusia Moderen

Disorentasi adalah kesalahan arah,tujuan, serta maksud. Sementara manusia moderen ialah manusia yang mendewa-dewakan  ilmu pengetahuan dan teknologi dan  industri.dan masyarakat moderen menurut Ata’ Muzhar, ditandai  oleh lima hal, yakni: pertama, berkembnnya mass culture karena pengaru kemajuan mass media sehingga kultur tidak lagi menjadi lokal. Kedua,tumbuhnya sikap lebih mengakui kebebasan betindak manusia menuju perubahan masa depan.Ketiga,tumbuhnya berfikir rasional. keempat,tumbuhnya sikap hidup yang materialistik. Kelima,meningkatnya laju urbanisasi.

Sebagai akibat modernisasi dan industriakisasi, kadang-kadang manusia mengalami degradasi moral yang dapat menjatuhkan harkat dan martabanya,meluncur bagaikan binatang. Bahkan lebih hina daripadanya.

Masyarakat moderen yang mempunyai ciri tersebut, ternyata menyimpan problem hidup yang sulit dipecahkan.Rasionalisasi, sekularisasi, materialime, dan lain sebagainya ternyata tidak menambah kebahagian  dan ketentraman  hidupnya, akan tetapi sebaliknya menimbulkan kegelisahan hidup.Sebab mereka bergerak menjauh dari pusat, sementara pemahaman  yang berdasrkan wahyu mereka tinggalkan hidup dalam sekuler.

Selanjutnya  bagaimana zuhud sebagai upaya pembentukan  sikap terhadap  dunia  di masa moderen seperti in. Untuk mengungkap hal ini, maka  perlu  melihat masyarakat moderen itu[1].

Masyarakat moderen ialah masyarakat yang cenderung menjadi sekuler. Hubungan antara anggota masyarakat tidak lagi atas dasar perinsip tradisi atau persaudaraan. Masyarakat bebas terhdap kontrol agama  dan pandangan dunia metafisis,ciri-cirinya menghilngkan nilai sakral terhdap dunia.Meletakkan hidup manusia dalam konteks kenyataan sejarah, dan penisbian nilai-nilai.

Masyarakat yang demikian  adalah masyarakat yang dikatakan the post- industrial society telah kehilangan Visi ilahi.masyarakat demikian telah tumpul  penglihatan itlectnrusnya dalam melihat realita hidup dan kehidupan. Kehilangan visi keilahian ini bisa mengakibatkan timbulnya gejala pisikologis, yakni adanya kehampaan spiritual, dan akibatnya akan kita jumpai banyak orang yang stres, resah, bingung, gelisah, gunda gulana dan stimuk penyakit kejiwaan, akibat tidak mempunyai pegangan dalam hidup ini.

B. Spritualisme Sebuah Solusi

Islam diturungkan sebagai rahmatan lil Alamin, diturunkan dalam konteks zamannya untuk memecahkan problem kemasyarakatan pada masa itu.Manusia moderen mendamba Allah. Kalau kita melihat dekade belakanagan ini menyaksikan adanya kebutuhan baru yang besar akan spritualisme, baik di dunia secara  umum maupun di kalangan kaum muslimin. Kebutuhan spritualisme di negara-negara  maju sudah lama  terasa., dibandingkan  dengan negara-negara  berkembang. Di Amerika  Serikat, misalnya, kebutuhan  akan spritualisme semakin kuat sejak tahun 1960-an. Hal ini bisa kita lihat  dari amraknya budaya  hippies, yang memberontak terhadap nilai-nilai kemapanan. Mereka pun mencari-cari alternatif-alternatif baru. Ada  yang positif, seperti ketika mereka pergi ke India untuk  belajar yoga dan Hinduisme, tetapi tidak sedikit  yang tampak negatif. Maka bermuculanlah beragam bentuk spritualime model kultus-kultus.

Sebuah majalah terkemuka  di Amerika Serikat. Time beberapa tahun lalu melaporkan adanya kecendrungan pada masyarakat Aamerika  zserikat yang meningkat  unntuk kembali kapada Tuhan. Majalah itu, berdasarkan hasil; polling yang mereka buat,mengatakan bahwa saat ini lebih banyak orang(AS) yang berdoa ketimbang ”berolaraga, pergi kebioskop ataupun berhubungan seks” kecendrungan akan spritulisme semakin tinggi.

Memang, disamping ditandai oleh derasnya arus informasi dan dahsyatnya arus perkembangan teknologi informasi. zaman ini juga ternyata diwarnai arus baru ditengah masyarakat dunia,yaitu kerinduan pada kesejukan batin dan kedamaian jiwa, dan mencari inspirasi dan kebijakan dari filsafat timur dan informasi tentang persoalan  inner-self menjadi sesuatu trendy belakangan ini.

Di Amerika Serikat dan Eropa, karya-karya jalaluddin Rumi  yang dicetak dalam bentuk digitalmenjadi best seller. Satu asumsi menyebutkan bahawa hasrat yang begitu besar terhadap rumi merupan wujud keinginan mesysarakat Amerika untuk menemuka life styl alternatif dari dunia moderen yang sudah jenuh.[2]

Setelah  peroblem keumatan  berkembang, maka sebagai  tuntutan historis kultural  dan historis, muncullah mazhab  dalam berbagai bidang, seperti politik, ilmu kalam, fiqih  dan tasawuf, yang selanjutnya menampilkan diri  sebagai disiplin ilmu keislaman. Berbagai rumusan  mazhab itu tidak bisa terlepas dari konteks zamannya.

Dan tasawuf  sebagai salah satu disiplin ilmu keislaman  tidak bisa keluar  dari kerangka itu; rumusan ajaran tasawuf klsik,  khususnya yang menyangkut konsep zuhud sebagai maqam yang diartikan  sebagai sikap menjauhi dunia dan isolasi terhadap  keramaian duniawi. Semata-mata ingin bertemu dengan makrifat kepada Allah SWT., sebagaimana yang dirumuskan  oleh ’ ulama’ terdahulu Hasan Al-Basri . disisi lain hal tesebut bisa diberi makna  bahwa situasi dan kondisi  pada  waktu itu  menghendaki  demikian,  yakni sebagai reaksi terhadap sistem sosial, politik dan ekonomi.

Ketika islam telah tersebar  kemana-mana, maka melahirkan kemakmuran  terhadap negara  islam, disatu pihak,dan pertikaian politik interen umat islam, dipihak lain, sehinggga menimbulkkan  perang saudara yang berawal dari fitnatulkubra serta perilaku politik pada waktu itu.

Melihat keadaaan itu, sebagian ulama  menjauhkan diri dari keramaian dunia ( uzlah). Gerakan ini bisa bermakna etis, yakni gerakan yang memotres situasi  dan kondisi  sosial politik dan ekonomi pada waktu itu. Dan ,konsep zuhud sangat ekstrim  setelah mengalami  perkembngan lebih lanjut, yakni tasawuf dalam bentuk tariqah.

Apabila masyarakat moderen ini menempatkan diri pada proporsinya, dan ingin menghilangkan problem psikologis dan etik, menurut Hossein Nasr ialah kembali kepada agama melalui tasawuf. Inti tasawuf ialah kesadaran adanya komunikasi dan dialog langsung antara manusia dengan Tuhannya, sebagai perwujudan dari ihsan .

Dalam kaitannya dengan disorentasi manusia moderen, maka secara praktis tasawuf mempunyai potensi besar karena mampu menawarkan pembebasan spritual, ia mengajak manusia mengenal dirinya sendiri dan akhirnya mengenal Tuhannya. Bagi tasawuf penyelesaian dan perbaikan  keadaan tidak dapat dengan sempurna hanya dicari dalam kehidupan lahir, karena kehidupan  lahir itu hanya merupakan gambaran atau kehidupan  manusia yang digerakkan oleh tiga kekuatan  pokok yang ada pada diri manusia, yaitu akal, syahwat,dan nafsu amarah. Jika ketiganya dapat diseimbngkan maka hidup manusia akan menjadi normal. Dengan kata lain perdamaian terletak pada perseimbangan.[3]


[1] Dr. Asmaran.As.,M.A. pengantar studi tasawuf (Rajawali pers, 2000) hal.57

[2] Haidar Bagir, buku saku tasawuf,( pustaka Iman,2005) hal.25

[3] Prof. Dr. H.M. Amin Syukur, M.A.zuhud di abad moderen (pustaka pelajar,2003) hal.179


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: