Oleh: TH Khusus Makassar | 1 Januari 2010

AHL AL – KITAB DI MATA AL – QUR’AN

AHL AL – KITAB DI MATA AL – QUR’AN

Revew Book oleh: KM. Muhammad Agus, S.Th.I

  1. Identitas buku       :

Judul                     : Ahl Al – Kitab, Makna Dan Cakupannya

Pengarang             : Dr.M.Galib M

Jumlah hal             : 208 hal

Penerbit                 : Para Madina

Tempat                  : Jakarta

Tahun                    : 1998

  1. Metodologi dan Pendekatan

Dalam menyusun bukunya, Dr.M.Galib M berusaha menjelaskan dan menggambarkan esensi ahlul kitab melalui dua bentuk pendekatan, yaitu :

  1. Pendekatan historis/ sejarah, hal ini disebabkan oleh sifat penelitian pustaka murni. Sehingga metode yang paling tepat adalah merujuk kepada buku-buku yang membahas tentang ahlul kitab
  2. pendekatan tafsir, hal ini sangatlah realistis karena kajian ini merupakan pandangan Al-Qur’an sehingga jalan terbaiknya adalah Al-Quran sendiri serta kitab-kitab tafsir dengan tidak melupakan pandangan-pandangan mufassir tentang ahlul kitab.
    1. Metode

Untuk lebih memfokuskan kajiannya, Pak Galib berusaha menyajikan menu tulisan berupa metode Maudu’i/Tematik yang dihidangkan kepada para pembaca melalui beberapa langkah, yaitu :

1)      Menghimpun dan memilah ayat yang terkait dengan ahlul kitab tanpa melupakan asbabul nuzul dan munasabahnya serta penjelasan nabi mengenai ayat tersebut.

2)      Mengumpulkan pendapat para ulama yang disertai dengan perbandingan-perbandingan tertentu.

3)      Menggambarkan aneka warna ahlul kitab.

4)      Menjelaskan bentuk-bentuk seruan Al-Qur’an kepada ahlul kitab, apakah berupa panggilan mesra sebagai bentuk kasih sayang, persahabatan, kekecewaan, ataupun interaksi sosial.

5)      Menyimpulkan kajian ini dengan bahasa yang ringkas dan mudah dipahami.

Pesan inti buku

Batasan Ahlul Kitab

Ahlul kitab adalah kata yang sudah tidak asing lagi bagi umat manusia, khususnya umat islam sebab kata ini merupakan sebutan bagi orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan islam. hanya saja para ulama tidak memiliki kesamaan pandangan tentang siapa yang dikatakan ahlul kitab. Sebagian ulama melihat yang dikatakan ahlul kitab setiap umat yang memiliki kitab yang dapat diduga sebagai kitab suci samawi, termasuk didalamnya kaum majusi.

Sementara pendapat lain (Abu Hanifah, ulama Hanafiah dan sebagian Hanabilah) mengatakan bahwa siapapun yang percaya pada salah seorang nabi, atau kitab yang pernah diturunkan Allah maka ia termasuk ahlul kitab, tidak terbatas pada kelompok penganut agama Yahudi dan Nasrani.

Lain lagi dengan Imam Syafi’iy, ia mengatakan bahwa istilah ahlul kitab hanya sebatas orang-orang Yahudi dan Nasrani keturunan Israil. Sedangkan bangsa-bangsa lain yang menganut agama Yahudi dan Nasrani tidak termasuk didalamnya.

Inilah salah satu gambaran perdebatan para ulama tentang batasan ahlul kitab, sekalipun Al-Qur’an secara tegas menunjukkan bahwa term ahlul kitab mengarah pada dua komunitas penganut agama samawi sebelum Islam (Yahudi dan Nasrani).akan tetapi pak Galib menyimpulkan bahwa penggunaan term ahlul kitab lebih bernuansa teologis dan bukan etnis. Karena itu, siapapun dan dari etnis manapun yang menganut agama Yahudi dan Nasrani, semuanya termasuk dalam kategori ahlul kitab. Meskipun kedua agama tersebut diperuntukkan kepada bani Israil.

Seruan Al-Qur’an Kepada Ahlul Kitab

Sebagaimana disebutkan diatas, bahwa ahlul kitab adalah kelompok yang sering diseru oleh Al-Qur’an, hanya saja dalam seruan-seruan tersebut memiliki perbedaan istilah. Hal ini tidak ada lain penyebabnya kecuali sikap dan perbuatan mereka. Banyak informasi yang disajikan Al-Qur’an sebagai petunjuk terhadap sikap ahlul kitab diantaranya Q.S Al Maidah : 13-14, Q.S At Taubah : 30, Q.S Al Baqarah : 65, dan beberapa ayat yang lainnya. Kesemuanya ini menunjukkan penyimpangan yang mereka lakukan didalam agamanya. Akan tetapi ini tidak berarti bahwa diantara mereka tidak ada yang menjaga dan konsisten terhadap aturan dan ajaran yang sebenarnya.

Sikap semacam inilah yang melahirkan beberapa istilah yang dipergunakan Al-Qur’an dalam menyeru mereka. Diantara contoh keanaeka ragaman istilah tersebut, ialah, terkadang Al Qur’an menyeru mereka dengan panggilan mesra dan penuh persahabatan, bahkan umat Islam diperintahkan untuk menjalin hubungan kerjasama dengan tetap berbuat baik dan berlaku adil serta hidup berdampingan dengan mereka selama tidak menimbulkan kerancuan aqidah dan tidak ada indikasi permusuhan dari mereka.

Al Quran juga terkadang menyeru mereka dengan penuh kemurkaan dan penuh kecaman. Akan tetapi kecaman tersebut bukanlah dalam bentuk final dari sikap Al Qur’an terhadap mereka, bahkan seruan semacam ini bisa dianggap sebagai peringatan atas pelaggaran yang mereka dilakukan agar berusaha untuk kembali kepada ajaran agama yang murni.

Seruan-seruan semacam ini yang tidak menunjukkan kebencian merupakan sebuah pelajaran yang sangat besar bahwa sikap dan perbuatan seseorang janganlah menjadi alasan untuk membenci dan memusuhi pelakunya. Namun kita harus tetap mengulurkan tangan persaudaraan dan keterbukaan. Sikap Al-Qur’an ini selaras dengan ungkapan Mahatma Ghandi : ”Hate the Sin and not the Sinner” (Boleh membenci dosanya tapi tidak boleh membenci orangnya).

Interaksi Sosial Dengan Ahl Al Kitab

Pada dasarnya ahlul kitab, dalam pandangan Al-Qur’an adalah kafir, ajaran merekapun juga sudah ternoda dengan hal-hal yang berbau syirik. Meski demikian, Al-Qur’an tetap membuka pintu interaksi dengan mereka misalnya saja memakan sembelihan meeka dan mengawini perempuan-perempuan mereka yang baik.

Akan tetapi, intraksi sosial semacam ini tetap menjadi perebatan dikalangan ulama. Sebagian mereka mengharamkan sembelihan ahl al kitab karena mereka tidak menjaga cara penyembelihan menurut syari’at Islam, mereka tidak meresa jijik memakan bangkai, darah, dan daging babi, merekapun tidak menyebut nama Allah dalam sembelihannya.

Ulama yang lain menghalalkan secara mutlak, akan tetapi ada juga diantara mereka yang memberikan syarat-syarat tertentu. Karena mereka memandang bahwa sembelihan tidak mensyaratkan penyebutan nama Allah, sepanjang sembelihan tersebut tidak dimaksudkan untuk selain Allah.

Demikian pula interaksi sosial dalam bentuk perkawinan /pernikahan. Yang pada intinya adalah Islam tetap mengizinkan pemeluknya untuk mengawini perempuan-perempuan mereka yang baik, tetapi hal tersebut bukan merupakan anjuran.

Inilah beberapa bentuk solidaritas yang dibangun oleh Islam, sekaligus merupakan sebuah kewajiban dan tugas yang harus di pertahankan agar tetap tercipta kehidupan yang harmonis dan penuh kebersamaan.

Kesimpulan

Dari gambaran dan penjelasan diatas pak Galib mengenai ahl al-kitab yang dituangkan dalam tulisannya, maka penulis dapat menarik kesimpulan, sebagai berikut :

  1. Ahl al-kitab adalah istilah yang diperuntukkan bagi penganut agama Yahudi dan Nasrani, siapa dan dari manapun asalnya.
  2. Karena sikap dan perbuatan ahl al-kitab, sehingga Al-Qur’an menyeru mereka dengan seruan yang berbeda-beda, termasuk seruan persahabatan dan celaan.
  3. Islam tetap memandang ahl al-kitab sebagai orang kafir , namun pintu interaksi dan kerjasama tetap terbuka, selama tidak merusak aqidah dan keyakinan.

Saran-Saran

Dengan membaca dan menelaah tulisan pak galib tentang ahl al-kitab, penulis hanya mampu menuliskan dua saran yaitu :

  1. Keagungan dan kemukjizatan Al-Qur’an merupakan sebuah pintu untuk memasuki luasnya ilmu Allah, sehingga sebagai penuntut ilmu agama dan akademisi perlu untuk meluangkan waktu membuka lembaran-lembaran KALAMULLAH mencari rahasia yang tekandung didalamnya.
  2. Kritik dan saran sangat diharapkan dari para pembaca, WALLAHU A’LAM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: