Oleh: TH Khusus Makassar | 31 Desember 2009

IMAN DALAM PENUTURAN AL-QUR’AN

IMAN DALAM PENUTURAN AL-QUR’AN

Oleh: Abu Bakar

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Sesungguhnya hal pertama yang wajib diketahui oleh setiap manusia dalam kehidupannya baik secara individu maupun sosial adalah keimanan, karena keimanan mencakup seluruh perkataan dan perbuatan, ketika keimanan terpatri dalam sanubari insan, maka ketaatan pun terpatri, dan jika keimanan tersebut terlepas dari sanubari insan, maka ketaatan terlepas sacara otomatis. Keimanan dalam hati akan tertanam jika mendapatkan asupan pengetahuan, sehingga yang menemukan keimanan dalam hatinya, maka akan mendapatkan petunjuk kepada jalan yang lurus sebagaimana firman Allah Swt yang Artinya:

Mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang Telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang Telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (Q.S Al-Baqarah : 3-4)

Tiga ayat di atas menjelaskan akan sifat-sifiat orang yang bertaqqwa dimana mereka adalah golongan yang mendapatkan hidayah Allah Swt dan kemenangan yang pasti.

Dan bagi mereka yang tidak menemukan keimanan dalam hatinya, maka mereka akan mendapatkan kegelapan hati telinga dan pikiran sehingga mereka tidak lagi mampu mendengarkan kebenaran apabila mengikutinya. Hal ini senada dengan firman Allah Swt yang Artinya :

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah Swt Telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. dan bagi mereka siksa yang amat berat.

Akan tetapi setelah berlalu zaman dimana Rasulullah Muhammad Saw diutus sebagai penutup para Nabi dan Rasul di muka bumi ini 14 abad yang lalu kemudian datanglah seolongan manusia yang bodoh dan berpura-pura bodoh akan agamanya disebabkan karena hakikat keimanan yang benar di dalam dada mereka belum tertanam dengan baik, fakta yang menunjukkan akan hal ini dimana banyak kita temukan diantara mereka yang mengamalkan ritual keagamaan dengan kekosongan iman atau mereka yang mengenal agama tetapi hampa keyakinan terhadap hal-hal yang gaib yang wajib untuk diimani dan bahwa di sana terdapat satu Zat tempat mengembalikan segala urusan ketika dalam keadaan susah dan bahwa di sana terdapat Zat yang bersifat abstrak yang menciptakan alam dan mengaturnya tempat menggantungkan seluruh perkara.

Berdasarkan pemikiran di atas, maka penulis dalam makalah ini berusaha untuk menjelaskan tentang iman dalam perspetif al-Qur’an.

  1. B. Rumusan Masalah

Adapun pembahasan yang akan kami angkat berdasarkan rumusan masalah berikut :

  1. Bagaimana hakikat iman menurut al-Qur’an ?
  2. Bagaimanakah karakteristik orang beriman menurut al-Qur’an ?

PEMBAHASAN

  1. A. Hakikat Iman Menurur Al-Qur’an

Kata Iman dan perubahannya di dalam Al-Qur’an terulang sebanyak 43 kali, adapun kata dasarnya yaitu أَمِن dan أَمَنَ dengan seluruh bentuk perubahannya, maka kita akan menemukan di dalam al-Qur’an akan terulang sebanyak 913 kali, jadi kata أَمِن dan أَمَنَ digabungkan dengan kata الإيمان dengan segala bentuk perubahannya terulang di dalam Al-Qur’an sebanyak 956 kali.[1]

  1. 1. Defenisi

Secara etimologi iman menurut para leksikograf bahasa arab bahawa kata Iman berasala dari akar kata :

أمَن وأمِن – أمنا : وثق به وأركن إليه، فهو آمن إيمانا أي صدقه ووثق به. وآمن له أي خضع وانقاد، فالإيمان هو التصديق المطلق نقيض الكفر وفضيلة فائقة الطبيعة بها نؤمن إيمانا ثابتا بكل ما أوحاه الله.[2]

Pengertian di atas menunjukkan bahwa iman adalah  at-Tashdiq al-Muthlaq (kepercayaan mutlak) yang merupakan lawan dari kata kufur yang berarti bahwa orang yang beriman adalah orang yang percaya kepada sesuatu dan merasa tenang terhadap kepercayaannya tersebut serta senantiasa tunduk dan patuh terhadap apa yang dipercayainya.

Berdasarkan pengertian leksikal di atas dapat dipahami bahwa iman adalah kepercayaan, akan tetapi Muhammad bin Shalih al-Ustaimin menolak ketika kata Iman secara etimologi dengan makna at-Tashdiq dengan alasan bahwa mendefinisikan sebuah kata dengan kata yang semakna harus disesuaikan dengan transitifitas dari kalimat yang disefenisikan sementara kata Tashdiq adalah kata kerja transitif dan kata Iman adalah kata kerja intransitif. Sebagai contoh kata tashdiq berasal dari akar kata Shidq dengan contoh kalimat Shaddaqtahu (kamu mempercayainya) kemudian pada kata Iman kita tidak dapat mengatakan dengan kalimat Amantahu akan tetapi harus dengan kalimat Amanta bihi (kamu percaya terhadnya). Berdasarkan analisis leksikal ini menunujukkan bahwa tidak mungkin mendefenisikan kata kerja intransitif yang tidak menghendaki adanya obyek kecuali dengan perantaraan huruf Jar dengan kata kerja transitif yang menghendaki dan menasab obyek. Oleh karena itu defenisi Iman secara etimologi lebih tepat adalah bermakna Iqrar (Pembenaran hati) dimana kata Iqrar juga merupakan kata kerja intransitif yang tidak menghendaki adanya obyek kecuali dengan perantaraan huruf Jar dan Iqrar (pembenaran hati) tidak mungkin ada tanpa tashdiq (kepercayaan).[3]

Meskipun demikian mayoritas ulama tafsir mendefenisikan kata Iman di dalam al-Qur’an secara leksilakal dengan makna at-Tashdiq (kepercayaan)

Adapun Iman dalam defenisinya secara termologi, maka akan ditemukan perbedaan pendapata antara mazhab-mazhab mutakallimin dengan perincian sebagai berikut :

  1. Iman menurut mayoritas Rafidhah (Syi’ah) adalah; Pembenaran hati terhadap Allah Swt dan Rasul-Nya, terhadap Imamah (kepemimpinan Islam) dan segala apa yang datang dari sisi mereka. Kelompok lain dari golongan ini berpendapat bahwa Iman adalah seluruh bentuk ketaatan. Sementara kelompok ketiga yaitu kelompok Ali bin Maitsam berpendapat bahwa Imana dalah sebuah nama tentang pengetahuan dan pembenaran hati atas segala bentuk ketaatan dan barang siapa yang malaksanakan segala bentuk ketaatan tersebut, maka keimannya sempurna, dan barang siapa yang meninggalkan salah satu dari bentuk ketaatan tersebut dengan tidak mengingkarinya, maka dia tidak dapat disebut sebagai Mu’min melainkan sebagai Fasiq.[4]
  2. Iman menurut Murji’ah terbagi kepada 12 pendapat  yaitu ;
    1. Iman adalah Mengenal Allah Swt dan Rasul-Nya dan mengetahui seluruh apa datang dari Allah Swt saja.[5]
    2. Iman adalah mengenal Allah Swt saja : demikian pendapat Abu al-Husain Al-Shalih demikian juga pendapat al-Jahmiyah.[6]
    3. Iman adalah mengenal Allah Swt dan tunduk kepada-Nya dengan meninggalkan kesombongan dihadapan-Nya serta mencintai-Nya. Demikianlah pendapat pengikut Yunus al-Samari. Menurut mereka bahwa barangsiapa yang di dalam diriny terkumpul keempat poin ini, maka ia adalah Mu’min dan jika salah satu dari keempat tersebut tidak terdapat dalam diri seseorang, maka dia telah kafir.[7]
    4. Pengikut Abu Syammar dan Yunus berpendapat bahwa Iman adalah mengenal Allah Swt dan tunduk kepada-Nya dan mencintai-Nya dalam hati dan membenarkan-Nya bahwa Dia-lah sat-satu-Nya yang tidak ada yang sama dengan-Nya ada dan atau tanpa pemberitahuan dari para Nabi-Nya, kalaupun tedapat pemberitahuan dari Nabi-Nya, maka pembenaran dan kepercayaan bagi mereka (para Nabi).[8]
    5. Iman adalah Mengenal Allah Swt dan Rasul-Nya. Demikianlah pendapat al-Tsaubaniyah (pengikut Abu Tsauban).[9]
    6. Kelompok an-Najjariyah berpendapat bahwa Iman adalah Mengenal Allah Swt dan Rasul-Nya, mengenal seluruh bentuk kewajiban yang datang dari-Nya dan tunduk terhadap-Nya, serta mengikrarkannya dengan lisan.[10]
    7. Iman adalah mengenal Allah Swt dengan pengetahuan kedua (yaitu pengetahuan yang merupakan hasil penelitian), mencintai dan tunduk kepada-Nya, dan membenarkan segala apa yang datang dari Allah Swt dan Rasul-Nya. Demikianlah pendapat al-Ghailaniyah, mereka perpendapat bahwa pengetahuan awal tentang Allah Swt belum merupakan bentuk keimanan.[11]
    8. Iman adalah pembenaran dengan hati akan Allah Swt dan mengenal-Nya bahwa tidak ada yang sama dengan-Nya, serta membenarkan dengan hati dan mengenal para nabi dan Rasul-Rasul-Nya serta seluruh apa yang dibawa oleh mereka dari sisi Allah Swt  sebagaimana yang telah dijelaskan oleh mayoritas kaum muslimin yang mereka nukil dari Rasulullah Saw seperti shalat, puasa dan yang semacamnya yang tidak terdapat pertentangan diantara mereka didalamnya. Demikianlah pendapat pengikut Muhammad bin Syabib.[12]
    9. Imam Abu Hanifah dan para pengikutnya (al-Hanafiyah) berpendapat  bahwa iman adalah mengenal Allah Swt dan pembenaran hati akan Allah Swt, mengenal Rasul-Nya dan membenarkan seuruh apa yang datang dari sisi Allah Swt tanpa penafsiran.[13] Imam al-Tahawy dari kalangan Hanafiyah menyebutkan dalam karyanya bahwa Iman menurut Abu Hanifah adalah pembenaran dengan lisan dan percaya dengan hati. Sementara menurut Abu Mansur al-Maturidy berpendapat bahwa pembenaran dengan lisan merupakan tambahan dan bukan berasal dari riwayat Abu Hanifah.[14]
    10. Menurut al-Tuminiyah atau al-Mu’adziyah (pengikut Abu Mu’adz al-Tuminy) beerpendapat bahwa Iman adalah segala hal yang dapat menjaga dari kemaksiatan.
    11. Menurut al-Marisiyah (pengikut Bisyr al-Marisy) berpendapat bahwa Iman adalah kepercayaan, karena iman menurut bahasa adalah kepercayaan, dan segala apa yang tidak dipercaya maka bukan iman. Dan menuerut mereka kepercayaan harus dengan hati dan lisan. Demikian pula pendapat Ibnu Rawandi.[15]
    12. Al-Karramiyah (pengikut Muhammad bin Karam) berpendapat bahwa Iman adalah kepercayaan dan pembenaran dengan lisan saja. Menurut mereka bahwa orang munafik yang hidup pada masa Rasulullah Saw mereka adalah mu’min sebenarnya.
  3. Imam Malik, Syafi’i, Ahmad, al-Auza’i, Ishak bin Rahawih dan seluruh ahli hadis dan ulama ahli Madinah serta mayoritas Mutakaillimin (dalam hal ini Mu’tazilah dan Khawarij) mendefenisikan Iman secara terminologi adalah percaya dengan hati, pembenaran dengan lidah, dan diimplementasikan oleh jasad.[16]

Dari pendapat-pendapat di atas penulis memilih pendapat mayoritas ulama dari kalangan Ahlussunnah wa al-Jama’ah dan Mutakallimin yang mengatakan bahwa Iman adalah : Kepercayaan dengan hati, pembenaran dengan lidah, dan terimplementasikan dalam perbutan jasad. Sebab defenisi ini sejalan dengan firman-firman Allah Swt di dalam Al-Qur’an dan sabda-sabda Rasulullah Saw di dalam banyak hadis shahih.

Meskipun demikian dapat dikatakan bahwa iman jika dilihat dari segi substansinya, maka iman adalah kepercayaan dalam hati. Sementara pengertian Iman di atas adalah iman yang diinjau dari tiga aspeknya yaitu substansi, obyek dan subyeknya.

  1. 2. Makna Iman di Dalam Al-Qur’an

Imam al-Ragib al-Asfahany dalam Mufradat al-Qur’an[17] setidaknya menyebutkan terdapat lima muara makna dari kata Iman yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Diantaranya adalah sebagai berikut :

Pertama: Bahwa kata Iman di dalam al-Qur’an bermakan syariat yang di bawa oleh Rasulullah Muhammad Saw  seperti yang tertera dalam firman Allah Swt :

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya:

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan Shabiin, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta beramal shaleh, Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q.S Al-Baqarah : 62)[18]

Imam Abu Ja’far al-Thabari kerika mengomentari ayat di atas beliau berkata :

“Makna kata Iman yang disandarkan kepada orang mukmin pada ayat ini adalah ketetapan iman dalam diri mereka dengan tidak menggantinya, adapun Iman yang disandarkan kepada kaum Yahudi, Nasrani dan Sabiin adalah kepercayaan dan pembenaran mereka terhadap kenabian Muhammad saw serta seluruh yang datang kepada beliau (rislah), maka barang siapa diantara mereka yang beriman kepada Muhammad Saw serta risalah yang dibawa oleh beliau, dan beriman kepada hari Akhirat dan beramal shaleh, serta tidak menggantinya dan merubahnya hingga ia meninggal, maka baginya pahala atas segala yang ia kerjakan dan bagi mereka pahala disisi Allah sebagaiman yang disifatkan oleh Allah tentang mereka dalam ayat ini”[19]

Penjelasan Imam al-Thabary dalam mengomentari ayat di atas menunjukkan bahwa keimanan yang dapat mengantarkan kepada pahala yang besar dan rasa aman adalah keimanan dengan mengikuti syariat yang dibawa oleh Muhammad Saw, karena syriat beliau merupakan syariat penutup dan penyempurna atas syariat Rasul-rasul terdahulu. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kata iman yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah syriat khatam an-Nabiyyin Muhammad Saw. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah Saw :

لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به

Artinya:

“Tidak beriman salah seorang diantara kalian hingga nafsunya mengikuti apa di utuskan kepadaku”. [20]

Hadis di atas menunjukkan bahwa kesempurnaan iman seseorang adalah ketika ia berimanan atas kenabian Muhammad Saw dan syariat yang di bawah oleh beliau Saw.

Di dalam sebuah riwayat dari sahabat Abdullah bin Tsabit R.A beliau berkata; bahwasanya suatu ketika Umar bin al-Khaththab datang menghadap Rasulullah saw dan berkata; “Aku singgah dirumah salah seorang saudaraku dari bani Quraidhah kemudian dia menuliskan untukkan kumpulan (ayat-ayat) Taurat, bolehkah aku memperlihatkannya kepadamu?”, kemudian wajah Rasulullah Saw berubah, Abdullah berkata; aku bertanya kepada Umar; ‘Tidakkah engkau melihat terjadinya perubahan pada wajah Rasulullah saw?’, Umar R.A berkata: “Kami ridha ber-Tuhaan-kan Allah, beragamakan Islam, dan ber-Rasul-kan Muhammad Saw” kemudian beliau berkata; “Maka pada saat itu wajah Rasulullah Saw berseri-seri kemudian bersabda :

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَصْبَحَ فِيكُمْ مُوسَى ثُمَّ اتَّبَعْتُمُوهُ وَتَرَكْتُمُونِي لَضَلَلْتُمْ إِنَّكُمْ حَظِّي مِنْ الْأُمَمِ وَأَنَا حَظُّكُمْ مِنْ النَّبِيِّينَ

Artinya:

“Dan demi jiwaku ditangan-Nya kalau seandainya Musa berada diantara kalian kemudian kalian mengikutinya dan meninggalkanku, maka kalian pasti akan tersesat, sesungguhnya kalian adalah bagianku dari kalangan umat, dan aku adalah bagian kalian dari kalangan para Nabi”.[21]

Ayat lain yang menjelaskan bahwa makna dari kata iman di dalam al-Qur’an adalah syariat Islam firman Allah Swt dalam Q.S al-Maidah: 5

وَمَن يَكْفُرْ بالإيمان فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الآخرة مِنَ الخاسرين

Artinya:

Barangsiapa yang kafir (ingkar) terhadap iman, maka terhapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.

(Q.S Al-Maidah : 5)

Yang dimaksud dengan iman dalam ayat ini adalah syariat Islam dan kekafiran adalah pengingkaran dan berlepas diri darinya.[22] Oleh karena itu Rasulullah saw menjadikan landasan syriat Islam adalah keimanan kepada enam perkara sebagaimana sabda beliau ketika menjawab pertanyaan Jibril A.S:

قال : يا محمد ما الإيمان ؟ قال: أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر والقدر خيره وشره

Artinya:

“Jibril berkata: Wahai Muhammad apa itu Iman ? Rasulullah Saw menjawab: “Iman adalah engkau percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan kepada hari akhirat, serta percaya kepada takdir baik dan buruk”.[23]

Kedua: Kata iman di dalam al-Qur’an datang dalam bentuk pujian, yaitu panggilan jiwa untuk percaya akan kebenaran yang datang dari Allah yaitu dengan jalan membenarkan dalam hati, pembenaran lisan, dan pengaplikasian lewat pekerjaan jasad diantara firman Allah Swt:

وَالَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ أُولَئِكَ هُمُ الصِّدِّيقُونَ وَالشُّهَدَاءُ عِنْدَ رَبِّهِمْ لَهُمْ أَجْرُهُمْ وَنُورُهُمْ

Artinya:

Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu orang-orang Shiddiqien dan orang-orang yang menjadi saksi di sisi Tuhan mereka. bagi mereka pahala dan cahaya mereka.

(Q.S Al-Hadid : 19)

Berkata Mujahid : “Semua yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka adalah orang-orang Shiddiqin.[24]dan setiap orang mukmin adalah shiddiq dan syahid (saksi) “. Pendapat mujahid ini sejalan dengan riwayat dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “Ash-Shiddiqun” dalam ayat ini adalah mereka yang mengesakan Allah (al-Muwahhidun).[25]

Ketiga: Kata iman di dalam al-Qur’an bermakna amalan-amalan shaleh sebagaimana firman Allah Swt yang  Artinya:

“Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”

(Q.S Al-Baqarah: 143)

Imam al-Wahidy menyebutkan tentang sebab turunnya ayat ini dari riwayat al-Kalby, Ibnu Abbas berkata:

“Bahwasanya terdapat beberapa orang diantara sahabat Rasulullah Saw yang telah meninggal dalam keadaan berkiblat ke Bait al-Maqdis, diantara mereka adalah As’ad bi Zurarah, Abu Umamah yang merupakan keturunan Bani an-Najjar, al-Barra’ bin Ma’rur yang merupakan keturunan Bani Salamah, dan beberapa orang lainnya. Keluarga mereka datang menghadap Rasulullah Saw dan mangadu kepada beliau : ‘Wahai Rasulullah saudara kami meninggal dunia sementara mereka shalat menghadap ke kiblat pertama (Bait al-Maqdis), sementara Allah Swt telah memalingkanmu ke kiblat Ibrahim, lalu bagaimana dengan (shalat) saudara-saudara kami (yang telah meninggal)? Kemudian Allah menurunkan firman-Nya :

“Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian….”.[26]

Dari keterangan akan sebab turunnya ayat di atas menunujukkan bahwasanya Allah Swt memberikan istilah iman terhadap shalat, hal ini menjelaskan bahwa hakikat Iman adalah ketika terejawantahkan dalam wujud implementasi jasad, sebab shalat adalah bentuk keimanan yang ditampakkan dalam bentuk ruku’ dan sujud yang di dalamnya terdapat bacaan-bacaan yang khusu pula.

Senada dengan ayat di atas Rasulullah Saw dalam salah satu sabda beliau menyebutkan bahwa keimanan itu adalah rukun Islam itu sendiri ditambah dengan amalan lain:

عن أبي حمزة قال: كنت أترجم بين ابن عباس وبين الناس فقال إن وفد عبد القيس أتوا النبي صلى الله عليه وسلم فقال ( مرحبا بالقوم أو بالوفد غير خزايا ولا ندامى ) . قالوا: إنا نأتيك من شقة بعيدة وبيننا وبينك هذا الحي من كفار مضر ولا نستطيع أن نأتيك إلا في شهر حرام فمرنا بأمر نخبر به من وراءنا ندخل به الجنة. فأمرهم بأربع ونهاهم عن أربع أمرهم بالإيمان بالله عز وجل وحده قال ( هل تدرون ما الإيمان بالله وحده ) . قالوا الله ورسوله أعلم قال ( شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة وصوم رمضان وتعطوا الخمس من المغنم )

Artinya:

Dari Abu Hamzah ia berkata : suatu ketika aku menjadi penerjemah antara Ibnu Abbas dan masyarakat kemudian beliau berkata : ‘suatu ketika datang utusan dari Abd al-Qays kepada Rasulullah Saw kemudian Rasulullah Saw berkata : “Selamat datang kepada kaum atau utusan yang tidak dalam keadaan sedih dan menyesal” mereka berkata : ‘sesungguhnya kami datang kepadamu dari lembah yang cukup jauh, sementara anatara kampung kami dan tempat engkau hidup kauk kafir Mudhar dan kami tidak dapat datang kepadamu kecuali pada bulan Muharram, maka perintahkanlah kepada kami suatu perintah yang dapat kami sampaikan kepada orang-orang yang kami tinggalkan yang dengannya kami dapat masuk surga’. Kemudian Rasulullah memerintahkan kepada mereka empat perkara dan melarang mereka tetang empat perkara lainnya. Rasulullah memerintahkan mereka untuk beriman kepada Allah Azza wa Jalla semata. Rasulullah Saw bertanya : “Tahukah kalian apa itu iman kepada Allah semata?” mereka menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui’, Rasulullah bersabda : “Bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan ranadhan, serta menyerahkan 1/5 dari harta rampasan perang”.[27]

Hadis di atas menunujukkan bahwa Rasulullah Saw mendefenisikan  Iman dengan syahadatain, shalat, zakat, puasa dan menyerahkan 1/5 dari harta rampasan perang yang kasemuanya merupakan bentuk pembenaran lisan dan implementasi jasad. Oleh karena itu Rasulullah Saw pada sabdanya yang lain menjadikan rasa malu dan menjauhkan segala hal yang dapat mengganggu perjalanan orang lain sebagai bagian dari keimanan beliau bersabda :

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

Artinya:

Iman itu memiliki kurang lebih 60 atau 70 cabang, yang paling mulia diataranya adalah perkataan “Tiada sesembahan yang hak selain Allah, dan yang paling rendah adalah menjauhkan segala bentuk gangguan yang terdapat di jalan, dan rasa malu adalah bagian dari iman.[28]

Keempat: Kata Iman di dalam al-Qur’an bermakna kepercayaan (sesuai dengan makna leksikalnya). Diantara ayat yang menunjukkan akan hal tersebut adalah firman Allah dalam Q.S Yusuf : 17 yang Artinya:

“… Dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar.”

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kata iman pada ayat ini adalah kepercayaan yang merupakan lawan kata dari kebohongan yang bertujuan untuk menenangkan diri dari kegalauan hati akibat kecerobohan yang disengaja. Imam al-Thabari menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kata: (وما أنت بمؤمن لنا) adalah : bahwa sesungguhnya engkau (wahai ayah kami) tidak akan percaya akan perkataan kami tentang Yusuf yang telah mati karena di mangsa oleh serigala buas, meskipun kami berkata dengan benar.[29]

Imam Ibnu Katsir ketika mengomentari ayat tersebut beliau berkata :

“Ini merupakan kalimat kebohongan yang terselubung yang bertujuan untuk memebenarkan kesalahan mereka dengan mengatakan : “Sesungguhnya engaku (wahai ayah kami) tidak akan percaya kepada kami meskipun kami datang dengan kebenaran, sebab baagaimana mungkin engkau dapat mempercayai kami sedang engkau telah menuduh kami (sebagai pendusta), sebab engkau telah mengkhawatirkan Yusuf dari sergapan serigala buas, sementara ia telah disergap, dan engkau tidak memiliki alasan untuk tidak mempercayai kami, karena keanehan yang telah terjadi, dan tercengang atas kesepakatan kami tentang hal ini”.[30]

Kelima: Kata Iman di dalam Al-Qur’an datang dalam bentuk celaan atas keyakinan dan kepercayaan yang salah. Sebagaimana Allah tentang ahli kitab yang menyandarkan keyakinan dan kepercayaan mereka terhadap dukun dan berhala-berhala. Allah beerfirman :

Artinya:

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. (Q.S An-Nisa’ : 51)

Para mufassirin berbeda pendapat tentang makna al-Jibt dan ath-thagut, berkata Muhammad bin Ishaq dari Hassan bin Faid, dari Umar bin al-Khaththab beliau berkata : al-Jibt dalah sihir, dan Thagut adalah Setan,[31] Abu Manshur bin Hamad al-Jauhary dalam “Shihah” mengatakan : al-Jibt adalah kalimat yang disandarkan kepada berhala, dukun, tukang sihir dan yang semacamnya. Diriwayatkan oleh Abu Hatim dari Jabir bin Abdullah bahwasanya beliau pernah ditanya tentang Thagut, beliau berkata : “mereka adalah para dukun yang mendapatkan wahyu dari setan”. Mujahid berkata: “Thagut adalah setan yang berwajah manusia dan semua orang bersandar pada hukum-hukum (buatan)nya. Dari kesemua pendapat di atas Imam Malik bin Anas menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan thagut adalah segala bentuk sesembahan yang disembah selain Allah.[32]

Orang-orang yang diberikan bahagian dari ahli kitab mereka adalah kaum Yahudi dan Nasrani yang menjadikan Rahib-rahib mereka sebagai penentu kebiajakan atas segala bentuk hukum keagamaan dan tunduk atas segala kebijakan tersebut dan menjadikan mereka Tuhan-Tuhan selain Allah yang dapat mengatur seluruh sendi kehidupan mereka. Disebabkan karena hal tersebut, maka Allah mencela keyakinan dan kepercayaan mereka, dalam hal ini Allah berfirman yang Artinya:

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah (Q.S at-Taubah : 31)

Padahal Allah swt telah memerintahkan kepada mereka untuk hanya menjadikan Allah Swt sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak untuk dipatuhi aturan dan hukum-hukum-Nya. Oleh karena itu Allah Swt selain mencela orang-orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menjadikan para ulama dan rahib-rahib mereka sebagai penentu hukum atas diri mereka, Allaj juga mencela mereka yang mengaku beriman kepada syriat yang dibawah oleh Rasulullah Saw kemudian berhukum dengan hukum buatan para cendikiawan dan kaum profesional Allah berfirman yang Artinya:

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya Telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka Telah diperintah mengingkari thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (Q.S an-Nisa’ : 60)

Menjadikan thagut sebagai sumber hukum adalah menjadikan hukum buatan para kaum eksekutif sebagai sandaran hukum dengan berlepas diri dari hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya.[33] Ketika hal ini berlaku dikalangan mereka yang mengaku beriman kepada syariat yang dibawah oleh Rasulullah Saw yang didalamnya terdapat hukum-hukum yang benar dari sisi Allah kemudian menyandarkan hukum kepada selain Allah, maka mereka adalah golngan yang ternafikan keimanan dalam dada mereka, sekalipun mereka mengaku beriman dengan lisan mereka, hingga mereka rela atas segala hukum yang telah ditetapkan oleh Allah melalui risalah dan syariat Rasulullah Saw. Allah berfirman yang Artinya:

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (Q.S an-Nisa’ : 65)

  1. B. Karakteristik Orang Beriman Dalam Al-Qur’an

Diantara karakteristik orang-orang beriman yang disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut :

Pertama: orang yang beriman adalah mereka yang senantiasa bergetar hatinya ketika mendengarkan nama Allah disebutkan dan keimanan mereka semakin mantap ketika mendengarkan ayat-ayat Allah dibacakan dan senantiasa bertwakkal dan hanya bergantung kepada-Nya. Allah berfirman tentang keadaan mereka yang Artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Q.S Al-Anfal)

Maksud dari kata bergetar hati mereka ketika mendengarkan nama Allah disebutkan adalah hati mereka bergetar karena rasa takut akan kebesaran-Nya, tunduk dan patuh terhadap perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, dan sopan dalam berzikir kepada-Nya. Dan apabila ayat-ayatNya di bacakan mereka meyakini bahwa kata-kata tersebut berasal dari Allah, maka kepercayaan dan pembenaran mereka terhadap perkataan Allah tersebut semakin bertambah dan semakin terpatri, dan hanya kepada Allah mereka bergantung dan menyerahkan sega urusan baik dunia maupun akhirat.[34] Keadaan ini terjadi disebabkan karena kecintaan mereka kepada Allah melebihi cinta mereka kepada selain-Nya bahkan terhadap dirinya sendiri :

Allah berfirman yang artinya:

Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.(Q.S al-Baqarah: 164).

Kecintaan orang yang beriman kepada Allah swt melebihi cintanya kepada selainNya yang tumbuh di dalam hati disebabkan karena Allah menjadikan keimanan itu sebagai kecintaan di dalam dada orang-orang yang senantiasa mengingat-Nya, mentaati dan menjalankan segala perintahNya, menjauhi segala laranganNya, menyerahkan segala urusan hanya kepada-Nya, serta berhukum hanya dengan hukum-Nya dan menjadikannya sebagai perhiasan dan keindahan dalam hati mereka. Allah berfirman yang Artinya:

Tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu (Q.S al-Hujurat: 7)

Ayat ini ditujukan kepada orang-orang mukmin yang memiliki keikhlasan dalam hatinya dengan tidak mendustai kerasulan Muhammad Saw dan menmbenarkan risalah kenabian dan syariat yang diwahyukan kepadanya dari sisi Allah Swt.[35] Ini menunjukkan bahwa keimanan dan kecintaan kepada Allah tidak sempurna kecuali mengimani kerasulan Muhammad Saw dan mengikuti risalah dan syariat beliau Saw, Allah berfirman yang Artinya:

Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian

(Q.S Ali Imran: 31)

Diriwayatkan oleh Juwaibir, dari adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi saw suatu ketika berada ditengah-tengah orang Quraisy sementara mereka berada di Masjid al-Haram sedang melakukan penyembahan terhadap berhala yang digantungkan diatasnya kain putih dan meletakkan pada telinga (berhala-berhala tersebut) potongan besi, kemudian Rasulullah Saw bersabda : “Wahai kaum Quraisy! Sesungguhnya kalian telah melanggar agama nenek moyang kalian Ibrahim dan Ismail, dimana keduanya beragama Islam”. Kemudian mereka menimpali Rasulullah Saw dengan mengatakan : ‘Wahai Muhammad sesungguhnya kami menyembah mereka karena kecintaan kami kepada Allah yang bertujuan agar mendekatkan kami keppada Allah, kemudian turunlah Firman Allah : “Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah” dan kalian menyembah berhala agar mendekatkan kalian kepada-Nya, ” maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian”; sebab aku adalah Rasul-Nya untuk kalian dan menjadi Hujjah-Nya atas Kalian, dan aku lebih berhak untuk mendpatkan kemulian daripada berhala-berhala kalian.[36]

Berdasarkan keterangan dari sebab turunya ayat di atas menunjukkan bahwa orang mukmin adalah orang yang bergetar hatinya ketika nama Allah disebutkan melalui ayat-ayat al-Qur’an maupun hadis-hadis Rasulullah Saw yang keduanya merupakan wahyu Allah kepada rasul-Nya Muhammad Saw, dengan demikian keeimanan, keyakinan akan kebenaran seluruh bentuk perintah, larangan, janji dan ancaman Allah yang disampaikan melalui lisan RasulNya Muhammad saw semakin terpatri dan dijadikan sebagai bahagian dalam kehidupannya sehari-hari dengan mentaati Rasul-Nya, sebab dengan mentaati rasul-Nya, maka hal tersbut menjadi bukti akan ketaatan dan keimanan kepada Allah.

Allah berfirman yang Artinya:

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia Telah mentaati Allah… (Q.S an-Nisa’ : 80)

Kedua: orang mukmin adalah mereka yang senantiasa menjaga shalat lima waktu dan senantiasa menginfakkan hartanya di jalan Allah dengan penuh keikhlasan karena Allah. Allah berfirman yang Artinya:

(yaitu) orang-orang yang mengakkan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka.

(Q.S Al-Anfal : 3)

Ayat ini masih merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya yang menjelaskan tentang karakteristik orang-orang mukmin, dimana pada ayat sebelumnya Allah menjelaskan bahwa orang mukmin adalah mereka yang senantiasa bergetar hatinya ketika nama Allah disebutkan dan apabila ayat Allah dibacakan, maka keimanan dan tawakkal mereka kepada Allah semakin bertambah, kemudian pada ayat ini menunjukkan bahwa orang mukmin adalah mereka yang senantiasa menegakkan shalat dan mengifakkan sebahagian dari hartanya yang direzkikan oleh Allah kepadanya di jalan Allah. Hubungan antara kedua ayat sangat erat dimana ketika seseorang mendengarkan panggilan adzan untuk menunaikan kewajiban shalat, maka hati orang mukmin bergetar dan tergerak dengan segera menjawab panggilan Allah tersebut denga meninggalkan seluruh aktifitas dengan menjadikan kecintaan kepada panggilan Allah sebagai prioritas utama, demikian pula ketika orang mukmin mendengar ayat-ayat Allah yang memerintahkan untuk berzakat, berinfaq, dan bersedekah, maka seorang mukmin yang hatinya telah terhiasi dengan keimanan dan kecintaan kepada Allah akan dengan segera melaksanakan perintah tersebut tanpa harus menunda-nunda waktu.

Oleh karena kedaan seorang mukmin sebagaimana yang tergambarkan berdasarkan firman Allah terdahulu, maka Allah memberikan kepada mereka gelar mukmin yang sesungguhnya dan berhak mendapatkan derajat yang mulai disisi Allah serta rezki yang mulia dari sisiNya[37], Allah berfirman dalam lanjutan ayat berikutnya pada Q.S al-Anfal : 4:  yang Artinya:

Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.

Ketiga: orang mukmin adalah mereka yang senantiasa manjalin dan menjaga persaudaraan sebagaimana firman Allah yang Artinya:

Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

(Q.S Al-Hujurat : 10)

Persaudaraan yang dimaksud dalam ayat ini adalah persaudaraan dalam Islam sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah pada ayat yang lain yang Artinya:

Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. dan kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang Mengetahui.

(Q.S. At-Taubah:11)

Ayat ini berhubungan dengan kaum musyrikin dimana Allah menjelaskan bahwa ketika orang-orang musyrik itu bertaubat dari kemusyrikannya dengan beriman kepada Allah dan RasulNya serta mentaati akan seluruh bentuk perintah dan menjauhi segala bentuk larangan syariat, kemudian mereka melaksanakan shalat yang diwajibkan sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah Saw dan menunaikan zakat yang diwajibkan bagi mereka, maka mereka adalah saudara seiman dan seagama dalam tali Islam.[38] Di dalam Hadis shahih Rasulullah Saw bersabda :

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

Artinya:

Aku diperintahkan (oleh Allah) untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak sesembahan yang berhak disemabah selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah, dan mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat, apabila mereka telah melakukan hal tersebut, maka darah dan harta mereka terlindungi kacuali merupakan hak-hak Islam dan urusannya dikembalikan kepada Allah.[39]

Selain hadis shahih di atas terdapat hadis shahih yang lain yang menjelaskan tentang persaudaraan dalam keimanan dan keislaman yaitu Sabda Rasulullah Saw :

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ

Artinya:

Anatara mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling menopang antara satu dengan lainnya, kemudian beliau menyatukan jari-jari tangan beliau.[40]

Dan masih banyak lagi karakteristik orang-orang mukmin yang terdapat dalam Al-Qur’an yang tidak dapat penulis sebutkan karena luasnya pembahasan.

KESIMPULAN

Dari uarian-urain yang sangat panjang di atas dapat penulis simpulkan beberapa poin sebagai berikut :

  1. Kata Iman di dalam Al-Qur’an memiliki beberapa makna diantaranya adalah:
    1. Iman berarti Syariat Allah yang dibawah oleh Rasul-Nya Muhammad Saw dan merupakan lawan kata dari kafir.
    2. Iman berarti Amal Shaleh
    3. Iman berarti perkataan yang benar
    4. Iman yang terpuji adalah Iman yang dapat menentramkan jiwa dan menjauhkan diri dari segala bentuk kedustaan, kebathilan dan kekufuran
    5. Iman yang tercela adalah keimanan kepada al-Jibt dan Thagut
  2. Diantara Karakteristik orang yang beriman adalah:
  3. Orang yang beriman adalah mereka yang mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi kecintaan mereka kepada selain Allah, yang ketika nama Allah disebutkan hati mereka bergetar, dan ketika mereka mendengarkan ayat-ayat Allah di bacakan keyakinan mereka akan kebenaran Risalah Rasulullah Saw semakin terpatri dalam dirinya.
  4. Orang yang beriman adalah mereka yang bersegera dalam menjalankan segala bentuk kewajiban syariah tanpa melakukan penundaan sedikitpun.
  5. Orang yang beriman adalah mereka yang senantiasa menjaga keutuhan persaudaraan diantara sesama muslim.
  6. Dan karakteristik orang beriman lainnya yang tidak sempat penulis uraikan dalam makalah ini.

DAFTAR PUSKA

Al-Qur’an al-Karim

Abdul Baqi, Muhammad Fuad, al-Mu’jam al-Mufahras li Al-Fadh al-Qur’an, Cet. III; Beirut: Dar al-Fikr, 1412 H / 1992 M.

al-‘Akbary, Ibnu Baththah, al-Ibanah, Cet. I; Kairo: Maktabah as-Sunnah, T.Th.

al-Asfahany, Al-husain bin Muhammad bin al-Mufadhdhal al-Raghib, Mufradat Al-Fadh al-Qur’an, Cet. I; Damaskus: Dar al-Qalam, T.Th.

al-Asy’ary, Abu al-Hasan Ali bin Ismail, al-Maqalat al-Islamiyah wa Ikhtilaf al-Mushallin, Cet. II; Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyah, 1389 H / 1969 M.

al-Baghawy, Abu Muhammad Husain bin Mas’ud, Ma’alim al-Tanzil, Cet. IV; Kairo: Dar ayh-Thayyibah, 1417 H / 1997 M.

al-Baidhawy, Abu al-Khaer Abdullah bin Umar bin Muhammad, Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Ta’wil, Cet. I; Beiru: Dar al-Fikr, T.Th

al-Bukhary, Muhammad bin Ismail, Shahih al-Bukhary. Cet. I; Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1412 H / 1992 M

al-Hanafy, Ali bin Muhammad bin Abi al-Izz, Syarah al-Aqidah al-Tahawiyah, Cet. II; Kairo: Dar al-Hadis, 1421 H / 2000 M.

Ibn Hanbal, Imam Ahamad, al-Musnad, Cet. I; Beirut: Dar al-Fikr, T.Th

Ibnu Katsir Abu al-Fida’ Ismail bin Umar, Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim. Cet. II; Kairo: Dar Thayyibah, 1420 H / 1999 M.

Ma’luf, Luwys, al-Munjid Fii al-Lughati wa al-A’lam, Cet. XXXIII; Beirut: Dar al-Masyriq, 1973.

an-Naisabury, Muslim bin Hajaj bin Muslim al-Qusyairy, Shahih al-Jami. Cet. I; Kairo: Dar Ibnu al-Haitsam, 1422 H / 2001 M

al-Utsimin, Muhammadn bin Shalih, Syarh al-Aqidah al-Washithiyah, Cet. I; Kairo: Dar Ibnu al-Haitsm, 1423 H / 2002 M.

al-Qurthuby, Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar bin Farh, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Cet. I; Beirut: Dar al-Fikr, T.Th.

al-Thabary, Muhammad bin Jarir bin Yazid  Abu Ja’far, Jami’ al-Bayan fii Ta’wil al-Qur’an, Cet. I; Beirut: Muassasah al-Risalah, 1420 H / 2000 M.

ar-Razi, Abu Abdullah Muhammad bin Umar Fakhruddin, Mafatih al-Ghaib. Cet. I; Baeirut: Dar al-kutub al-Ilmiyah, 1415 H / 1994 M.

al-Wahidy, Ali bin Ahmad, Asbab an-Nuzul, Cet. X; Beirut : Dar al-Fikr, 1426 H / 2005 M.


[1] Muhammad Fuad Abdul Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras li Al-Fadh al-Qur’an, (Cet. III; Beirut: Dar al-Fikr, 1412 H / 1992 M), h. 101-118.

[2] Luwys Ma’luf, al-Munjid Fii al-Lughati wa al-A’lam, (Cet. XXXIII; Beirut: Dar al-Masyriq, 1973), h.18

[3] Muhammadn bin Shalih al-Utsimin, Syarh al-Aqidah al-Washithiyah, (Cet. I; Kairo: Dar Ibnu al-Haitsm, 1423 H / 2002 M), h. 464.

[4] Abu al-Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ary, al-Maqalat al-Islamiyah wa Ikhtilaf al-Mushallin, (Cet. II; Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyah, 1389 H / 1969 M), h. 125-126.

[5] Ibid., h. 212.

[6] Ibid.,

[7] Ibid., h. 214-215

[8] Ibid.,

[9] Ibid., h. 216

[10] Ibid.,

[11] Ibid., h. 217

[12] Ibid., h. 218

[13] Ibid., h. 219-221.

[14] Ali bin Muhammad bin Abi al-Izz al-Hanafy, Syarah al-Aqidah al-Tahawiyah, (Cet. II; Kairo: Dar al-Hadis, 1421 H / 2000 M), h. 267

[15] Al-Asy’ary, Op.cit,. h. 222

[16] Ibnu Abi al-Izz, loc. Cit.

[17] Al-husain bin Muhammad bin al-Mufadhdhal al-Raghib al-Asfahany, Mufradat Al-Fadh al-Qur’an, (Cet. I; Damaskus: Dar al-Qalam, T.Th), Jld. I, h. 49-50

[18] Redaksi ayat yang sejenis dengan ayat ini juga terdapat dalam : Q.S al-Maidah : 69 dengan redaksi :

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

[19] Muhammad bin Jarir bin Yazid  Abu Ja’far al-Thabary, Jami’ al-Bayan fii Ta’wil al-Qur’an, (Cet. I; Beirut: Muassasah al-Risalah, 1420 H / 2000 M), Jld. II, h. 143.

[20] Diriwaytakan oleh Ibnu Baththah al-‘Akbary, al-Ibanah, (Cet. I; Kairo: Maktabah as-Sunnah, T.Th), Jld. I, h. 298

[21] Diriwayatkan oleh Imam Ahamad bin Hanbal, al-Musnad, (Cet. I; Beirut: Dar al-Fikr, T.Th), Jld. III, h. 132

[22] Abu al-Khaer Abdullah bin Umar bin Muhammad al-Baidhawy, Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Ta’wil, (Cet. I; Beiru: Dar al-Fikr, T.Th), Jld. II, h. 48

[23] Diriwayatkan oleh al-Bukhary dalam shahihnya, Kitab Iman, Bab Pertanyaan Jibril tentang Iman, Islam, Ihasan, dan hari kiyamat, dan penjelasan Rasulullah Saw akan hal tersebut, kemudian beliau berkata : “Jibril datang untuk mengajarkan kepada kalin tentang agama kalian” dimana Rasulullah Saw menjadikan semua hal tersebut adalah Agama. No. 50 dari riwayat Abu Hurairah [Cet. I; Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1412 H / 1992 M], Jilid. 1, h. 22). Dan diriwayatkan pula oleh Muslim dalam shahihnya, Kitab Iman, Bab penjelasan tentang Iman, Islam, Ihsan dan kewajiban beriman terhadap ketetapan dari takdir Allah, No. 8 dari riwayat Umar bin al-Khaththab. (Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qusyiry al-Nisabury, Shahih Muslim, [Cet. I; Beirut: Dar Ihaya al-Turats al-Arabi, 1411 H / 1991 M ], Jilid. 1, h. 37.)

[24] Abu Muhammad Husain bin Mas’ud al-Baghawy, Ma’alim al-Tanzil, (Cet. IV; Kairo: Dar ayh-Thayyibah, 1417 H / 1997 M), Jld. VIII, h. 38.

[25] Abu Abdullah Muhammad bin Umar Fakhruddin ar-Razi, Mafatih al-Ghaib. (Cet. I; Baeirut: Dar al-kutub al-Ilmiyah, 1415 H / 1994 M), Jld. XV, h. 232

[26] Ali bin Ahmad al-Wahidi, Asbab an-Nuzul, (Cet. X; Beirut : Dar al-Fikr, 1426 H / 2005 M), h. 24

[27] Hadis ini diriwatkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya Kitab Iman, Bab Mengeluarkan 1/5 harta sebahagian dari Iman (lihat Muhammad bin Ismail al-Bukhary, Shahih al-Bukhary, [Cet. I; Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1412 H / 1992 M], Jilid. 1, h. 22). Dan Muslim dalam Shahihnya, Kitab Iman, Bab Penjelasan tentang keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya serta Syariat-syariat Agama. (Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qusyiry al-Nisabury, Shahih Muslim, [Cet. I; Beirut: Dar Ihaya al-Turats al-Arabi, 1411 H / 1991 M ], Jilid. 1, h. 37.).

[28] Diriwayatkan oleh Muslim bin Hajaj bin Muslim al-Qusyairy an-Naisabury, Shahih al-Jami’, Kitab; al-Iman, Bab; Penjelasan Tetang  Jumlah Cabang Iman Yang Paling Mulia Dan Paling Rendah Diantaranya, Serta Keutamaan Rasa Malu Yang Merupakan Bagian Dari Iman, No. 58, (Cet. I; Kairo: Dar Ibnu al-Haitsam, 1422 H / 2001 M), h. 23

[29] Lihat al-Thabary, op.Cit., Jld. XV, h. 578.

[30] Abu al-Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim. (Cet. II; Kairo: Dar Thayyibah, 1420 H / 1999 M), Jld. IV, h. 375

[31] Diriwayatkan oleh ath-Thabary, Op.Cit., Jld. VIII, h. 462

[32] Lihat al-Mubarakfury, Op.Cit., h. 300

[33] Lihat at-Thabary, Op.cit,. Jld VIII, h. 507

[34] Lihat ath-Thabary, Op.Cit., Jld. XIII, h. 385

[35] Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar bin Farh al-Qurthuby, al-Jami’ li Ahkam aal-Qur’an, (Cet. I; Beirut: Dar al-Fikr, T.Th), Jld. IV, h. 516

[36] Al-Wahidy, Op.Cit., h. 56

[37] Ibnu Katsir, Op.Cit., Jld. IV, h. 12

[38] Al-Thabary, op.Cit., Jld. XIV, h. 152

[39] Lihat Muhammad bin Ismail al-Bukhary, Op.Cit., Kitab; Iman, Bab; Firman allah Q.S al-Anfal: 11, Jld. I, h. 42. Dan Muslim bin Hajjaj, Op.cit., Kitab; Iman, Bab; Perintah untuk memerangi manusia hingga bersyahadat, shalat, dan berzakat, h. 20

[40] Al-Bukhary, Ibid., Jld VIII, h. 325. Dan Muslim, Ibid.,kiatab al-Birr wa al-Shilah, Bab: kaish sayang anatar mukmin, h. 660.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: