Oleh: TH Khusus Makassar | 1 Januari 2010

‘ABBAD BIN KATSIR; TSIQAH ATAU DHAIF

ABBAD BIN KATSIR; TSIQAH ATAU DHAIF

Oleh : Muhammad Agus

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Hadis merupakan salah satu sumber ajaran Islam setelah al-Qur’an. Hanya saja antara al-Qur’an dan hadis terdapat perbedaan cukup mendasar, misalnya saja keotentikannya. Sebab al-Qur’an adalah Qath’i al-Tsubuti (sudah pasti kebenarannya) sedangkan hadis adalah Dhanni al-Tsubuti (belum pasti kebenarannya).

Karena hadis adalah Dhanni al-Tsubuti, sehingga keotentikan dan keasliannya perlu dipertanyakan. Itulah sebabnya, para ulama –khususnya ulama hadis- membuat beberapa rumusan yang dapat mempermudah pengidentifikasian kesahihan hadis. Di antara rumusan-rumusan tersebut adalah ilmu jarh wa ta’dil.

Ilmu ini sangat penting, sebab di dalamnya dipelajari tentang proses penentuan kualitas hadis ditinjau dari segi perawinya. Apatah lagi salah satu syarat kesahihan hadis adalah أن يكون رواته عدولا وضابطين  “perawinya mesti adil dan dhabith”. Namun tidak ada yang dapat mengetahui semua itu kecuali dengan ilmu jarh wa ta’dil. Sehingga para ulama mendefinisikannya sebagai هو علم يبجث فيه عن قواعد جرح الرواة وتعديلهم  (ilmu yang membahas tentang kaidah-kaidah kejarahan/keburukan seorang perawi dan keadilannya).[1]

Kejarahan dan keadilan seorang perawi, bagi para ulama terdapat beberapa istilah. Masing-masing istilah tersebut memiliki perbedaan kualitas, bahkan terkadang menjadi sebuah kesulitan yang cukup berat, jika seorang perawi dinilai oleh para kritikus hadis dengan memakai istilah-istilah yang berbeda. Apatah lagi jika istilah-istilah tersebut saling bertentangan. Dimana sebagian ulama menilai seorang perawi sebagai orang adil sementara yang lain penilaiannya buruk.

Hal inilah yang mendasari penulis sehingga menyusun sebuah makalah berkaitan dengan ilmu jarh wa ta’dil, khususnya masalah kontradiksi antara pendapat ulama tentang kualitas seorang perawi. Akan tetapi penulis perlu tekankan bahwa pada bagian contoh, tidak dilakukan takhrij hadis secara keseluruhan, dengan menuliskan biografi dari setiap perawi atau sanad. Penulis merasa cukup dan menitikberatkan pada perawi yang dianggap kontroversial di kalangan ulama.

Atas dasar seperti ini sehingga makalah ini diberi judul ”Abbad bin Katsir; Tsiqah atau Dhaif”. Semoga makalah ini menjadi wasilah untuk meraih cinta dan rahmat Ilahi sekaligus merupakan salah satu tanda kesungguhan dalam mempelajari ilmu agama.

  1. Rumusan Masalah

Dengan melihat latar belakang di atas, sehingga penulis akan menyusun makalah ini dengan berdasarkan rumusan masalah sebagai berikut :

  1. Kaidah penyelesaian kontradiksi antara jarh dan ta’dil
  2. Contoh perawi yang  diperdebatkan kualitasnya
  3. Penyelasaian dari perdebatan tersebut. Baca Lanjutannya…
Oleh: TH Khusus Makassar | 1 Januari 2010

TINGKATAN “JARH WA TA’DIL” MENURUT IMAM AHMAD

TINGKATAN “JARH WA TA’DIL” MENURUT IMAM AHMAD BIN HANBAL*

Oleh : K.M. Muhammad Agus, S.Th.I

Ilmu ”Jarh wa Ta’dil” merupakan salah satu ilmu yang sangat penting, khususnya dalam penelitian sebuah hadis. Karena memudahkan para peneliti untuk mengetahui kualitas seorang perawi.

Akan tetapi dalam penetapan kualitas tersebut juga tergolong cukup rumit, karena para ulama dan kritikus hadis berbeda pendapat dalam penetapan adil dan tidaknya seorang perawi. Hanya saja perbedaan tersebut menunjukkan elastisitas hukum Islam[1] atau menjadi sebuah indikasi keberagaman cara pandang ulama yang berakhir pada perbedaan pengamalan dari masing-masing pihak yang berbeda.

Oleh karena itu, pada tulisan kali ini, penulis mencoba menggambarkan cara pandang atau istilah-istilah yang dipergunakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam menjarah dan menta’dil seorang perawi. Namun ada baiknya, terlebih dahulu penulis menyebutkan siapa itu Imam Ahmad? Baca Lanjutannya…

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.