Oleh: TH Khusus Makassar | 3 Januari 2010

GIBAH Dalam Perspektif Hadis Nabi Saw.

GIBAH Dalam Perspektif Hadis Nabi Saw.

Oleh: KM. Abdul Gaffar, S.Th.I

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Manusia diciptakan oleh Allah swt. agar menjadi khalifah di muka bumi. Salah satu ciri khalifah adalah mampu menciptakan suasana keamanan dan kedamaian yang dapat dirasakan oleh semua pihak, baik manusia, hewan maupun alam semesta. Dan salah satu cara menciptakan kedamaian dan keamanan adalah menumbuhkan rasa saling menghargai dan saling menghormati privasi masing-masing dan menghindari hal-hal yang dapat menguak dan membuka jendela permusuhan.

Dari sekian banyak media atau alat yang dapat menimbulkan permusuhan di kalangan manusia salah satunya adalah lidah, sebab lidah dapat menguak hal-hal yang seharusnya ditutupi dan lidah pulalah yang banyak menelorkan tabiat atau perangai yang tidak terpuji sehingga Nabi sudah mewanti-wanti dengan bersabda:

المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده والمهاجر من هجر ما نهى الله عنه[1]

“Orang Islam sejati adalah orang Islam yang mampu menjadikan orang lain aman dari lidah dan tangannya”. Di antara sifat atau perangai negatif yang muncul dari lidah adalah dusta, buruk sangka, adu domba, bertengkar, bermusuhan, mengutuk, bersenda-gurau yang berlebihan, menghina, berdebat kusir dan ghibah (menggunjing).

Ghibah adalah menceritakan seseorang dengan sesuatu yang tidak disukainya sehingga ia merupakan sifat yang tercela dan dilarang oleh agama berdasarkan al-Qur’an dan Hadis Nabi[2] karena mengandung bahaya besar, baik individu maupun masyarakat. Di antara dampak negatif ghibah pada individu adalah melukai hati seseorang sehingga dapat menimbulkan permusuhan. Sementara dampak negatifnya untuk masyarakat adalah mengacaukan hubungan kekeluargaan, persaudaraan dan kemasyarakatan serta menimbulkan saling curiga-mencurigai.

Namun dalam kehidupan masyarakat, banyak ditemukan model ghibah akan tetapi dianggap oleh masyarakat bukan sebagai ghibah, sebaliknya menyebutkan aib seseorang dengan tujuan yang baik namun masyarakat menganggap sebagai pencemaran nama baik orang. Belum lagi ghibah yang terkadang tidak bisa dipisahkan dan dibedakan dengan buhtan (dusta), namimah (adu domba) dan al-ifk (desas-desus) serta masih banyak lagi sifat-sifat yang hampir mirip dengan ghibah, bahkan terkadang istilah-istilah itu tertukar satu sama lain.

Oleh karena itu, sangat penting untuk mengatahui apa sebenarnya hakikat ghibah, bentuk, sangksi dan semua hal yang terkait dengannya. Salah satu cara untuk mengetahui hal tersebut adalah kembali mengkaji istilah-istilah yang muncul dalam al-Qur’an dan al-Hadis. Namun dalam makalah ini, penulis mencoba membahas ghibah dari persfektif hadis-hadis Nabi saja.

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan yang terdapat dalam latar belakang masalah, dapat ditarik beberapa rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Apa pengertian ghibah dan batasan-batasannya?
  2. Bagaimana ghibah dari persfektif hukumnya?
  3. Sanksi apa saja yang akan diperoleh oleh pelaku ghibah?
  1. Takhrij al-Hadis dan Metodologi Analisis

Dalam mencari dan menelusuri hadis-hadis yang terkait dengan ghibah, penulis menggunakan dua kitab yaitu Mu’jam Mufahras li Alfazh al-Hadits dan Miftah Kunuz al-Sunnah.

  1. Mu’jam Mufahras li Alfazh al-Hadits

Dalam Mu’jam misalnya, penulis menelusuri akar kata غيب. Dari akar kata tersebut, penulis menemukan dua kata yang mengarah pada makna ghibah, satu dalam bentuk fi’il, baik fi’il  madhi atau fi’il mudhari’ yaitu إغتاب atau يغتاب (termasuk bentuk-bentuk kedua fi’il tersebut) dan satu dalam bentuk masdar yaitu الغيبة.

Dalam bentuk إغتاب atau يغتاب ditemukan potongan hadis atau bab tentang ghibah sebagai berikut:

فإن كان فيه ما تقول فقد اغتبته (م: بر70، ت: بر23، دى: رقاق6، حم:2 23, 384, 386, 458)

فقال النبي قد اغتبتها (حم: 6 137، 206) / هذه ريح الذين يغتابون المؤمن (حم: 3 351) / لا تغتابوا المسلمين ولا تتبعوا عوراتهم (د: أدب35، حم: 4 421، 424) / ولا نغتب (صوابه نغتاب)… (حم 5 320) / باب ما يجوز من اغتياب أهل الفساد والريب (خ: أدب48)

Sedangkan dalam bentuk الغيبة ditemukan potongan hadis atau bab tentang ghibah sebagai berikut:

من ذب عن لحم أخيه بالغيبة (حم: 6 **461) / أتدرون ما الغيبة (م: بر70) / قيل يا رسول الله ما الغيبة (ت: بر23، دى: رقاق6، ط: كلام10، حم: 2 384، 386) / الغيبة للصائم (خ: أدب46، د: صوم25) / وما يعذبان إلا فى البول والغيبة (حم: 5 36) / الصوم جنة مالم يخرقها…(دى: صوم27) / باب ما جاء فى الغيبة (د: أدب35، جه: صيام21، دى: رقاق6)

فى التشديد فى الغيبة (ت: صوم16) / إنهما ليعذبان فى الغيبة…. (حم: 5 39) / فيعذب فى الغيبة (جه: طهارة26) / باب عذاب القبر من الغيبة (خ: جنائز88)[3]

  1. Miftah Kunuz al-Sunnah

Setelah mencari lafal ghibah dalam kitab tersebut, penulis menemukan pembahasan ghibah dalam bab القذف dengan tulisan sebagai berikut:

  • حد الغيبة : تر- ك25 ب 23، حم – ثان ص 384، 286، 458
  • لا تدابروا ولا تباغضوا: حم –ثان ص 469، 482 ثالث ص 416، ط- ح 416[4]

Di samping itu, penulis mencari hadis-hadis yang terdapat dalam topik ghibah di beberapa kitab matan, sehingga terkadang matan hadisnya tidak menggunakan lafal ghibah dan segala isytiqaqnya akan tetapi kandungannya terkait dengan permasalahan ghibah.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Ghibah dan Batasan-batasannya
  1. Pengertian ghibah

Kata الغيبة berasal dari akar kata غ – ي –ب yang dalam kitab Maqayis al-Lughah diartikan sebagai “sesuatu yang tertutup dari pandangan”[5] sehingga yang dimaksud dengan الغيب dalam al-Qur’an adalah sesuatu yang tidak bisa dipanca indra atau sesuatu yang hanya diketehui oleh Allah swt.

Sedangkan dalam istilah syar’i, ulama memberikan ragam definisi. Di antaranya adalah:

-          Imam al-Raghib mengatakan bahwa ghibah adalah “Seseorang menceritakan aib orang lain tanpa ada keperluan”.[6]

-          Menurut Imam al-Ghazaly, ghibah adalah “menceritakan seseorang dengan sesuatu yang tidak disukainya andaikan hal itu sampai padanya”.[7]

-          Imam Nawawi mendefinisikannya dengan “Menceritakan seseorang pada saat dia tidak ada dengan sesuatu yang tidak disukainya”.[8] Dan beberapa definisi lain.

Definisi yang diberikan para ulama meskipun beragam, semuanya berdasarkan hadis Rasulullah:

حدثنا يحيى بن أيوب وقتيبة وابن حجر قالوا حدثنا إسمعيل عن العلاء عن أبيه عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أتدرون ما الغيبة قالوا الله ورسوله أعلم قال ذكرك أخاك بما يكره قيل أفرأيت إن كان في أخي ما أقول قال إن كان فيه ما تقول فقد اغتبته وإن لم يكن فيه فقد بهته[9]

Namun mereka berbeda dalam memahami kandungan hadis tersebut. Hal itu terjadi karena teks hadisnya masih sangat umum, khususnya yang terkait dengan dua kata yaitu:

-      ذكرك أخاك

-      بما يكره

Ulama dalam menjelaskan kata ذكرك أخاك terbagi dalam dua kelompok. Sebagian mereka tetap memberlakukan keumuman teks hadis tersebut sehingga menimbulkan pengertian bahwa yang dimaksud dengan kalimat itu adalah menceritakan seseorang, baik dia ada di tempat manupun tidak. Namun mayoritas ulama hadis, khususnya yang mendalami lughah (bahasa) mengatakan bahwa maksud teks itu hanya ditujukan kepada orang yang ghaib (tidak ada di tempat). Hal itu berdasarkan akar kata الغيبة  yang berarti tidak hadir.[10]

Di samping itu kata ذكرك أخاك juga dapat dipahami bahwa ghibah hanya berlaku kepada sesama muslim karena yang digunakan adalah الأخ (saudara seagama) sehingga Imam ‘Iyadh mengatakan bahwa ghibah tidak terjadi kepada orang kafir. Namun sebagian ulama mengatakan bahwa ghibah tidak hanya berlaku untuk orang Islam semata melainkan juga orang kafir akan tetapi dengan catatan bahwa ghibah itu terkait dengan dirinya bukan agamanya. Argumen yang diajukan ulama yang mengatakan bahwa ghibah berlaku umum adalah hadis yang menggunakan teks المرء (bukan الأخ) sebagaimana yang terdapat dalam matan hadis Muwattha’ Malik.[11]

Sedangkan kata بما يكره tidak memberikan batasan apa saja yang masuk kategori sesuatu yang tidak disukai. Walaupun demikian, mayoritas ulama hadis berpendapat bahwa yang dimaksud dengan بما يكره adalah kekurangan seseorang baik yang terkait dengan fisik, agama, dunia, jiwa, akhlak, harta, anak, orang tua, istri, pembantu, pakaian, cara jalan dan lain-lain yang semuanya mengarah pada kekurangan dan perendahan. Dan dalam hadis ini juga tidak menyebutkan bagaimana bentuk ghibah itu, apakah hanya melalui mulut atau boleh dengan yang lain, sehingga sebagian besar ulama memberkakukan bahwa ghibah bisa terjadi dengan ungkapan, tulisan, simbol, kode, isyarah dan hikayat.[12]

Meskipun ulama memberikan berbagai pandangan tentang ghibah, penulis sendiri cenderung membatasi ghibah pada arti “Menceritakan seseorang pada saat dia  tidak ada dengan sesuatu yang tidak disukai tanpa ada tujuan yang diperbolehkan oleh syariat”.  Pemahaman tersebut di atas, disamping berdasarkan teks hadis tersebut, juga hadis-hadis Rasulullah sebagai berikut:

1-        حدثنا وكيع عن سفيان عن علي بن الأقمر عن أبي حذيفة أن عائشة حكت امرأة عند النبي صلى اللهم عليه وسلم ذكرت قصرها فقال النبي صلى اللهم عليه وسلم قد اغتبتيها[13]

2-        حدثني مالك عن الوليد بن عبد الله بن صياد ان المطلب بن عبد الله بن حنطب المخزومي أخبره ثم ان رجلا سأل رسول الله  صلى الله عليه وسلم ما الغيبة فقال رسول الله  صلى الله عليه وسلم  ان تذكر من المرء ما يكره ان يسمع قال يا رسول الله وإن كان حقا قال رسول الله  صلى الله عليه وسلم  إذا قلت باطلا فذلك البهتان[14]

3-        حدثنا يحيى بن يحيى قال قرأت على مالك عن عبد الله بن يزيد مولى الأسود بن سفيان عن أبي سلمة بن عبد الرحمن عن فاطمة بنت قيس أن أبا عمرو بن حفص طلقها البتة وهو غائب فأرسل إليها وكيله بشعير فسخطته فقال والله ما لك علينا من شيء فجاءت رسول الله صلى الله عليه وسلم فذكرت ذلك له فقال ليس لك عليه نفقة فأمرها أن تعتد في بيت أم شريك ثم قال تلك امرأة يغشاها أصحابي اعتدي عند ابن أم مكتوم فإنه رجل أعمى تضعين ثيابك فإذا حللت فآذنيني قالت فلما حللت ذكرت له أن معاوية بن أبي سفيان وأبا جهم خطباني فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم أما أبو جهم فلا يضع عصاه عن عاتقه وأما معاوية فصعلوك لا مال له انكحي أسامة بن زيد فكرهته ثم قال انكحي أسامة فنكحته فجعل الله فيه خيرا واغتبطت[15]

Dari ketiga hadis diatas, dapat dipahami pengertian dan cakupan ghibah dalam persfektif hadis. Hadis pertama misalnya menjadi penjelas tentang cakupan ghibah yang antara lain terkait dengan fisik. Sementara hadis kedua menjelaskan bahwa ghibah terjadi ketika orang tersebut tidak ada. Hal itu dapat dipahami dari kata ما يكره أن يسمع  (tidak senang jika didengar) sedangkan hadis ketiga menjadi alasan/argumen bahwa yang termasuk ghibah jika tidak ada tujuan yang diperbolehkan syara’ seperti hadis tersebut yang menjelaskan tentang nasihat Rasulullah kepada Fathimah binti Qais yang dilamar oleh Abu Jaham dan Mu’awiyah dengan menyebutkan kekurangan mereka masing-masing.

  1. Batasan-batasan ghibah

Berdasarkan pengertian di atas bahwa ghibah jika ada tujuan yang diperbolehkan syara’ maka hal itu boleh saja dan tidak tergolong ghibah yang dilarang oleh agama. Di antara tujuan-tujuan yang diperbolehkan itu adalah:

  1. Melaporkan penganiayaan

Seorang yang dianiaya, berhak melaporkan penganiayaan terhadap aparat yang berwenang, baik presiden, hakim atau siapa saja yang memiliki wewenang untuk menangani kasus tersebut. Sebagaimana kasus yang terjadi pada masa Rasulullah:

حدثنا سليمان بن حرب حدثنا شعبة عن سلمة بن كهيل سمعت أبا سلمة بن عبد الرحمن عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رجلا أتى النبي صلى الله عليه وسلم يتقاضاه فأغلظ فهم به أصحابه فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم دعوه فإن لصاحب الحق مقالا ثم قال أعطوه سنا مثل سنه قالوا يا رسول الله إلا أمثل من سنه فقال أعطوه فإن من خيركم أحسنكم قضاء[16]

  1. Minta tolong untuk merubah kemunkaran

Menggunjing diperbolehkan pula diwaktu meminta pertolongan agar sebuah kemunkaran dapat diubah atau agar seorang yang melakukan maksiat atau kesalahan itu dapat diarahkan ke jalan yang baik kembali.

  1. Meminta fatwa

Meminta fatwa atau penerangan hukum agama adalah salah satu hal yang membolehkan melakukan ghibah sebab hal itu pernah terjadi pada masa Rasulullah ketika seorang wanita yaitu Hindun bin Uthbah menghadap Rasulullah dan melaporkan kekikiran suaminya, Abu Sufyan. Lalu Rasulullah memberinya solusi pemecahan masalahnya dengan mengatakan:

حدثنا محمد بن المثنى حدثنا يحيى عن هشام قال أخبرني أبي عن عائشة أن هند بنت عتبة قالت يا رسول الله إن أبا سفيان رجل شحيح وليس يعطيني ما يكفيني وولدي إلا ما أخذت منه وهو لا يعلم فقال خذي ما يكفيك وولدك بالمعروف[17]

  1. Mengingatkan penipuan  atau menakut-nakuti

Menceritakan kelakuan tidak baik atau trik penipuan seseorang kepada orang lain agar waspada terhadap orang tersebut atau menjauhi agar terhindar dari kejahatannya atau menakut-nakuti orang lain dengan menceritakan kejelekan dan bahaya yang ditimbulkan oleh perbuatan orang tersebut. Semisal para perawi hadis atau ada seorang pedagang yang melakukan penipuan kemudian diceritakan kepada orang lain yang ingin bertransaksi dengannya untuk waspada atau menghindarinya. Atau ada seorang wanita yang ingin menikah dengan orang yang tidak baik kemudian diceritakan kejelekannya supaya terhindar darinya sebagaimana yang dilakukan Rasulullah saw. dalam salah satu hadis yang telah disebutkan di atas yakni:

…أما أبو جهم فلا يضع عصاه عن عاتقه وأما معاوية فصعلوك لا مال له انكحي أسامة بن زيد فكرهته ثم قال انكحي أسامة فنكحته فجعل الله فيه خيرا واغتبطت

  1. Menanyakan seseorang yang lebih dikenal dengan gelarnya.

Menggunjing dengan menyebutkan gelar (negatif) yang lebih dikenal dari pada namanya sendiri itu diperbolehkan dan hal itu banyak terjadi dalam kalangan ulama-ulama besar Islam semisal al-A’masy, al-A’ma, al-A’raj dan gelar-gelar yang menjurus negatif akan tetapi tujuan menyebutkan hanya sebatas pengenalan bukan atas dasar menjatuhkan atau mencela. Jika bukan tujuan di atas, maka menyebutkan sifat atau gelar mereka termasuk ghibah yang dilarang oleh syara’

  1. Menceritakan orang yang sudah dikenal jahat

Seorang yang terang-terangan melakukan kefasikan bahkan bangga dengan perbuatannya itu dapat diceritakan perbuatannya kepada orang lain. Semisal pemabuk, penodong dan sebagainya.[18]

  1. Hukum Ghibah

Jika melihat hadis-hadis yang berbicara tentang ghibah, dapat dipahami bahwa ghibah adalah sesuatu yang dilarang oleh agama, baik al-Qur’an maupun hadis. Al-Qur’an misalnya menggambarkan pelaku ghibah itu bagaikan orang yang makan daging saudaranya dalam keadaan mati.[19] Artinya status hukum ghibah sama halnya dengan makan bangkai karena orang yang dimakan bangkainya tidak merasakan apa-apa sama dengan orang yang dighibah tidak merasakan apa-apa, padahal harga diri seseorang itu bagaikan dagingnya.[20] Sedangkan hadis-hadis yang melarang ghibah  disamping hadis-hadis yang telah disebutkan di atas, juga hadis-hadis berikut:

1-        حدثنا عثمان بن أبي شيبة حدثنا الأسود بن عامر حدثنا أبو بكر بن عياش عن الأعمش عن سعيد بن عبد الله بن جريج عن أبي برزة الأسلمي قال قال رسول الله صلى اللهم عليه وسلم يا معشر من آمن بلسانه ولم يدخل الإيمان قلبه لا تغتابوا المسلمين ولا تتبعوا عوراتهم فإنه من اتبع عوراتهم يتبع الله عورته ومن يتبع الله عورته يفضحه في بيته[21]

2-        حدثنا محمد بن جعفر حدثنا شعبة عن خالد قال سمعت أبا قلابة يحدث عن أبي الأشعث عن عبادة بن الصامت قال أخذ علينا رسول الله صلى اللهم عليه وسلم ما أخذ على النساء أو الناس أن لا نشرك بالله شيئا ولا نسرق ولا نزني ولا نقتل أولادنا ولا نغتب ولا يعضه بعضنا بعضا ولا نعصيه في معروف فمن أتى منكم حدا مما نهي عنه فأقيم عليه فهو كفارة له ومن أخر فأمره إلى الله تبارك وتعالى إن شاء عذبه وإن شاء غفر له[22]

Dengan memperhatikan ayat dan hadis-hadis yang telah dipaparkan, dapat dipahami bahwa ghibah merupakan sesuatu yang diharamkan. Hanya saja, ulama berbeda pendapat tentang apakah ghibah masuk dosa besar atau hanyalah dosa kecil. Sebagian ulama berpendapat bahwa ghibah tergolong dosa besar sementara ulama yang lain mengatakan bahwa ghibah jika dilakukan oleh orang-orang yang tidak menuntut ilmu atau pengkaji al-Qur’an (masyarakat biasa) maka hanya masuk dalam kategori dosa kecil.[23]

Akan tetapi jika melihat hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Sunan-nya: وما يعذبان في كبير أما أحدهما فيعذب في البول وأما الآخر فيعذب في الغيبة maka ghibah tergolong dosa kecil saja, bukan dosa besar namun siksaan bagi pelakunya tetap pedih.

Walaupun demikian, dalam pandangan penulis, hal terpenting dari ghibah bukan terletak pada dosa besar atau dosa kecilnya akan tetapi ghibah merupakan tindakan yang dikecam, baik oleh al-Qur’an, al-Hadis maupun oleh manusia itu sendiri dan merupakan sifat yang harus dihaindari oleh setiap manusia, khususnya umat Islam tanpa memandang apakah orang terpelajar, intelektual atau masyarakat biasa, sebab dampak dari ghibah dapat diarasakan dan dialami oleh siapa saja. Dan siapapun pelakunya akan mendapatkan dosa dan hukuman di sisi Allah swt, sedangkan besar-kecilnya dosa itu adalah wewenang mutlak Allah swt.

  1. Sanksi Ghibah

Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas bahwa ghibah dapat merusak kehormatan orang lain dan dapat memicu perpecahan dan perselisihan di tengah-tengah masyarakat. Oleh sebab itu, sanksi bagi para pelaku ghibah yang dipaparkan oleh hadis-hadis Rasulullah saw. sebagai berikut:

  1. Mendapatkan siksaan kubur.

1-        حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا وكيع حدثنا الأسود بن شيبان حدثني بحر بن مرار عن جده أبي بكرة قال مر النبي صلى اللهم عليه وسلم بقبرين فقال إنهما ليعذبان وما يعذبان في كبير أما أحدهما فيعذب في البول وأما الآخر فيعذب في الغيبة[24]

Hadis di atas menjelaskan bahwa Rasulullah mendengarkan siksaan dari dalam dua kubur yang salah satunya disiksa karena dosa ghibah.

  1. Menghanguskan pahala

2-        أخبرنا عمرو بن عون حدثنا خالد بن عبد الله عن واصل مولى أبي عيينة عن بشار بن أبي سيف عن الوليد بن عبد الرحمن عن عياض بن غطيف عن أبي عبيدة بن الجراح قال سمعت رسول الله صلى اللهم عليه وسلم يقول الصوم جنة ما لم يخرقها قال أبو محمد يعني بالغيبة[25]

Ghibah yang dilakukan oleh orang puasa dapat berdampak pada pahala puasa dimana ghibah akan menghabiskan pahalanya, sehingga dalam hadis tersebut, puasa digambarkan bagaikan bunga atau perlindungan yang sewaktu-waktu dapat dirusak atau dibakar oleh hama ghibah.

  1. Menjerumuskan ke dalam api neraka

3-        حدثنا عارم حدثنا عبد الله بن المبارك عن عبيد الله بن أبي زياد عن شهر بن حوشب عن أسماء بنت يزيد عن النبي صلى اللهم عليه وسلم قال من ذب عن لحم أخيه بالغيبة كان حقا على الله أن يعتقه من النار[26]

Sebenarnya dalam hadis di atas, tidak dijelaskan bahwa orang yang melakukan ghibah akan dimasukkan ke dalam api neraka, akan tetapi dapat dipahami secara terbalik (mafhum mukhalafah) bahwa orang yang menghalau atau menghindari perilaku ghibah maka Allah akan menyelamatkannya dari api neraka berarti orang yang melakukan ghibah tidak akan diselamatkan dari api neraka.

  1. Mengeluarkan bau busuk di hari kiamat.

4-        حدثنا عبد الصمد حدثني أبي حدثنا واصل مولى أبي عيينة حدثني خالد بن عرفطة عن طلحة بن نافع عن جابر بن عبد الله قال كنا مع النبي صلى اللهم عليه وسلم فارتفعت ريح جيفة منتنة فقال رسول الله صلى اللهم عليه وسلم أتدرون ما هذه الريح هذه ريح الذين يغتابون المؤمنين[27]

Salah satu sanksi yang akan diterima oleh pelaku ghibah di hari kiamat nanti adalah dia akan mengeluarkan bau bangkai busuk sebagaimana dia suka memakan bangkai pada saat masih hidup.

  1. Menyiksa diri sendiri.

5-        حدثنا ابن المصفى حدثنا بقية وأبو المغيرة قالا حدثنا صفوان قال حدثني راشد بن سعد وعبد الرحمن بن جبير عن أنس بن مالك قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لما عرج بي مررت بقوم لهم أظفار من نحاس يخمشون وجوههم وصدورهم فقلت من هؤلاء يا جبريل قال هؤلاء الذين يأكلون لحوم الناس ويقعون في أعراضهم قال أبو داود حدثناه يحيى بن عثمان عن بقية ليس فيه أنس حدثنا عيسى بن أبي عيسى السيلحيني عن أبي المغيرة كما قال ابن المصفى[28]

Di antara siksaan atau sanksi yang akan diperoleh oleh orang yang melakukan ghibah adalah dia akan diberi kuku dari besi kemudian melukai, mencakar dan mencabik-cabik muka dan dada mereka sendiri.

Sebenarnya ada sanksi yang banyak ditemukan dalam buku-buku tentang ghibah, bahkan dalam ensiklopedi Islam ditemukan sebuah hadis yang menunjukkan betapa ghibah lebih berbahaya daripada zina karena pelaku zina dapat bertaubat langsung kepada Allah sementara pelaku ghibah harus meminta maaf kepada orang yang dighibah sebelum meminta ampun kepada Allah swt. akan tetapi penulis menemukan hadis tersebut dhaif karena salah satu perawinya adalah matruk atau dhaif yaitu ‘Ubad bin Katsir. Di samping itu, tidak ditemukan hadis-hadis atau sanad yang mendukungnya sehingga tidak bisa dihukumi shahih atau hasan.

6-        حدثنا محمد بن جعفر بن أعين، نا يحيى بن أيوب المقابري، ثنا أسباط بن محمد، عن أبي رجاء الخرساني، عن عباد بن كثير، عن سعيد الجريري ، عن أبي نضرة ، عن جابر بن عبد الله، وأبي سعيد الخدري ، قالا : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « الغيبة أشد من الزنا » . قيل : وكيف ؟ قال : « الرجل يزني ثم يتوب ، فيتوب الله عليه ، وإن صاحب الغيبة لا يغفر له حتى يغفر له صاحبه)[29]

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan, dapat ditarik beberapa kesimpulan terkait dengan makalah ini sebagai berikut:

  1. Ghibah dari segi etimologi adalah sesuatu yang tertutup dari pandangan sedangkan secara terminologi, ghibah adalah menceritakan seseorang pada saat dia  tidak ada dengan sesuatu yang tidak disukai tanpa ada tujuan yang diperbolehkan oleh syariat. Sedangkan batasan-batasan ghibah yang diperbolehkan antara lain adalah melaporkan penganiayaan, minta tolong untuk merubah kemunkaran, meminta fatwa, mengingatkan penipuan  atau menakut-nakuti, menanyakan seseorang yang lebih dikenal dengan gelarnya dan menceritakan orang yang sudah dikenal jahat.
  2. Berdasarkan hadis-hadis Nabi, ghibah tergolong dosa kecil, bukan dosa besar namun siksaan bagi pelakunya tetap pedih.
  3. Di antara sanksi-sanksi yang akan dirasakan oleh pelaku ghibah adalah mendapatkan siksaan kubur, pahala terhapus, dijerumuskan ke dalam api neraka, mengeluarkan bau busuk di hari kiamat dan menyiksa dirinya sendiri.
  1. Implikasi

Hadis-hadis yang telah diteliti dan dikaji dalam makalah ini dapat dijadikan pegangan dalam memberikan definisi tentang ghibah, khususnya dalam menanamkan pemahaman-pemahaman yang benar terhadap masyarakat awam. Ghibah yang dilarang oleh al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi tersebut dapat dijadikan pedoman dan diterapkan pada kondisi sekarang ini, di mana masyarakat terkadang salah memahami apa dan bagaimana ghibah yang sebenarnya. Selain itu, para da’i dan ulama hendaknya memperhatikan dan memberikan pemahaman kepada masyarakat, sementara orang tua harus mendidik anak-anaknya sejak dini agar menjauhi sifat-sifat tercela termasuk ghibah sesuai dengan syariat agama dan hadis-hadis Rasulullan saw. Semoga dengan memberikan pemahaman dan pendidikan seperti itu, mereka akan menjalankan agama dengan baik dan tumbuh menjadi anak yang beriman serta memiliki wawasan keilmuan.

REFERENSI

Abu Abdillah, Malik bin Anas. Muwattha’ Malik. Bairut: Dar al-Kutub Al-Ilmiyah, Tanpa tahun penerbit.

Abu al-Husain, Ahmad bin Faris bin Zakariya. Mu’jam Maqayis al-Lughah. Bairut Lebanon: Dar al-Fikr.

Al-Afriqy, Muhammad bin Mukrim bin Manzhur. Lisan al-Arab. Bairut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Araby, 1996.

Al-Atsqalany, Ahmad bin Ali bin Hajar. Fathul Bary. Bairut Lebanon: Dar al-Fikr, 1414 H./1991 M..

Al-Azdy, Abu Daud Sulaiman bin al-Asy’ats.  Sunan Abi Daud. Bairut Lebanon: Dar al-Fikr, Tanpa tahun penerbit.

Al-Bajiy, Abu al-Walid Sulaiman bin Khalaf bin Sa’ad. al-Muntaqa Syarh Muwattha’ Malik. Bairut: Dar al-Kitab al-‘Araby, 1403 H./1983 M.

Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Raiyadh: Dar ‘Alam al-Kutub, 1996.

Al-Darimy, Abu Muhammad Abdullah bin Abd Rahman. Sunan al-Darimy. Bairut Lebanon: Dar al-Kitab al-Araby, 1407 H.

Al-Ghazaly, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Bahaya Lidah. Alih bahasa Zainuddin dari Ihya’ Ulum al-Din. Jakarta: Bumi Aksara, 1994, Cet. II.   

Al-Ghazaly, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Ihya’ ‘Ulum al-Din. Bairut Lebanon: Dar al-Fikr, Cet. I, 1991.

Al-Haitamy, Ahmad bin Hajar. Tathhir al-‘Aibah min Danas al-Ghibah. Bairut Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1409 H./1988 M.

Al-Mizzy, Abu al-Hajjaj Yusuf bin al-Zakiy. Tahdzib al-Kamal. Bairut: Muassasah al-Risalah, 1980.

Al-Nawawy, Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Syarh al-Nawawy ‘ala Shahih Muslim. Bairut Lebanon: Dar al-Fikr, 1401 H./1981 M.

al-Qazwainy, Abdillah Muhammad bin Yazid al-masyhur bi Ibnu Majah. Sunan Ibnu Majah. Bairut Lebanon: Dar al-Fikr, 1415 H/1995 M.

Al-Qusyairy, Abu al-Husain Muslim bin Hajjaj. Shahih Muslim. Riyadh: Dar ‘Alam al-Kutub, 1417 H/ 1996 M.

Al-Syaukany, Muhammad bin Ali bin Muhammad. Fath al-Qadir. Bairut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1994.

Al-Thabrany. al-Mu’jam al-Aushat. diambil dari CD kitab al-Maktabah al-Syamilah.

Al-Turmudzi, Abu Isa Muhammad bin Isa. Sunan al-Turmudzi. Bairut Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Tanpa tahun penerbit.

Al-Zarqany, Muhammad bin Abd Baqy. Syarh al-Zarqany ‘ala Muwattha’ Malik. Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1411 H./1990 M.

Azra, Azyumardi, dkk. Ensiklopedi Islam. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005.

Finstik, A.Y. Alih bahasa Muhammad Fuad Abd Baqi. Miftah Kunuz al-Sunnah. Lahor Pakistan Barat: Alam Markits, 1391 H/1941 M.

Hambal, Ahmad bin. Musnad Ahmad. Bairut Lebanon: Dar al-Fikr, 1415 H/1995 M.

Wensinck, A.J., dkk. Alih Bahasa Muhammad Fuad Abd Baqi. Mu’jam Mufahras li Alfasz a-Hadis. Leiden: E.J. Brill, 1969.


[1] Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Iman bab al-Muslim Man Salim al-Muslimun min Lisan… (Raiyadh: Dar ‘Alam al-Kutub, 1996), Jilid 1 hal. 13

[2] Al-Qur’an menggambarkan ghibah itu bagaikan memakan daging bangkai saudara sebagaimana dalam surah al-Hujurat ayat 12. sementara dalam hadis-hadis Nabi, ghibah diandaikan sebagai virus yang sewaktu-waktu menyerang dan menghabisi hasil-hasil tanaman dari amal ibadah.

[3] A.J. Wensinck, dkk. Alih Bahasa Muhammad Fuad Abd Baqi, Mu’jam Mufahras li Alfazh a-Hadis (Leiden: E.J. Brill, 1969) Jilid 5 hal. 30

[4] Dr. A.Y Finstik, alih bahasa Muhammad Fuad Abd Baqi, Miftah Kunuz al-Sunnah, (Lahor Pakistan Barat: Alam Markits, 1391 H/1941 M.  hal. 395

[5] Abu al-Husain Ahmad bin Faris bin Zakariya, Mu’jam Maqayis al-Lughah (Bairut Lebanon: Dar al-Fikr) Jilid 4 hal 340.

[6] Ahmad bin Ali bin Hajar al-Atsqalany, Fathul Bary, ((Bairut Lebanon: Dar al-Fikr, 1414 H./1991 M.) Jilid 12 hal 88.

[7] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazaly, Ihya’ ‘Ulum al-Din (Bairut Lebanon: Dar al-Fikr, Cet. I, 1991) Jilid 2 hal 338.

[8] Abu Zakariya Yahya bin Syaraf al-Nawawy, Syarh al-Nawawy ‘ala Shahih Muslim (Bairut Lebanon: Dar al-Fikr, 1401 H./1981 M.) Jilid 16 hal. 142

[9] Abu al-Husain Muslim bin Hajjaj al-Qusyairy, Shahih Muslim (Riyadh: Dar ‘Alam al-Kutub, 1417 H/ 1996 M) Jilid 4 hal 2001. Hadis yang senada dengan hadis di atas terdapat di Abu Isa Muhammad bin Isa al-Turmudzi, Sunan al-Turmudzi (Bairut Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah) Jilid 4 hal 290. Abu Daud Sulaiman bin al-Asy’ats al-Azdy, Sunan Abi Daud (Bairut Lebanon: Dar al-Fikr) Jilid 4 hal 269. Ahmad bin Hambal, Musnad Ahmad (Bairut Lebanon: Dar al-Fikr, 1415 H/1995 M) Jilid 2 hal 230, 384, 386 dan 458 dan Abu Muhammad Abdullah bin Abd Rahman al-Darimy, Sunan al-Darimy (Bairut Lebanon: Dar al-Kitab al-Araby, 1407 H) Jilid 2 hal 299.  Status hadis tersebut di atas shahih karena semua perawinya tsiqah, di samping hadis tersebut memiliki sanad yang banyak.

[10] Muhammad bin Mukrim bin Manzhur al-Afriqy, Lisan al-Arab (Bairut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Araby, 1996) Jilid 1 hal. 654

[11] Bunyi teksnya: …أن تذكر من المرء ما يكره أن يسمع… , Muhammad bin Abd Baqy al-Zarqany, Syarh al-Zarqany ‘ala Muwattha’ Malik (Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1411 H./1990 M.) Jilid 4 hal. 520. Hadisnya shahih.

[12] Abu al-Walid Sulaiman bin Khalaf bin Sa’ad al-Bajiy, al-Muntaqa Syarh Muwattha’ Malik, (Bairut: Dar al-Kitab al-‘Araby, 1403 H./1983 M.) Jilid 7 hal. 311

[13] Musnad Ahmad. Op.Cit. Jilid 6 hal 136.  Hadisnya shahih karena para perawinya tsiqah.

[14] Abu Abdillah Malik bin Anas, Muwattha’ Malik, kitab al-Jami’ bab Ma Jaa fi al-Ghibah, (Bairut: Dar al-Kutub Al-Ilmiyah) hal 538. salah satu perawi hadis ini yaitu al-Mutthalib bin Abdullah bin Hanthab dinilai cacat oleh Muhammad bin Sa’ad dengan mengatakan لا يحتج بحديثه tetapi mayoritas kritikus menilainya tsiqah sehingga hadis ini masih bisa dipertanggungjawabkan. (Lihat Tahdzib al-Kamal, Yusuf bin al-Zakiy al-Mizzy, (Bairut: Muassasah al-Risalah, 1980) Jilid 28 hal. 81).

[15] Shahih Muslim. Kitab al-Thalaq bab al-Muthalliqah Tsalats, Op.Cit. Jilid 2 hal. 1114. Mengenai status hadis tersebut shahih karena semua perawinya tsiqah.

[16] Shahih al-Bukhari, kitab al-Wikalah bab al-Wikalah fi Qadha’ al-Duyun. Op.Cit. Jilid 3 hal. 61-62.  Status hadis ini shahih sebab perawinya tsiqah.

[17] Shahih al-Bukhari, kitab al-Nafaqat bab Idza Lam Yunfiq al-Rajl… Ibid. 6 hal. 193. perawi-perawi hadis ini dapat dipercaya dan tidak ditemukan krikus hadis yang mencelanya sehingga dapat disimpulkan hadisnya shahih.

[18] Zainuddin, Bahaya Lidah yang disadur dan dialihbahasakan dari Ihya’ Ulum al-Din karya al-Ghazaly (Jakarta: Bumi Aksara, 1994, Cet. II) hal. 79-82

[19] Surah al-Hujurat ayat 12 yaitu:

يا أيها الذين آمنوا اجتنبوا كثيرا من الظن إن بعض الظن إثم ولا تجسسوا ولا يغتب بعضكم بعضا أيحب أحدكم أن يأكل لحم أخيه ميتا فكرهتموه واتقوا الله إن الله تواب رحيم

[20] Muhammad bin Ali bin Muhammad al-Syaukany, Fath al-Qadir. (Bairut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1994) Jilid 7 hal. 17

[21] Sunan Abi Daud, kitab al-Adab bab fi al-Ghibah, Op.Cit. Jilid 4 hal 270. juga terdapat di Musnad Ahmad. Op.Cit. Jilid 4 hal 421 dan 424. Hadis di atas dapat dipertanggungjawabkan meskipun ada sebagian ulama yang memberi catatan kepada sebagian perawinya yaitu Abu Bakar bin ‘Ayyasy.

[22] Musnad Ahamd. Op.Cit Jilid 5 hal 320. Status hadisnya shahih sebab perawinya tsiqah.

[23] Ahmad bin Hajar al-Haitamy, Tathhir al-‘Aibah min Danas al-Ghibah. (Bairut Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1409 H./1988 M.) hal. 79

[24] Abu Abdillah Muhammad bin Yazid al-Qazwainy al-masyhur bi Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, kitab (Bairut Lebanon: Dar al-Fikr, 1415 H/1995 M) Jilid 1 hal 123-124. Status hadis tersebut shahih karena semua perawinya tsiqah.

[25] Sunan al-Darimy. Op.Cit. 2 hal 26. Hadis ini hanya mencapai tingkat Hasan karena sebagian perawinya hanya mencapai tingkat مقبول  saja yaitu ‘Iyadh bin Ghuthaif dan Bassyar bin Abi al-Saif, sedangkan Washil hanya mencapai tingkat صدوق.

[26] Musnad Ahmad. Op.Cit. Jilid 6 hal 461. perawi-perawi hadis ini tidak dipermasalahkan oleh kritikus hadis kecuali Syahr bin Hausyab yang dianggap matruk oleh Syu’bah bin al-Hajjaj, sedangkan yang lain menilainya baik. Sementara Ubaidillah bin Ziyad kurang dianggap kuat. Tapi secara umum hadisnya tergolong hasan.

[27] Ibid. Jilid 3 hal 351. Hadis ini hanya ditemukan dalam Musnad Ahmad sedangkan perawinya ada yang mencapai derajat مقبول yaitu Khalid bin ‘Urfuthah, sementara yang berada di tingkat  صدوق adalah Thalhah bin Nafi’ dan Washil. Dari keterangan ini, hadis tersebut masuk kategori hasan.

[28] Sunan Abi Daud, Op.Cit. Jilid 4 hal. 269. Semua perawi hadis di atas dapat dipertanggungjawabkan meskipun ada yang hanya mencapai tingkat صدوق yaitu Ibnu al-Mushaffa dan Baqiyyah bin al-Walid. Walau demikian hadisnya tidak berarti dhaif tetapi masuk dalam status hasan.

[29] Imam al-Thabrany, al-Mu’jam al-Aushat, Jilid 6 hal. 348. diambil dari kitab al-Maktabah al-Syamilah. Dan lihat Azyumardi Azra dkk, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005) Jilid 2 hal. 213. Hadis ini dhaif karena Ubad bin Katsir termasuk perawi matruk.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: